Story About Dream

Kau tahu, kawan, bagaimana rasanya menginjakkan kaki ke suatu tanah yang kau impikan, yang tidak pernah kau bayangkan kau akan menjelajahinya. Terlebih aku, orang yang selalu hanya bisa bermimpi untuk pergi keluar dari negara ini. Mana pernah aku membayangkan akan naik pesawat Garuda Indonesia GA882 dan GA885 yang mengangkut penumpang menuju Bali untuk transit, dan menuju Negara matahari terbit, Jepang. Bahkan naik pesawat sekalipun aku tidak pernah. Jangankan pesawat, pergi ke bandara saja aku tidak pernah. Ah, aku pernah, sekali. Saat aku TK kecil, aku ikut darmawisata ke bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Bukan untuk naik pesawat, Kawan. Hanya melihat rupa pesawat terbang itu seperti apa.. Yah, itu saat darmawisata TK kecil. Siapa sangka, sekitar 12 tahun kemudian aku diberik kesempatan Tuhan untuk benar-benar menaiki burung besi itu. Dan bukan untuk berjalan-jalan ke pulau-pulau di Indonesia, tetapi keluar Negara ini.. Mana aku pernah membayangkan?

            Ada lagi. Mana pernah aku memiliki paspor atau setidaknya berurusan dengan imigrasi. Melihat muka paspor saja aku tahu dari buku pedoman belajar ke luar negeri. Mungkin bagi sebagian orang, pergi dengan pesawat—minimal—atau pergi ke luar negeri adalah hal yang sangat mudah dilakukan. Namun untukku yang hanya anak SMA biasa yang orangtua hanya seorang wiraswasta yang tak tentu gajinya dan ibu yang ibu rumah tangga, pergi ke luar negeri adalah suatu hal fantastis yang mungkin hanya bisa dibawa ke mimpi. Terkadang ada saudara-saudara ibuku yang berkata jika bisa hidup dengan nyaman di Indonesia saja sudah bersyukur, tidak perlu ke luar negeri. Melihat luar negeri dari internet atau televisi saja sudah cukup, tidak perlu repot-repot pergi ke sana langsung. Namun kau tidak sependapat. Harus aku akui, Kawan, aku bukan tipikal anak muda Indonesia pada umumnya. Aku suka dengan tentangan, perubahan, dan hal yang tidak biasa. Aku selalu ingin tahu apa yang terjadi di belahan bumi lain ketika kita tidur, atau ketika kita sibuk memikirkan bagaimana caranya kita bisa mendapat nilai sembilan dalam ulangan matematika. Passion-ku tentang kehidupan di luar negeri memang sudah ada sejak aku duduk di bangku SMP. Tidak ada yang mengajariku atau menyuruhku memiliki kesukaan seperti itu. Berawal dari kecintaanku terhadap komik-komik Jepang dan anime-enime Jepang, keinginanku pergi ke Negara itu semakin menjadi-jadi. Aku senang membaca buku traveling atau belajar ke luar negeri, melihat acara keliling dunia di televisi, hingga mendengar kisah-kisah orang yang pernah pergi ke luar negeri. Aku anak SMP gila yang berambisi pergi ke luar negeri, atau setidaknya Jepang. Tak sedikit teman yang menyangsikan kalau aku bisa pergi ke luar negeri. Dan aku pun sempat merasa bahwa aku ini hanyalah seorang pemimpi. Namun, kata-kata ‘bahwa aku adalah seorang pemimpi’ itulah yang membawaku menuju impianku.

            Bermula ketika aku kelas X, di mana saat-saat aku sangat bersemangat mengikuti organisasi di sekolah. Aku ikut seleksi OSIS di sekolahku yang membutuhkan waktu 1 tahun untuk benar-benar menjadi seorang pengurusnya—hanya 18 orang pula yang akan menjadi pengurus OSIS. Di tengah-tengah kesibukanku dalam seleksi pengurus OSIS, ada tawaran dari organisasi nirlaba yang memberikan beasiswa ke luar negeri. Bingo! Ini adalah kesempatanku. Aku ikut mendaftar, namun yang ada di pikiranku adalah : Aku tidak mau ngoyo, kalau keterima ya Alhamdulillah, kalau ngga ya ngga apa-apa.. Lagipula saat itu konsentrasiku masih terarah pada seleksi calon pengurus OSIS. Aku lupa bahwa impianku berada di depan mataku. Aku mengikuti seleksi tingkat chapter atau region—di tingkat itu ada 3 seleksi—dan dilakukan dalam sistem gugur. Well, aku hanya melakukan seleksi sesuai kemapuanku. Sekali lagi, Kawan, aku tidak mau ngoyo. Tapi berkat usaha—yang tidak ngoyo tapi sungguh-sungguh—dan bisikan mimpiku yang selalu tertanam dalam hati, ketiga seleksi tingkat region itu dapat kutaklukkan dengan lumayan mudah. Dan sayangnya, adik kembarku—yang sebenarnya kemampuannya lebih dari aku—harus tersisih di seleksi tahap 2. Tapi dia malah memberiku kata-kata semangat yang membawaku meraih mimpiku : “Aku ngga lolos, berarti kamu membawa mimpi satu orang lagi..”

            Kupikir aku akan langsung diberangkatkan setelah lolos tahap itu. Ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Masih ada seleksi-seleksi lagi di tingkat nasional dan internasional yang membutuhkan pikiran ekstra. Aku harus pontang-panting bolak-balik ke dokter untuk mengurus surat keterangan sehat, bolak-balik pula ke tempat scan data, dan bolak-balik lagi ke kantor pos untuk mengirim berkas. Waktu ‘tunggu’ ku sebelum mendapat kepastian berangkat kira-kira selama 8 atau 9 bulan. Dan di masa-mas itu hanya ada rasa ‘galau’ dalam hati ketika melihat satu-persatu teman-teman seperjuangan mendapat penempatan di Negara-negara Eropa dan Amerika. Kuberitahu saja, Kawan, aku hanya memilih Jepang sebagai negara tujuanku. Karena memang itulah mimpiku. Dan sebagai intermezzo saja, dari region Semarang, tempatku melakukan tes, ada sekitar 800 pendaftar dari tahap pertama, dan hanya 22 yang sampai ke seleksi tahap akhir, dan hanya 8 orang yang benar-benar berangkat. Aku salah satunya. Hehehe..

            Setelah lama menunggu akhirnya muncul kabar bahwa satu-satunya peluang beasiswa yang tersisa—yaitu beasiswa dari pemerintah Jepang, JENESYS, untuk mengunjungi dan belajar di Jepang selama 2 minggu—sudah mengeluarkan pengumuman siapa saja yang akan berangkat. Salah satu teman sesekolahku mendapat kabar pertama. Aku sempat down ketika aku tidak mendapat kabar hingga waktu berlalu 2 hari semenjak teman sesekolahku itu mendapat pengumuman keberangkatan. Selama 2 hari itu, yang aku lakukan hanya mengurung diri di kamar, berdoa, mendengarkan lagu, dan menunggu suara sepeda motor pak pos berhenti di depan rumah. Dan mimpi itu memang membawa pada keajaiban. Aku skhirnya mendapat surat yang menyatakan bahwa aku terpilih dalam program beasiswa ke Jepang selama 2 minggu. Setelah itu aku diwajibkan mengisi banyak hal. Mulai dari berkas keberangkatan, visa paspor, dan lain sebagainya. Ada cerita menarik dalam pembuatan pasporku, Kawan. Saat itu kami, kandidat penerima beasiswa diwajibkan mengirim paspor asli ke kantor nasional pemberi beasiswa hanya dalam waktu 5 hari. Sudah kuceritakan sebelumnya kan, aku tidak pernah punya paspor. Jangankan punya, melihat langsung saja tidak pernah. Tapi temanku yang dari satu sekolah yang juga lolos itu, ia adalah anak seorang pegawai militer—aku tidak tahu jabatannya apa, tapi yang pasti beliau termasuk orang yang ada di atas—yang punya akses ke kantor imigrasi. Aku harus menyiapkan berkas keperluan pembuatan paspor dalam waktu 1 malam saja! Yang agak susah adalah surat keterangan dari sekolah. Entah kenapa, susah sekali meminta surat keterangan dalam waktu sehari saja. Padahal aku benar-benar bersekolah di situ, sudah 2 tahun, dan surat keterangan bahwa aku sekolah di situ hanya tinggal print saja. Yah, aku anggap hal itu menguji kesabaranku… Dan setelah hal-hal ajaib yang aku temui hari itu, Kawan, aku sangat terkejut karena paspor bisa jadi dalam waktu 3 hari saja, dan dalam biaya standar! Subhanallah! Kalau tidak karena kekuatan doa, pasti mukjizat itu pasti tidak akan terjadi. Aku lega karena tidak sampai dateline untuk pengumpulan paspor itu. Aku sangat berterima kasih pada teman sesekolahku itu. Bagaimana nasibku jika tidak ada dia?

            Setelah menunggu beberapa bulan, akhirnya aku mendapat kepastian pemberangkatan. Tanggal 5 Desember 2011 adalah hari di mana aku akan terbang menuju mimpiku. Allah Maha Besar. Dan di sela-sela persiapan keberangkatan—yang pastinya sangat repot, terutama ibuku—datang banyak surat mengenai asuransi, jaminan keberangkatan, jadwal, dan yang sangat berkesan : placement, atau penempatan. Taukah Kawan, di mana aku akan mendapat host family? Di daerah Osaka, tempat banyak idolaku berasal. Seperi grup band Larc en Ciel.. :p

            Aku harus mengikuti orientasi sebelum keberangkatan yang diadakan di derah Fatmawati, Jakarta Selatan selama 3 hari. Di sana, aku bertemu 55 anak lainnya dari berbagai wilayah di Indonesia. Aku sudah menduga, yang namanya orientasi pasti isinya ‘pembelajaran’ baik dari pembicara handal maupun dari senior. Yan terakhir itu pasti membuat siapapun bergidik. Hahahaha.. Namun berkat pengalaman OSIS—kuberitahu bahwa aku juga berhasil menjadi salah satu dari 18 pengurus besar OSIS di sekolahku—aku agak tenang menghadapi apa yang diberikan di orientasi. Yang sangat berkesan dari orientasi, Kawan, saat kami berlatih talent show atau pertunjukan yang akan kami tunjukkan kepada orang tua kami saat acara perpisahan atau farewell party. Dan dari awal orientasi memang orang tuaku tidak ikut ke Jakarta karena ada alasan yang sebenarnya menyangkut masalah finansial. Yah, beginilah keadaanku.. Dalam talent show, aku memainkan gitar bersama seorang teman laki-laki dari Bogor.  Padahal aku anak perempuan masih sangat awam dalam bergitar. Tapi aku nekat saja. Aku lebih memilih gitar daripada menyanyi atau menari. Hahahaha..

            Dan well, singkat cerita, akhirnya aku benar-benar terbang ke negeri matahari terbit, Jepang. Sungguh tidak pernah aku sangka sebelumnya. Aku, seorang anak desa yang tidak pernah pergi ke bandara seumur hidup—kecuali saat darmawisata TK—bisa terbang ke negara orang yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Kuberitahu, Kawan, dalam 2 mingguku ke Jepang, aku tidak ditagih biaya apapun, kecuali uang saku. Dan aku mendapat uang saku juga dari pemerintah Jepang. Itu artinya, aku pergi ke sana dengan nol rupiah, alias gratis! Siapa yang tidak terharu? Mimpi semasa kecil yang terus aku bawa hingga sekarang, akhirnya benar-benar terwujud. Bukan merupakan wisata atau jalan-jalan ke luar negeri dengan biaya sendiri, namun belajar ke luar negeri dengan biaya nol rupiah, hanya berbekal semangat, doa, dan mimpi orang-orang di sekelilingku. Melihat berbagai kuil terkenal di Jepang, Hiroshima Peace Museum, Osaka Castle, naik shinkansen, melihat Tokyo Tower, berjalan-jalan di Odaiba, mencoba berbagai macam makanan Jepang, hidup bersama keluarga Jepang, dan banyak yang tidak bisa tertuang di sini. Satu kalimat yang sangat mujarab dan ajaib bagiku : Mimpi akan membawa kita pada keajaiban.

Saya yang Pemimpi,

Akhir bulan April 2012Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s