6 Favorite Indonesia Book

Setiap orang memiliki kegemaran sendiri-sendiri. Saya suka membaca. Dan berikut ini adalah “enam besar” buku Indonesia favorit saya yang mungkin juga buku favorit kamu. 😀

1.      Supernova Series

supernova series - dee

supernova series – dee

Tetralogi—sampai saat ini, sih—Supernova ini memang bikin saya melek lagi soal novel Indonesia yang bermutu. Awalnya saya mengenal buku ini dari “isu” di internet. Dan, waktu itu saya masih SMP. Masih awam banget soal internet, sih. Kalau tidak salah waktu saya kelas tujuh SMP. Novel Supernova yang saya tahu pertama kali itu novel seri kedua, Akar. Nggak mudeng sih, waktu itu tapi saya senang saja enjoying the book karena pertama, saya tertarik dengan temanya yang “bukan novel Indonesia yang begitu-begitu aja”. Kedua, saya tahu Dee Lestari sebagai penyanyi idola ibu saya, dan ketiga, karena genre novel itu yang saya sangka sebagai science fiction—waktu itu saya tergila-gila dengan novel dan film science fiction apapun—ternyata “memang” science fiction tapi rasa “sastra”. Dan baru saya sadar sekarang jika ternyata serial Supernova bukan hanya sekedar “sastra”, tetapi lebih banyak ke filsafat. Mana tahu anak SMP tentang filsafat.

Saya mulai “benar-benar membaca” saat saya duduk di bangku SMA. Saat itu saya tidak hanya tergila-gila pada buku dan film science fiction, tapi merambah ke genre lain seperti: sejarah, autobiografi, kumpulan cerpen dan prosa, hingga buku terjemahan populer. Kemajuan, lah. Dan saya mulai membaca Supernova seri pertama: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Saya menemukan suatu hal lain yang tidak saya dapat di novel lain. Apa ya, seperti perasaan jika cerita di dalam buku itu nyata dan tokoh-tokohnya sedang berkeliaran di sekitar kita. Membuat saya berpikir untuk terus bertanya, dan berpikir untuk mengatakan “iya juga, ya”. Membuat saya sadar juga jika “saya belum mengerti apa-apa”. Banyak teman yang menghampiri saya dan berkata: Kok bacaanmu berat gitu, sih. Saya jawab: Kalau nggak ngerti inti sarinya ya, jadi berat. Hahaha.

Yap intinya, Supernova series adalah “patokan” menulis saya hingga saat ini. Gaya bahasa yang lugas, cerdas, dan berbeda serta alur cerita yang kompleks dan menantang membuat buku ini menduduki peringkat pertama daftar buku favorit saya. Thanks anyway to Mbak Dee yang menyadarkan saya tentang alam yang harus terus ditanya. 🙂

2.      Madre

madre

madre – dee

Lagi-lagi dari tulisan Ibu Suri Dee Lestari. Kali ini bukan novel , tetapi novelet. Alias novel pendek dan terdiri dari berbagai cerita. Yang saya tahu sih, namanya “kumpulan cerpen”. Tapi ternyata ada nama yang lebih keren. Hahaha… Madre ini memiliki gaya bahasa yang lebih ringan dari tulisan Mbak Dee sebelumnya, Supernova. Bercerita mengenai kehidupan sehari-hari yang tidak kita sangka akan menjadi penting jika dilihat lebih mendalam. Cerita utamanya tentu “Madre”. Tidak ada yang bisa membuat cerita menarik mengenai biang atau ragi kue selain Dee Lestari. Untuk kamu yang menyukai bacaan bermutu tetapi tidak mau “pusing”, bisa memilih Madre sebagai referensi selanjutnya. 🙂

3.      Filosofi Kopi

filosofi kopi - dee

filosofi kopi – dee

Mengangkat banyak hal  biasa dan kadang hal yang tabu untuk diangkat menjadi sebuah tulisan, lagi-lagi keahlian Dee Lestari. Tertuang pula dalam kumpulan cerpen ini. Entah kenapa memang saya penggemar berat tulisan cerdas Dee. Lihat saja, sampai urutan buku ketiga favorit saya pun, saya masih menenggerkan satu lagu kumpulan cerpen Dee. Model ceritanya mirip Madre. Tentang fenomena biasa namun diulik sedemikian rupa sehingga menjadi pembahasan yang unik untuk ditelaah dan diceritakan lebih lanjut. Saat kita minum kopi, tidak ada hal yang lebih penting dari rasa kopi itu sendiri kan? Atau mungkin gengsi yang diciptakan dari kopi tersebut. Beli di mana? Harganya berapa? Tipe kopinya? Namun di cerpen “Filosofi Kopi”, kita bisa mendapat lebih dari apa yang kita pikirkan saat kita meminum secangkir kopi di sore hari. 🙂

4.      Rectoverso

rectoverso - dee

rectoverso – dee

Saya paling tidak bisa nyambung jika ada pembicaraan mengenai cinta. Bukan apa-apa, sih, tapi saya memang tidak tertarik dengan apa yang disebut “cinta”. Kecuali cinta pada orang tua, Tuhan, dan keluarga. Jadi saya awalnya tidak tertarik dengan Rectoverso karya Dee karena saya tahu jika temanya cinta. Tapi saya berpikir lagi, “yang nulis Dee lho”. Walhasil, saya akhirnya membaca kumpulan cerpen ini. Dan—saya tidak salah. Kumpulan cerpen dan lirik lagu ini berhasil menyadarkan saya jika “cinta” itu tidak begitu-begitu saja. Ditambah ilustrasi yang indah dan lirik lagu yang pas dengan masing-masing bab cerita, saya mengakui buku ini sebagai peringkat keempat daftar buku favorit saya. 🙂

5.      Mahabharata

mahabharata

Saya termasuk fans berat epos sastra ini. Saya selalu tertarik dengan semua hal berbau Mahabharata. Saya sudah membaca beberapa versi. Mulai dari versi asli (India), versi India yang disadur, versi Jawa, hingga versi per bab-nya. Seperi cerita tentang hubungan Arjuna dan Karna yang ternyata kakak adik, hingga tentang perang Bharatayudha. Jangan anggap jika buku model seperti ini adalah buku kuno dan tidaj menarik. Bagi saya, justru sebaliknya. Buku dari kitab kuno, setting tempat kuno, peraturan kuno, namun memiliki nilai historis, sastra, dan bahasa yang tinggi. Saya sangat takjub ketika pertama kali membaca Mahabharata. Saya awalnya berpikir seperti anak muda kebanyakan: ini akan membosankan. Namun ternyata, saya dibuat tergila-gila untuk terus mencari rincian peristiwa per babnya. Sangat unik, ketika sebuah epos sastra klasik yang notabene berasal dari kitab suci umat Hindu, dituangkan dan diruangkan menjadi sebuah karya sastra bernilai moral, pelajaran dan “novel” modern yang berkualitas tinggi.

6.      Tetralogi Laskar Pelangi

tetralogi-laskar-pelangi-indonesiaproud

Jujur, saya tidak memiliki satu pun buku dari tetralogi Laskar Pelangi. Saya meminjam semua. Alasannya? Buku tetralogi ini harganya sangat mahal, bahkan sebelum filmnya sukses di pasaran. Ya, saya sudah mulai membaca buku ini sebelum filmnya muncul. Namun buku ini sudah menjadi best seller beberapa kali. Setelah saya menamatkan semua serinya, baru film pertama “Laskar Pelangi” muncul. Yah, meski saya sedikit tidak puas dengan filmnya, tetap saya nikmati karena Laskar Pelangi adalah novel favorit saya yang pertama kali difilm-kan.

Mengambil tema unik dan merakyat, novel separuh autobiografi ini menjadi populer karena ceritanya yang simpel, namun sangat menginspirasi. Seorang anak desa yang miskin yang memiliki cita-cita setinggi langit, dan berhasil mendapatkannya dengan usaha yang keras. Dan, novel ini sukses menginspirasi saya secara penuh untuk terus mengejar impian saya walaupun sepertinya mimpi itu tidak mungkin dikejar. Novel ini menjadi bagian penting dalam keberhasilan saya memperoleh beasiswa ke Jepang tahun 2011 lalu. 🙂

Yup, dari keenam buku favorit saya itu, empat di antaranya adalah karya Dee Lestari. Saya memang sangat mengidolakan tulisan penulis satu ini. Cerdas dan menantang. Tapi terlepas dari apapun, saya sudah membaca banyak buku Indonesia mulai dari buku-buku Tere Liye, A. Fuadi, Iwan Setyawan, Asma Nadia, Efi F. Erifin, Eliza V. Handayani, N. H Dini, Ilana Tan, Andy F. Noya, dan lain sebagainya. Dan kesimpulan saya adalah: tiap buku memiliki karakteristik tulisan, gaya bahasa, dan alur cerita yang berbeda-beda, tergantung dari genre, penulis, dan kapan buku itu ditulis. Setiap karya pasti memiliki kekurangan atau kelebihan, tergantung juga dari sudut pandang pembaca. Kita sebagai warga Indonesia, sebaiknya memberi apresiasi untuk penulis nasional dan lokal kita, dimulai dengan membaca buku-buku negeri sendiri. Jika kita membuka mata, karya sastra dalam negeri sebenarnya tidak kalah dari karya sastra populer di dunia. Alasannya karena, karya sastra dalam negeri ini berakar dari karakteristik “our own nation”, “tanah air kita”. Rasa yang didapat tentu lebih manis jika kita menikmati karya yang “benar-benar milik kita”, the truly ours. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s