Ramadhan ala Indonesia

Saya terheran-heran melihat kenyataan “mencengangkan” yang terjadi di Indonesia saat bulan Ramadhan. Banyak aktivitas “dadakan” yang dilakukan orang-orang. Padahal biasanya mereka tidak lakukan itu saat bulan-bulan biasa. Mereka yang setiap pukul delapan malam biasanya online, tahu-tahu rajin ke masjid—dan itu terjadi sekitar tujuh hari pertama saja. Sisanya? Online lagi. Di pinggir jalan raya tahu-tahu berubah menjadi pasar dadakan saat pukul empat sore. Jika kita berjalan-jalan ke mall atau ke pasar, pemandangan toko baju berubah menjadi pakaian-pakaian muslim wanita warna-warni yang minim jahitan alias mirip gorden. Acara-acara di TV mendadak religius. Sinteron yang tahu-tahu tokoh antagonisnya bertobat dan pergi umroh—dalam waktu singkat bisa pergi umroh lho!—atau artis-artis yang balapan memakai hijab—entah hijab betulan atau hijab-hijaban—dan berasa lebih sering mengucapkan kata seperti “alhamdulillah” atau “insyaallah”.

Apa yang sebenarnya terlintas dalam benak manusia Indonesia saat mendengar kata “ramadhan”? Saya tidak yakin jika jawaban yang akan mereka utarakan adalah “ibadah”. Bahkan saya rasa sangat jarang orang akan menggunakan istilah “bulan ramadhan” dan malah lebih sering menggunakan frasa “bulan puasa”. Itu artinya, manusia kita lebih memaknai bulan ramadhan sebagai “bulan untuk puasa” yang kita tahu sebagai satu kewajiban untuk umat Muslim. Benarkah?

Kalu benar, kenapa saat ramadhan berjalan dua minggu sudah banyak iklan yang mengucapkan “minal aidin wal faizin”? Kenapa sudah ada arisan paket parsel lebaran saat ramadhan baru memasuki hari ketiga? Kenapa tiket kereta api dan pesawat sudah sold out bahkan hingga satu bulan setelah ramadhan? Kenapa banyak orang yang sudah menuntut pembayaran THR saat dua minggu sebelum Idul Fitri? Kenapa mall sudah ramai oleh keluarga yang hunting baju baru padahal belum tentu puasa mereka full? Apakah orientasi lebih dari separuh manusia Indonesia saat bulan ramadhan adalah pada “akhir bulannya” atau Idul Fitri?

Menengok tentang Idul Fitri, kata tersering yang saya dengar dari orang lain adalah “mudik” dan “blahblahblah baru”—entah baju, sarung, mukena, smartphone. Sebegitunyakah poin Idul Fitri di mata manusia Indonesia? Dengan mengatasnamakan “silaturahmi”, setiap tahun ratusan ribu warga ibukota negara kita tercinta ini berbondong-bondong memadati jalan-jalan besar menuju ke “jawa”. Saya bertanya pada diri saya sendiri, seandainya saya berada jauh dari orang tua, apakah saya HARUS pulang menemui mereka SAAT Idul Fitri? “Atas nama silaturahmi, itu harus”. Tidak pernah ada ayat seperti itu di hadis atau di Al Quran manapun. Saya tidak tahu apakah ada alasan tertentu yang melatarbelakangi tardisi mudik ini. Yang pasti, mudik sudah menjadi bagian dan warna Indonesia saat akhir ramdhan. Warna untuk program berita TV yang hampir setiap jam sekali menayangkan “pantauan arus mudik” yang padahal mau macet atau tidak, mau dialihkan jalannya atau tidak, para pemudik memang harus mudik, dan pasti pergi mudik, kan?

Saya juga sempat berpikir, salut dengan mereka yang masih menjalani aktivitas kerja seperti biasa bahkan di hari raya Idul Fitri. Mereka yang membunuh rasa kangen keluarga dan mencekik rasa ingin menikmati opor ayam masakan ibunya di kampung. Saat banyak orang tergesa-gesa memasukkan pakaian-pakaian mereka ke dalam tas untuk dibawa mudik, mereka yang hebat ini dengan santai berjalan melengang menuju tempat bekerja tanpa ada beban apapun. Saya menyadari sebenarnya mereka ingin seperti orang lain yang bisa shalat berjamaah Idul Fitri dengan ayah ibu di sampingnya. Tapi saya lebih menyadari dedikasi mereka yang tinggi terhadap kewajiban mereka yang membuat saya berani mengajungkan lima jempol—bagaimanapun caranya—kepada mereka.

Saya sering tergeli-geli sendiri saat melihat ironi di balik lahan-lahan kosong di pinggir jalan jalur pemudik yang berubah menjadi “posko mudik”. Saya setuju dengan tujuan mereka untuk membantu pemudik yang kelelahan selama perjalanan. Namun saya sinis dengan tujuan beberapa oknum yang memasang wajah caleg-caleg partai tertentu dengan senyum “khas bakal caleg” dan nomor urut yang terlampau besar di atas atau di bawah foto mereka. Bahkan, momen Idul Fitri juga dijadikan kampanye. Ini tidak akan saudara-saudara temukan selain di negara kita tercinta ini. Namun tidak semua posko mudik memasang foto caleg. Beberapa memasang merek produk tertentu. Sama saja menurut saya. Sulit menemui posko mudik ini yang benar-benar pure berasal dari organisasi tertentu tanpa mengunggul-unggulkan tujuan tertentu di baliknya.

Itulah beberapa ironi sekaligus keajaiban yang terjadi di bulan ramadhan yang HANYA akan terjadi di Indonesia. Bagaimanapun, menurut saya, inti dari bulan ramadhan dan Idul Fitri adalah untuk beribadah. Titik. Untuk sebagian orang yang lebih berorientasi pada “lebaran dan apa-apa baru” dan melupakan ramadhan, selamat, bulan ini akan sama saja dengan bulan-bulan lain dalam setahun.

Quote: Think “fight” before “eat”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s