Remaja “Kekinian” dan “Endemik”

Awalnya saya berpikir akan enak menjadi manusia remaja. Berada di tengah-tengah dua fase hidup yang namanya “childhood” dan “mature”. “Childhood” dengan ketergantungan total pada orang tua, dan “mature” di mana kita akan digantungkan oleh orang-orang baru dalam kehidupan kita yang disebut “keluarga”. Di masa remaja ini—bayangan saya waktu itu—kita bebas menjalani apapun yang kita mau. Melakukan apapun yang saat “childhood” dulu hanya bisa kita andai-andaikan, dan saat “mature” nanti hanya bisa kita putar balik sebagai sebuah memori.

Saat sampai ke tahap remaja, rasa-rasanya hal-hal bahagia yang saya andai-andaikan sebelumnya itu, hanya terjadi sekitar delapan puluh persen. Mungkin ada yang berpikiran jika itu adalah salah saya atau orang-orang yang setipe dengan saya, yang terlalu “serius” menyikapi aktivitas-aktivitas “endemik” yang dilakukan remaja saat ini. Namun saya akui jika saya sulit untuk terseret ke aktivitas-aktivitas endemik itu. Aktivitas endemik itu seperti apa? Sebelumnya berani saya katakan jika aktivitas endemik ini saya lihat dari sudut pandang saya terhadap remaja-remaja Indonesia.  Saya tidak mau sok tahu menceritakan apa yang terjadi di negara lain karena saya belum pernah menjadi bagian dari kehidupan mereka dalam waktu yang lama.

Saya pernah mempelajari teori komunikasi yang bernama Ekologi Media di mana teori itu menyebutkan jika manusia saat ini sangat tergantung dengan teknologi, dan tidak bisa lepas dari media. Seberusaha apapun manusia menjauhi makhluk bernama “teknologi” dan “media”, kedua frasa itu akan semakin mengejar kita. Langsung saya menyetujui teori itu. Lihat saja, apa yang kita lakukan saat pertama kali bangun tidur? Sebagian besar remaja kan menjawab “merapikan tempat tidur” atau “mandi”. Namun mereka lupa akan suatu hal. Hal yang sampai dilupakan karena “saking terbiasanya”. Jika saya berkata berapa orang yang membuka sosial media—apapun—setelah bangun tidur? Pasti banyak remaja yang akan berpikir ulang lalu menemukan kebiasaan kecil setiap pagi yang sampai terlupa “saking terbiasanya”. Saya sampai mengulang kata “saking terbiasanya” karena itulah yang menjadi kunci dari “aktivitas endemik”.

Tidak ada remaja saat ini yang memiliki satu jenis akun saja di sosial media. Jumlah konsumsi mereka terhadap teknologi satu ini saya pastikan mengalahkan jumlah populasi manusia se-Indonesia. Sebenarnya tidak bisa menyalahkan remaja juga, karena hal ini juga disebabkan oleh perusahaan telekomunikasi yang berlomba-lomba menciptakan aplikasi sosial media “gratis, gaul, dan gampang”. Memihak pada ketergantungan remaja pada sosial media. Bisa dikatakan, sosial media merupakan “kebutuhan” dan “keharusan” untuk remaja saat ini yang memiliki aktivitas endemik. Kenapa endemik? Karena itu menular. Membuat terbiasa. Jika seorang remaja tidak punya akun ‘ini’ maka ia ‘cupu’. Jika seorang remaja tidak punya akun ‘itu’ maka ia keterbelakangan. Mengatasnamakan “gaul” dan “kemasa-kinian” untuk menjadi pelahap teknologi dan terus menularkan kepada sesamanya.

Endemik yang lain, masih banyak. Suatu saat, saya sedang membuka “akun yang berkicau” saya. Hampir semua kicauan yang saya lihat di sana memuat kata: “nonton”, “bisokop”, dan “New Moon”. Iseng, saya tanya kepada teman di sebelah saya: Sudah nonton New Moon? Ia menjawab: Sudah, dong! Saya penasaran, lalu mengorek lagi: Emang apa bagusnya? Teman saya menjawab lagi: Itu lagi rame, semua orang nonton. Ya, aku juga nonton. Sebegitu kuatkan aktivitas endemik dalam tanda kutip “nonton” di kalangan remaja ini? Saya berpikir, pasti pegawai dan pengusaha bioskop kaya raya, ya. Setiap melempar kata “film bagus” atau “film Hollywood yang masuk Box Office” untuk film yang mereka sajikan, seketika itu juga orang-orang—yang kebanyakan remaja—akan berbondong-bondong menyerbu loket tiket untuk “dulu-duluan” menonton film itu demi bisa menceritakan separuh isi film dan separuh isi pengalamanannya jalan-jalan ke bisokop A yang ada di Mall B yang katanya harga tiketnya lebih mahal karena menggunakan kursi nyaman dan gambar kualitas 3D. Remaja lain yang merasa “keduluan” kamudian pergi secepatnya untuk “nonton” demi untuk bercerita lagi pada orang lain yang belum “nonton”, sehingga yang belum “nonton” itu ingin “nonton” juga. Itulah siklus hidup. Berputar dari awal ke akhir, kembali kagi ke awal. Itulah satu lagi aktivitas endemik remaja.

Saya hobi membaca buku. Dan makhluk bernama “endemik” yang menjangkiti remaja ini juga “nemplok” di sini. Ada teman saya yang membawa sebuah buku. Benar-benar “dibawa” padahal tas mereka masih cukup longgar untuk sebuah buku lagi. Iseng, saya baca judulnya. Saya yakin jika dia adalah orang ke-sembilan belas yang membawa buku itu di luar tas. Saya tanya: Bagus, ya, bukunya? Jawabnya: Aku suka yang nulis. Lagi terkenal orangnya. Mana lucu dan ganteng lagi. Seumur-umur saya menjadi pelahap buku, penulis model seperti itu buanyak. Genre komedi, penulis terkenal, buanyak. Tapi kenapa remaja-remaja ini begitu bangga menenteng buku populer itu sehingga sampai tidak rela dimasukkan ke dalam tas? Kuncinya ada di kalimat ini: buku ini sedang terkenal, penulisnya juga terkenal. Kalau tidak baca berarti tidak masuk kategori “remaja masa kini”. Saya yang sangat maniak membaca dan terhitung “pemilih” dalam mencari bacaan bermutu, di-list sebagai “remaja bukan masa kini” oleh mereka. Tapi boleh saya katakan, jika ini adalah salah satu bentuk lain dari aktivitas endemik remaja.

Masih banyak contoh lain tentang aktivitas endemik remaja. Nonton konser, berbusana “distro” atau “online shop”, pegang gadget “newest and price-est”, hingga makan di tempat “moderat” bagi kantong rata-rata.

Saya tidak menuduh satu golongan apapun. Namun saya hanya menuliskan hal yang saya amati selama ini dan mengusik pikiran saya. Silakan Anda, kamu, saudara, atau remaja-remaja di sana mengambil hal-hal apa yang sesuai. Karena pada akhirnya apakah kita termasuk orang yang “ter-endemik” atau tidak, kita sendiri yang membentuk pandangan orang lain.

Quote: Be your own self or you will be smallpox.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s