Yang Terpikir tentang Cita-Cita

Waktu umur lima tahun, saat kebanyakan anak bercita-cita menjadi “astronot” atau “dokter” atau “guru”, saya mempunyai cita-cita sebagai “insinyur SABUN”. Ada alasan di balik “insinyur sabun” itu. Saat itu saya terobsesi dengan sabun mandi beraroma klasik dengan tempelan stiker merek di tengahnya dan memiliki bungkus berwarna merah dengan tema “aristrokrat” atau “royale”. Lalu umur enam tahun, cita-cita saya berganti menjadi seorang “komikus” karena saya tersentuh dengan komik pertama saya, “Card Captor Sakura”. Lalu tumbuh rasa “maniak” saya terhadap judul-judul komik yang lain. Intermezzo, saat itu harga komik hanya lima ribu. Lalu tahun-tahun berikutnya harganya naik menjadi tujuh ribu lima ratus, delapan ribu, sebelas ribu, tiga belas ribu, Enam belas ribu, hingga kini tujuh belas ribu rima ratus rupiah. Padahal kualitasnya menurun. Ironis.

Beranjak usia empat belas atau lima belas tahun, obsesi menjadi komikus memudar seiring dengan kemampuan menggambar saudara kembar saya yang meningkat jauh melebihi kemampuan saya. Saya minder dengan kenyataan itu. Lalu cita-cita saya berganti menjadi diplomat atau staff kedutaan besar. Alasannya? Karena saya suka dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan negara lain. Sempat pula saya dijuluki RPUL berjalan karena saya hafal hampir seluruh nama negara dengan bendera-benderanya.

Sebenarnya, apa yang mendasari seorang manusia untuk “bercita-cita”? Atau setidaknya “memiliki hal yang ingin dilakukan di masa depan”? Saya sering bertanya pada diri saya sendiri, apakah suatu benda yang bernama “cita-cita” itu akan muncul dalam bentuk solid, atau liquid, atau gas, atau hanya muncul sebagai kentut yang lenyap begitu saja setelah sebentar menunjukkan eksistensinya lewat bau? Sampai saat ini saya belum menemukan jawabannya. Alasannya, karena cita-cita saya yang sudah saya sebarkan di atas itu belum terlihat sampai sekarang. Namun yang pasti—menurut saya—hal yang mendasari manusia memiliki cita-cita karena adanya naluri “kemanusiaan” jika “being something” atau “menjadi sesuatu” adalah bentuk dari upaya pengakuan diri seorang manusia di dalam masyarakat. Sifat dasar manusia yang “ingin diakui” atau “eksis” adalah poin penting dalam proses kelahiran cita-cita ini.

Pertanyaan lain yang akan timbul adalah, apa kita perlu memiliki setidaknya sebuah cita-cita? Kalau saya boleh jawab, cita-cita itu perlu dan PENTING. Sebab, kita hidup dalam suatu siklus yang pasti sekaligus tidak pasti. Pasti karena hidup tidak akan pernah berhenti—sampai kita mati—atau pause sedetik saja. Bayangkan jika semesta ini berbaik hati memberikan satu detik saja pause waktu hidup kita. Metamorfosis ulat mungkin akan gagal karena ia kehilangan satu detik dalam hidupnya untuk proses revolusi menjadi kupu-kupu yang sempurna. Bumi yang terhenti sedetik butuh waktu berjuta-juta tahun lagi untuk mengembalikan semua proses-proses ilmiahnya seperti semula, mulai dari awal lagi.

Sedangkan mengapa siklus hidup kita bisa dikatakan tidak pasti? Karena seseorang tidak bisa menentukan apa yang terjadi di depannya. Bayangkan jika manusia bisa “menskenario” hal-hal yang ia inginkan. Tentu tidak ada penjahat di dunia ini karena tidak ada pembanding yang namanya “orang baik”. Itulah mengapa cita-cita perlu dimiliki karena agar kita bisa “merancang” hidup kita yang “pasti” ini.

Tidak pernah ada aturan atau tata tertib tentang cita-cita yang kita miliki. Terserah. Terserah apakah mau diwujudkan, atau diamini, atau hanya lewat begitu saja seperti kentut yang saya bicarakan sebelumnya. Yang pasti semua pemilik cita-cita HARUS memilih caranya sendiri, bagaimana ia mewujudkan cita-cita itu, bagaimana ia menyapa dan menyambut cita-cita itu, atau apa yang harus ia lakukan dengan cita-cita itu.

Semenjak remaja, karena terdorong “takdir” saya yang harus bergelut di bidang media dan komunikasi, cita-cita saja berganti lagi. Menjadi seorang jurnalis handal di televisi atau media cetak; atau bekerja di bidang komunikasi di lembaga pemerintahan. Sama dengan kebanyakan Anda, kamu, atau saudara sekalian, saya memiliki cita-cita yang belum tahu mau jadi nyata atau tidak. Yang saya lakukan sekarang, adalah menyusun cita-cita tadi sebagai suatu tujuan di masa selanjutnya, DAN menjalani apa yang ada di depan sebaik mungkin. Kalimat terakhir memang klise, namun memiliki efek ajaib bagi saya pribadi.

Mengetik tulisan ini adalah salah satu dari refleksi cita-cita saya yang lain: menjadi penulis. Saya percaya diri memiliki kemampuan menulis yang baik sejak kecil. Saya percaya akan menjadi penulis sekelas Dee Lestari atau Dan Brown suatu saat. Namun—jujur saja—saya belum berhasil memenangkan kompetisi menulis apapun atau menerbitkan satu saja tulisan di media massa saat saya menulis tulisan ini. Suatu waktu hal itu menurunkan mental saya dan semangat menjadi penulis. Namun saya percaya—sekali lagi, saya percaya, jika “merancang cita-cita sejak sekarang dan menjalani apa yang ada di depan terlebih dahulu” akan memberikan efek ajaib bagi saya suatu saat nanti.

 

Quote: We should realize at least one goal before we gone.

 

Advertisements

2 thoughts on “Yang Terpikir tentang Cita-Cita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s