BUDAYA JAM KARET: Komitmen Semua Individu

Tidak berlebihan jika negara kita ini disebut memiliki suatu “budaya” yang melekat dengan keseharian masyarakat yaitu “budaya” jam karet. Kenapa tidak berlebihan? Karena jam karet adalah hal yang dianggap lumrah dan mendarah daging oleh masyarakat. Jika kita lihat ke belakang, tidak ada catatan sejarah mengapa jam karet ini menjadi “budaya” negara kita. Tentu saja. Karena budaya ini dibentuk bukan dari tradisi leluhur melainkan dari sifat atau perilaku masyarakat yang dilakukan terus menerus dan berevolusi menjadi kebiasaan. Pasti semua setuju, jika jam karet merupakan masalah serius bangsa ini. Bayangkan saja, jadwal keberangkatan kereta api atau pesawat yang seharusnya tidak boleh terlambat satu menit saja—karena ketepatan waktu transportasi sangat mempengaruhi bidang lain—masih saja terjadi keterlambatan di hampir setiap jadwal. Bahkan ada anggapan jika jadwal hanya menjadi “formalitas” suatu organisasi.

Dunia pendidikan juga tidak terlepas dari budaya ini. Dosen atau mahasiswa datang terlambat, acara seminar yang diundur setengah jam, hingga distribusi soal Ujian Nasional yang terlambat—tidak tanggung-tanggung hingga tiga hari. Tentu jam karet memiliki dampak yang sangat besar dalam siklus aktivitas manusia. Waktu tidak dapat diulang. Waktu yang terbuang seharusnya bisa digunakan untuk aktivitas lain.

Kita tilik negara sahabat kita, Jepang. Di sana, waktu yang digunakan dalam suatu jadwal bukanlah “jam x” melainkan “jam x menit y”. Contohnya, jadwal keberangkatan subway misalnya pukul 11.33. Waktu dimulainya suatu acara adalah pukul 09.17 dan semua masyarakat datang tepat waktu. Mereka tidak mau membuang waktu satu detik pun karena hal itu akan sangat merugikan mereka. Misalnya seseorang datang ke stasiun pukul 11.35 padahal kereta berangkat pukul 11.33. Maka ia harus menunggu kereta selanjutnya yang berjarak 10 menit setelah kereta pertama. Tentu ia akan merugi karena di aktivitas selanjutnya ia akan terus tertinggal.

Bagi negara kita, “budaya jam karet” harus diganti menjadi “budaya tepat waktu”. Cara yang dapat dilakukan adalah memulai dari diri sendiri. Jika setiap individu berkomitmen untuk tepat waktu, maka otomatis segala kegiatan dalam sektor apapun akan berjalan tepat waktu juga. Untuk sarana umum termasuk transportasi, pengelolaan jadwal yang teratur dan berkomitmen adalah bentuk pemusnahan budaya jam karet. Dibutuhkan kesadaran bersama untuk menyelesaikan masalah bangsa kita yang mendarah daging ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s