Ironi Belajar ke Luar Negeri

Setiap saya bertanya kepada orang lain tentang “belajar ke luar negeri”, jawaban yang saya dapat rata-rata seperti ini: buat orang berduit; kalau nggak jenius nggak bisa; makanan di sana banyak yang haram; dikucilkan karena beda bangsa dan agama; bahasanya susah; mimpi tok. Saya akui beberapa pernyataan di atas itu ada yang saya setujui. Terutama: “buat orang berduit”. Kita semua tahu jika biaya pendidikan mahal. DI MANAPUN, bahkan di negara kita sendiri yang mata uangnya masih rupiah. Di sini sumber munculnya pernyataan di atas. Di negara kita sendiri saja, kuliah susah karena biayanya besar. Apalagi di negeri orang?

                Dalam tiap kesempatan, saya selalu mencari informasi mengenai cara-cara belajar ke luar negeri. Mulai dari mengobrak-abrik blog atau akun jejaring sosial seseorang yang berhasil menempuh pendidikan lanjutan ke luar negeri, hingga berburu informasi gratis di internet—tidak seratus persen gratis karena tetap dikenai biaya per kilobyte. Hal-hal itu semata-mata saya lakukan karena “saya ingin seperti mereka, melanjutkan sekolah ke luar negeri”.

                Ironi yang saya lihat saat ini, banyak orang yang pergi sekolah ke luar negeri karen alasan yang membuat orang seperti saya ini—orang yang harus berjuang sendiri untuk bisa mewujudkan keinginan kuliah di negeri lain—merasa perlu perjuangan ekstra DEMI merasakan pengalaman yang setara dengan orang-orang tadi.

                Ada di antara mereka yang pergi ke luar negeri untuk sekolah karena “dipaksa ortunya untuk sekolah ke luar”. Hal itu terkesan seperti: “sebenarnya aku malas sekolah ke luar negeri tapi karena dipaksa yaudah,”. Karena nasib baik yang membawa orang tua mereka bisa menyekolahkan ke luar negeri. Saya jamin, mereka yang seperti ini dalam hatinya ikhlas-ikhlas saja mau disekolahkan ke mana. Tapi karena mereka terbiasa dengan “imej seolah-olah pergi ke luar negeri itu biasa”, akhirnya kalimat di atas itulah yang keluar.

Ada juga mereka yang pergi sekolah ke luar negeri demi gengsi. Atas nama gengsi, semua dipertaruhkan, bahkan ‘ketidakmampuan’ yang nyata, ditutupi sebagaimanapun sehingga terkesan ‘mampu’ meski di belakang bolak-balik pulang ke negara asal karena tidak kuat menghadapi hal-hal baru di negara orang. Dari pengamatan saya, mereka yang pergi sekolah ke luar negeri karena gengsi ini tidak betulan serius untuk sekolah. “Apapun, pokoknya sekolah di luar. Mau jurusan apa, kuliah di universitas mana, negaranya di mana, yang penting sekolah di luar,”. Tipe seperti ini biasanya maniak dengan titel “kuliah di Aussie” atau “kuliah di US (Yu-Es)” atau “kuliah di KL (Kei-El)”. Jurusan dan universitasnya? Nanti dulu, itu urusan belakangan.

Tipe yang lain adalah mereka yang kuliah ke luar negeri karena “perjuangan sendiri dan beasiswa”. Tipe ini akan saya acungi berapa jempol pun karena mereka bekerja keras demi mewujudkan mimpi. Sejauh yang saya amati, mereka dengan tipe ini akan memiliki prestasi yang jauh lebih baik daripada mereka yang memiliki dua tipe sebelumnya, karena selain dia yang pergi sekolah ke luar negeri dengan usaha sendiri ini memerlukan perjuangan berat, ia juga memiliki beban yang ditanggung yaitu “beban berprestasi agar beasiswa terus lanjut”.

Bagaimanapun, sampai detik ini, belajar ke luar negeri masih merupakan hal yang istimewa dan hanya bisa dilakukan oleh beberapa golongan saja. Dan sampai detik tulisan ini pula, saya belum pernah merasakan pengalaman belajar ke luar negeri “yang sesungguhnya”. Semua hal dimulai dengan perjuangan. Hasilnya? Nanti lihat saja di akhir.

 

Quote: Leaving on the jet plane, leaving on new challenge.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s