Kita dan Musik Populer Dunia

Untuk anak seusia saya saat ini, kebanyakan akan menyukai musik-musik populer dunia. Ya, musik populer dunia yang saya maksud itu begini: “musik populer dunia” itu adalah musik “from west”, musik “with disc jockey”, musik “billboard”, musik “nowdays lyrics”, musik “sexy video-clip” atau musik “techno-computerized”. Jangan berkilah, banyak di antara kalian pasti setuju. Bukan menganggap musik “anak muda” zaman sekarang ini salah, namun, hanya sekedar mengungkapkan pikiran di balik batok kepala saya, jika saya tidak terseret sama sekali arus “musik populer dunia” ini. Tidak terseret sama sekali adalah kalimat yang tepat, bukannya saya mau melebih-lebihkan. Tapi begitulah, saya se-meter-pun tidak bergeser ke arah sana.

Maaf sekali lagi bagi penyuka musik populer dunia, saya tidak menganggap itu salah, namun hanya berkata jika musik-musik itu mungkin akan hilang pamornya dengan cepat saat zaman berubah. Siapa yang tahu saat tiba-tiba musik full speed dengan “jedug-jedug” yang populer saat ini akan terganti kembali dengan musik cinta mendayu-dayu ala Michael Learns To Rock atau Savage Garden atau Richard Marx, atau malah tergantikan dengan musik slow-rock macam Firehouse atau Mr. Big atau Air Supply. Sekali lagi, saya tidak meng-under estimate (“membawah estimasi” kalo menurut kamus V*cky) genre musik tertentu, namun saya hanya mencoba memutar kembali memori saat musik disco yang populer tahun 80-an tergantikan pamornya oleh musik cinta evergreen love song yang sama sekali berbeda dengan disco. Who knows what happened in the future?

Kembali lagi ke “musik populer dunia”. Jika kita tanyakan pada mahasiswa atau high-schoolers saat ini, mereka tidak mungkin tidak tahu siapa itu Katty Perry atau LMFAO atau Lady Gaga atau Maroon5, atau Nicky Minaj. Coba tanya siapa itu Ernest Hemingway, Pablo Picasso, Spartacus, Mahatma Gandhi. Bisa bayangkan jawabannya sendiri. Hal ini menjadi ironi saat para pemuda kita menggandrungi  musik-musik dunia yang sedang populer saat ini, tanpa belajar mengenai “apa yang membawa musik populer itu”. Maksud saya di sini adalah, pemuda kita cenderung memilih untuk menjadi “penikmat saja” tanpa mau melihat “lebih ke belakang”. Mencari tahu musik populer dunia dua puluh tahun lalu, mencari tahu siapa grup atau penyanyi yang mempopulerkan musik hip-hop, mencari tahu siapakah Lady Gaga sebelum terkenal, dan sebagainya.

Saya bukanlah penyuka musik populer dunia itu. Hanya sekedar tahu dan mendengarkan jika kebetulan terdengar. Saya dalam hal ini bukanlah skeptis yang kolot dengan musik yang disukai banyak orang. Hanya saja saya memilih untuk berlalu sambil lewat saja menikmati musik itu. Semua hal tidak bisa dipaksakan, kan?

Sekarang kembali lagi, terserah Anda, mau memilih musik apa, genre apa, penyanyi siapa. Atau mungkin ada di antara pembaca tulisan ini yang memilih untuk seratus persen atau delapan puluh lima persen memilih media hiburan lain selain musik. Semuanya adalah pilihan. Tapi yang jelas, sangat bagus jika semua pemuda, remaja, semua golongan usia, status, agama, ras di Indonesia ini memberi apresiasi kepada para musisi-musisi dunia ini. Tidak melalui mendengarkan lagu mereka setiap hari atau mendownload semua album mereka di internet, namun cukup dengan ini: memahami siapa mereka, apa pesan yang ingin mereka sampaikan melalui musik dunia, dan yang terpenting adalah, jangan pernah lupakan sejarah. Sejarah apapun yang membawa kita sehingga bisa menikmati “musik populer dunia” ini.

 

Quote: Colorized your days with music, draw your past with history.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s