Satu Derajat Batas antara Jenius dan Aneh

Saya takjub dengan manga Shingeki no Kyojin (Attack on Titan) karya Hajime Isayama. Karya itu brilian, tidak pernah terpikir oleh siapapun sebelumnya. Sebenarnya cerita tentang manusia yang diserang pasukan raksasa sudah sangat banyak sebelumnya. Tapi karya ini beda. Kalau yang saya rasakan, sih, karya ini punya ‘jiwa’. Emosi diumbar dan memori-memori yang menggiring ke sebuah kotak Pandora cara pemusnahan manusia adalah poin penting dari karya ini. Yang paling membuat saya berkata jika karya ini brilian adalah—karya ini adalah gambaran ‘masa depan’ umat manusia. Saat kita tidak lagi menjadi ras terkuat, saat Tuhan menurunkan makhluk-makhluk yang diberi mandat memusnahkan kaum kita. Ketidakberdayaan manusia adalah pelajaran penting yang saya ambil dari karya ini.

Saya tidak mau berbicara panjang lebar tentang inti cerita ataupun tokoh-tokohnya. Tapi di sini, saya ingin membicarakan sang kreator, Hajime Isayama. Bukan pula saya akan berbicara tentang latar belakang ataupun masa lalunya. Tapi, saya ingin membicarakan isi otaknya. Isi otak ‘sang jenius’. Ia membuat suatu karya yang out of the box, truly different, berbeda. Ia menyisipkan banyak emosi di dalam karya manga penuh kekerasan yang berdarah-darah. Hal itu menjadikan karyanya itu diterima semua kalangan. Kita lihat lebih dalam, seperti apa Isayama itu? Kalau kalian melihat seperti apa dia, tidak akan percaya dia adalah kreator manga terbaik di Jepang saat ini. Penampilan yang ala kadarnya, tidak pernah pergi menggunakan mobil, hanya lewat jika melihat manga karyanya sendiri dipajang di rak toko deretan best selling.

Akan tepat—mungkin—jika Isayama-sensei disebut sebagai ‘jenius namun aneh’.  Aneh dan jenius. Dua frasa yang bertolak belakang namun saya rasa saling berkaitan. Adakah orang jenius di muka bumi ini yang tidak aneh? Atau saya balik, adakah orang aneh di muka bumi ini yang tidak jenius? Jawabannya: tergantung. Tergantung akan keberuntungan dan apa yang BISA ia lakukan. Contoh lain selain Hajime Isayama, ada seseorang yang memiliki nama familiar namun saya yakin banyak yang tidak mengetahui bagaimana rupa dan hasil karyanya. Albert Einstein. Tidak usah saya jelaskan ‘keanehan’ apa yang ada di dalam dirinya. Kita semua tahu jika saat kecil ia dianggap bodoh, idiot, keterbelakangan. Lihat saat ia dewasa. Itu bukti jika jenius namun aneh bukanlah dua kata yang ‘bertolak belakang’, tapi dua kata yang ‘sedikit lagi tehubung’. Ibarat lingkaran yang memiliki keliling 360 derajat, ‘aneh’ berada di titik 360 derajat, dan ‘jenius’ di titik 1 derajat. Jangan ditarik garis melalui kelilingnya, tapi tariklah melalui ‘lubang cacing’ atau ‘shortcut’ kebalikannya. Hanya beda 1 derajat. Hal ini yang membuat para pecinta fiksi ilmiah dan ilmuwan merasa mendapat titik terang tentang kemungkinan diwujudkannya teleport—alat berpindah dimensi ruang dan waktu dengan menghancurkan quantum suatu objek dan membuat lagi replikanya di tempat lain—melalui ‘lubang cacing shortcut’ ini. Tapi, untuk punya pikiran “berbeda 1 derajat” itu, seseorang harus menjadi ‘bodoh’ sekaligus ‘jenius’. Agak rumit memang, tapi cobalah telaah ini saat duduk atau jongkok di toilet pagi hari. Akan kalian temukan maknanya.

Saya mengumbar “iya juga ya” saat saya membaca novel dwilogi Andrea Hirata berjudul ‘Cinta di Dalam Gelas’ yang merupakan buku kedua ‘Padang Bulan’. Di sana, diceritakan seorang wanita miskin pendulang timah pertama di kampung Andrea—bernama Maryamah, berniat ‘membalas dendam’ pada mantan suaminya yang playboy dengan cara: bermain catur. Jangan anggap remeh karena di sana diceritakan jika wanita bermain catur adalah hal tabu sepanjang masa. Di sana, Maryamah tetap pada pendiriannya untuk bermain catur melawan mantan suaminya meskipun cibiran ada di mana-mana. Ia berani untuk menjadi ‘aneh’ dan ‘berbeda’ demi mengembalikan harga dirinya sebagai wanita. Contoh fiksi, namun satu lagi, seorang penulis kaliber macam Andrea Hirata juga setuju dengan ungkapan ‘jenius namun aneh’. Menjadi beda, aneh, tidak wajar, merupakan kekuatan seorang jenius untuk merealisasikan pikiran superiornya.

Saya baru tahu jika manga Shingeki no Kyojin, pernah ditolak penerbit manga terpopuler di Jepang, Shonen Jump. Lihatlah, bahkan penerbit ‘terbaik’ pun luput menangkap kejeniusan seseorang. Itu adalah gambaran, betapa batas antara ‘jenius’ dan ‘bodoh’ itu sangat tipis, setipis benang kapas dibelah tujuh. Setipis selisih 360 derajat dan 1 derajat. Ini menandakan pula jika secara kasat mata, seorang yang jenius tampak seperti orang aneh begitu juga sebaliknya, orang aneh tidak selalu aneh, dia adalah awal dari jenius.

Saya bukan menyuruh untuk menjadi gila dan aneh. Tapi saya hanya memberi gambaran jika orang yang berani menjadi aneh, berani beda, akan memberikan suatu hal fantastis yang bahkan tidak terpikir oleh kita. Intinya, berani beda, berani dianggap gila, adalah langkah pertama menjadi jenius.

 

Quote: Semakin kita merasa diri kita aneh, kita mulai menjadi jenius—setidaknya menurut diri kita sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s