Apa Kabar Komik Indonesia?

Komik Indonesia? Jika mendengar kata ini, banyak orang yang menjawab dengan mencibir, atau malah tidak tahu menahu soal ini. Yang banyak diketahui masyarakat adalah komik Jepang (manga) atau komik Amerika. Detective Conan, Doraemon, Slamdunk; atau Captain America, Wonder Woman, Spiderman. Sangat ironis jika mengingat sejarah komik Indonesia yang ‘pernah’ berjaya zaman dulu, dan berkembang pesat saat ini. Namun, tetap saja, tidak banyak orang yang tahu tentang komik Indonesia.

Tahun 1930-an adalah sejarah awal lahirnya komik Indonesia. Ko Put On, komik strip pertama Indonesia yang dimuat di surat kabar Sin Po periode 1930-1960-an. Komik karya Kho Wan Gie ini berisi tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Tionghoa. Desain karakter yang masih sangat sederhana, sesederhana jalan ceritanya, menjadi kekuatan tersendiri dari komik strip ini. Sayang, setelah hampir tiga puluh tahun eksis di dunia komik Indonesia, Ko Put On perlahan-lahan menghilang setelah meninggalnya Kho Wan Gie pada tahun 1983. Lebih disayangkan lagi, komik yang menandai lahirnya komik Indonesia ini tidak banyak diketahui generasi sekarang. Karena alasan ‘tidak dibukukan’, Ko Put On hilang begitu saja dari sejarah komik Indonesia.

1736532p

-Ko Put On-
Menyusul Ko Put On, muncul banyak judul lain yang memulai perkembangan komik Indonesia. Pada awal tahun 1950, Abdulsalam membuat komik strip mengenai agresi militer Belanda di Yogyakarta yang diterbitkan rutin di harian Kedaulatan Rakyat. Komik ini menjadi komik Indonesia pertama yang diterbitkan dalam bentuk buku pada 19 Desember 1952. Komik strip mendapat tempat di hati masyarakat hingga munculnya komik Amerika yang disisipkan sebagai suplemen baru di surat-surat kabar. Tarzan, Phantom, Johnny Hazard menjadi bintang baru dalam dunia komik di Indonesia. Serangan komik Amerika tidak memudarkan semangat komikus lokal untuk terus berkarya. Siaw Tik Kei memulai debut dengan mengikuti invasi gaya komik Amerika yang menampilkan karakter ‘superhero’. Mengambil cerita pahlawan Tiongkok, Sie Djin Koe, ia berhasil melampaui kepopuleran komik superhero Amerika. Boleh saya katakan, strategi Siaw Tik Kei berhasil. Beliau bisa membidik pasar komik seperti apa yang akan diminati masyarakat.

Keberhasilan Sie Djin Koe memacu semangat komikus Indonesia lainnya. R. A. Kosasih, yang saat ini dikenal sebagai Bapak Komik Indonesia, menghidupkan kembali komik Indonesia dengan menampilkan karakter superhero dari legenda lokal. Beliau bisa mendobrak dominasi Wonder Woman melalui Sri Asih. Karya lain yang sangat mempengaruhi komik Indonesia antara lain Mahabharata dan Ramayana. Dua komik ini adalah tonggak lahirnya komik modern Indonesia. Bisa dikatakan juga jika kedua komik ini pernah mendominasi dunia komik Indonesia tahun 1960-an.

Masa kejayaan komik Indonesia tidak hanya berhenti di tahun 1950. Tahun 1960, muncul sebuah komik yang melahirkan karakter ikonik, karakter yang masih eksis hingga sekarang, Si Buta, dari komik Si Buta dari Gua Hantu. Karakter fenomenal ini diciptakan oleh Ganes TH dan menjadi sangat populer dalam dunia komik Indonesia. Pada masa inilah, komik Indonesia berada di puncak kejayaannya. Ditambah pula dengan karya fenomenal dan abadi sepanjang masa—seperti yang saya katakan sebelumnya—yaitu Mahabharata dan Ramayana, komik Indonesia seolah-olah sudah bisa menghapus komik superhero Amerika dari daftar belanja para pecinta komik. Dengan perkembangan komik Indonesia yang pesat tersebut, mulai bermunculan para komikus yang hadir dengan mengambil tema kebudayaan lokal. Sebut saja Tagunan Hardjo, Djas, dan Zam Nuldyn. Para artis komik ini mengambil tema kebudayaan Sumatera, khususnya Medan ke dalam karya mereka. Orang-orang inilah yang menambah semarak dunia ‘per-komik-an’ Indonesia hingga tahun 1970. Dalam masa-masa tersebut, tema yang seringkali diangkat adalah pewayangan, humor-kritik (jika kita ingat komik pendek Punakawan) dan superhero. Masih ada sedikit pengaruh dari komik barat, komik-komik Indonesia ini diterbitkan melalui koran atau majalah. Komik-komik ini diterbitkan per halaman tiap harinya. Meskipun begitu, komik karya R. A. Kosasih seperti Majapahit juga diterbitkan dalam bentuk buku.
Mahabharata Pandawa Seda 3 kosasih-gambar

Entah bagaimana, komik Indonesia yang sudah mulai merajai negeri sendiri seperti hilang ditelan zaman. Komik Indonesia yang berjaya hingga tahun 1970-an perlahan meredup. Pada masa antara tahun 1980 hingga awal tahun 2000, komik Amerika dan Jepang kembali merebut perhatian para pecinta komik Indonesia. Pada awal 2000-an ini pula, saat arus informasi melalu internet semakin berkembang, para komikus mulai terpengaruh gaya gambar komik dari Jepang dan Amerika.

Komikus pada masa ini yang mengadaptasi gaya gambar Amerika antara lain Donny Kurniawan, Alfa Roby, dan Reza Ilyasa. Sedangkan komikus yang mengadaptasi gaya gambar Jepang (manga), seperti Anzu Hizawa, Anthony Ann, dan Is Yuniarto. Nama terakhir merupakan nama yang sudah tidak asing bagi para pemerhati dan penikmat komik Indonesia modern. Is Yuniarto yang mulai dikenal melalui karyanya berjudul Garudayana, membuat suatu gerbrakan baru dengan mengadaptasi kisah Mahabharata dan Punakawan ke dalam komik modern. Desain karakter, setting dan cerita Garudayana ia sesuaikan dengan pasar anak muda Indonesia zaman sekarang yang –memang—cenderung menyukai gaya gambar ala manga. Dengan sedikit mengolah cerita dasar dan menggunakan karakter-karakter Mahabharata dalam komiknya, ia berhasil menarik perhatian pecinta komik di Indonesia. Karakter Punakawan yang kocak menambah warna dalam komik andalannya ini.

Komik Garudayana sendiri sudah dibukukan dan diterbitkan secara nasional melalui studio komik Koloni. Komik tersebut sudah diterbitkan lepas hingga empat volume, hingga akhirnya hiatus dalam waktu yang lama. Entah apa penyebabnya, Garudayana hanya menggantung di volume keempat. Penggemar yang sudah jatuh hati pada komik itu sangat kecewa akan hal ini. Hingga pada tahun 2012, para penggemar Garudayana terobati kerinduannya dengan kemunculan seri Garudayana terbaru, berjudul Garudayana Saga. Kisah yang tidak selesai dalam Garudayana terbitan studio Koloni, dilanjutkan dalam komik Garudayana Saga ini. Diterbitkan oleh penerbit CAB Bandung, Garudayana Saga semakin eksis dalam dunia komik Indonesia hingga sekarang.
cover_garudayana_saga_1_final_100dpi Previewgarudayanapage05

Jika kita tilik, sebenarnya ada banyak prestasi yang diraih para komikus Indonesia. Prestasi membanggakan baru-baru ini diraih oleh komikus Indonesia Muhammad Fathanatul Haq dan penulis naskah Ockto Baringbing. Pada tahun 2013, Octo dan Matto (panggilan Fathanatul Haq) berhasil meraih penghargaan Silver Award dalam International Manga Award ke-6 di Tokyo, Jepang, melalui karya mereka berjudul ‘5 Menit Sebelum Tayang’. Mereka berdua berhasil menyisihkan 224 karya pesaing dari 38 negara di seluruh dunia. Ya, walaupun pada dasarnya 5 Menit Sebelum Tayang adalah karya ‘manga’ yang disertakan dalam perlombaan ‘manga’ dunia, tetap saja karya ini merupakan sutau bentuk pembuktian bahwa komikus Indonesia juga bisa bersaing di dunia internasional. Ironisnya, tidak banyak yang tahu mengenai prestasi membanggakan anak bangsa ini. Media—cetak ataupun elektronik—hanya sedikit yang meliput prestasi ini. Sangat disayangkan, di saat komikus muda Indonesia mulai ‘menampakkan diri’, masyarakat kita malahan tidak terlalu peduli. Padahal, penghargaan yang diraih Matto dan Ockto ini bisa menjadi pembangkit semangat komikus Indonesia yang lain untuk terus berkarya.
5menit-1 5menit1

Setelah sekitar tiga puluh tahun berjalan merangkak, komik Indonesia kini mulai memperlihatkan lagi eksistensinya. Setelah Garudayana dan prestasi komik 5 Menit Sebelum Tayang, mulai terlihat banyak komik karya anak Indonesia yang masuk ke pasaran. Contohnya seperti Four Heroes, Sang Sayur, Prambanana, dan Garuda Boi. Komik-komik ini tidak kalah bersaing dengan komik luar negeri, terutama komik Jepang yang pengaruhnya sangat kuat. Para penerbit Indonesia sudah mulai berani menerbitkan komik lokal, tidak seperti dahulu yang selalu dibayangi dengan “komik Indonesia tidak akan laku dijual”. Penggemar komik Indonesia terus menjamur ditandai dengan munculnya komunitas pecinta komik lokal di berbagai media sosial.

Selain dalam bentuk cetak, kebangkitan (kembali) komik Indonesia bisa dilihat melalui komik online Indonesia. Nusantaranger karya Sweta Kartika menjadi salah satu contoh dari komik online Indonesia yang dalam sekejap dapat menarik minat ribuan penggemar komik Indonesia. Dengan mengambil tema “ranger” atau “pahlawan bertopeng” yang memiliki unsur budaya Indonesia, Nusantaranger semakin dinanti chapter terbarunya yang terbit dwi mingguan. Bentuk lain dari komik Indonesia yang semakin berkembang saat ini adalah semakin populernya komik strip. Dipopulerkan kembali melalui Benny & Mice, komik strip yang rutin tampil di koran Kompas ini menjadi begitu populer karena “kemurnian dan kepolosannya” dalam mengkritik fenomena-fenomena di sekitar kita.

620924638_092e17e42e_o

-Benny & Mice-

05
-Nusantaranger-

Yang menjadi primadona baru bagi pecinta komik Indonesia saat ini adalah komik yang diterbitkan dalam bentuk majalah. Maksudnya adalah, ada berbagai macam judul komik yang digabung menjadi satu dalam bentuk buku. Inilah yang disebut dengan majalah komik atau komik kompilasi. Satu volume majalah komik berisi antara delapan hingga sepuluh judul komik yang tiap judulnya berisi satu chapter (satu bab). Yang populer saat ini yaitu majalah komik yang terbit bulanan, Re:ON Comics. Berisi 6 judul komik dan dua komik sisipan, ditambah tips dan trik menggambar komik, Re:ON Comics selalu ditunggu kemunculannya tiap bulan. Menggunakan media twitter dan facebook, para komikus Re:ON Comics berinteraksi langsung dengan para penggemar mereka untuk saling berbagi. Kekuatan media sosial ini semakin mendongkrak popularitas Re:ON Comics yang memang saya akui, berbeda dari yang lain, baru, dan sangat sesuai dengan selera pasar. Re:ON kini menambah daftar komik Indonesia yang mulai eksis kembali di tengah-tengah masyarakat yang lupa jika negara ini memiliki potensi besar dalam dunia komik.
7c173aa0-045b-47a0-b01a-3fafebc93cb3 8dcdacb3-bb7d-4fd0-8bf1-853d0b8d1d41 1a290eed-0d42-4ef3-8291-35c13edbed74

Sebenarnya komik Indonesia saat ini mulai berkembang lagi sejak hiatus selama beberapa puluh tahun. Dengan semangat dan perjuangan komikus muda kita, komik Indonesia sedikit demi sedikit mulai menanjaki lagi tangga kepopuleran mereka. Inovasi dan ide segar yang muncul dari komikus muda ini, dibangun untuk memperkenalkan kembali komik lokal yang seperti mati suri. Mengambil tema budaya lokal dan sejarah yang dikemas secara apik dalam artwork yang menawan dan storyboard yang modern, para komikus Indonesia berharap jika komik lokal semakin diminati masyarakat. Sudah mulai terlihat di permukaan. Namun bangsa ini belum sadar, belum melihat adanya potensi besar dalam bidang komik yang dipendam anak muda kita. Siapa lagi yang akan mendukung komik lokal jika bukan masyarakatnya sendiri? Semoga, komik Indonesia segera (kembali) mendapat tempat di hati masyarakat kita.

 

(Sebenernya ini tugas mata kuliah Jurnalisme Alternatif)

Source gambar: google.com

Advertisements

2 thoughts on “Apa Kabar Komik Indonesia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s