What I Think About “Those Idols”

Sekarang ini lagi musim idol. Idol apa? Idol entertainment. Saya termasuk yang suka dengan kegiatan mereka. Alasannya, karena konsep mereka unik dan keunikan itu masuk di Indonesia–biasanya Indonesia maunya yang begitu-begitu aja. Ya, meski konsep idol adalah adaptasi, namun bisa sukses di pasaran Indonesia. Setengah ngga percaya Indonesia bisa “dimasuki” ideologi baru, per-idol-an. Alhamdulillah naik setingkat lah selera orang-orang di negeri tercinta ini.

Tapi ada dilema yang bisa saya katakan. Idol itu siapa? Idol itu: cewe-cewe usia belasan yang sama rata: imut-imut, kulitnya putih, matanya gede, rambutnya lurus-lurus, suka selfie. Stereotype banget lho kalau kita lihat mendalam lagi. Kata dosen saya: “cewe-cewe model idol-idol itu tuh palingan cuma 2 % aja dari jumlah penduduk perempuan Indonesia usia belasan!” Saya setuju.

Tapi, hal stereotype ini malah merupakan daya tarik utama dunia idol ini. Sehari-hari, para penikmat visual idol ini–dan kebanyakan warga negara Indonesia–pasti jarang melihat orang bertampang idol seperti itu. Ya itu tadi, karena hanya 2 % aja yang model begitu di Indonesia tercinta… Nah kesempatan ini dilihat oleh agensi yang pinter dari luar negeri, sebagai bentuk prospek bisnis yang bagus. Lalu muncullah idol-idol imut di layar kaca setiap hari. Jelaslah para penikmat–terutama lawan jenis–beburu segala pernak pernik tentang mereka. Kalau saya mau ceritakan lebih gamblang lagi, pembaca akan kaget tentang fakta apa yang dilakukan fans-fans idol ini di sepanjang hari mereka. Besok aja saya post lagi karena bisa habis page kalo nulis tentang itu sekarang.

Agensi haha-hihi saja dengan kesuksesan mereka (baca: bisnis) menangani idol-idol ini. Para idol kerja keras, latihan, menghafal 12 lagu dalam dua minggu, latihan senyum padahal capek, dsb. Para fans, ya sama dengan agensi. Haha-hihi melihat aksi idola mereka LIVE atau di TV. Bedanya, fans itu kadang bisa mengkritik atau memberi semangat terus. Persamaanya, agensi membutuhkan fans (baca: bisnis), dan fans membutuhkan agensi (biar idol tetep ‘hidup’).

Kadang saya kasihan melihat jadwal idol. Tapiiiiii si idol kelihatan seneng aja. Entah emang senang, atau ‘dipaksa’ senang oleh  agensi yang haha-hihi tadi.

Ada fenomena lain dari hal ini. Idol dadakan. Maksud saya, adalah orang-orang yang–entah ‘merasa’ atau ‘dianggap’–menjadi idol di lingkup lebih kecil. Saya berani berbicara hal ini karena banyak fenomen itu di sekitar. Saat idol menjadi sebuah komoditi populer di masyarakat kita saat ini, banyak gadis berlomba menjadi seperti mereka. Gaya bicara–gaya nge-tweet, tingkah laku, cara berpakaian, dsb benar-benar dibuat semirip mungkin dengan apa yang disebut sebagai idol beneran. Ya gimana ya. Boleh boleh aja jika mau mengambil “jalan hidup” semacam itu, namun harus dilihat tempat, dan SIAPA sebenarnya dia. Hanya karena merasa mirip idol, kulitnya putih, kecil chibi gitu, jago nari, lalu bergaya menjadi idol? Herannya saya, ADA juga fans para idol dadakan ini. Ikut ke mana saja di “idol” pergi, menyemangati jika mereka perform, balas tweet-tweet “idol” ini dengan gaya seperti “proximate”.

YA. Sah aja kalau mau melakukan hal itu. Saya juga tidak melarang. *emang saya MUI?* Namun menurut saya, bergaya semacam itu sudah berlebihan. Hidup dengan banyak kegiatan “biasa” saja sudah banyak sekali halangannya. Apalagi jika ditambah dengan “menjadi idol” padahal misal ada bule, si bule akan berkata “you-know-them?”

Saya menulis tulisan ini berdasar kepada keprihatinan saya akan remaja puteri sekarang ini. Karena efek “idol wave” dan efek media, banyak gadis yang mulai meninggalkan identitas sejati mereka. Pura-pura menjadi orang lain, padahal diri mereka sendiri banyak hal menarik yang bisa digali, dengan cara lain yang lebih smart.

Para fans juga, saya mau bilang jika merekalah yang “memberi makan” para idol. Jika memang suka, sukailah dengan cara yang baik dan tetap support. But don’t forget, we have our own life.

Tulisan saya ini bukan berlandas dari rasa iri karena saya “di luar yang 2 % di cewe-cewe remaja saat ini”. Namun, saya hanya menuangkan pikiran saya agar gadis-gadis “idol dadakan” itu bisa melihat jika: Ada hal lain di luar sana yang lebih sulit sedang menunggu. Jika ingin menjadi idol, jadilah. Jangan cuma di awang-awang saja.

Semangat para agensi untuk “membudidayakan” para idol. I know those are business. But don’t forget to remember if “they” are HUMAN, not a bunch of DOLLS.

Salamualaikum.

Kata-kata “idol” sengaja dicetak tidak dengan tulisan miring karena “idol” sudah familiar buat kita. Ya to?

 

Quote: being independent, being own self.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s