Getir Manis Belajar Jurnalistik: Dunia Jurnalis Tidak Seindah Drama ‘Pinocchio’

Jarang ada yang memilih konsentrasi jurnalistik di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas saya. Sebagai gambaran, dari sekitar 250 mahasiswa Komunikasi, hanya 36 yang mengkonsentrasi jurnalistik. Tujuh persen saja dari kami yang ‘terpanggil’ untuk bergulat di studi jurnalistik. Padahal jika kita bisa melihat, ada ribuan wartawan yang nongol di TV—atau setidaknya beritanya nongol di TV—setiap hari. Entah bagaimana, pada akhirnya banyak yang memilih untuk menjadi reporter atau wartawan sebagai profesi di masa depan. Bukan hal salah sih, karena media-media juga tidak terlalu mematok karyawannya untuk kalangan yang berasal dari lulusan-lulusan jurnalistik saja.

Semakin menjamurnya media membuat banyak SDM yang dibutuhkan untuk bekerja di bidang jurnalistik. Pada akhirnya pun bukan saja para ‘mahasiswa dengan titel S.I.Kom konsentrasi Jurnalistik’ yang akan dipekerjakan di bidang itu, tapi semua kalangan bisa masuk. Ada dampak? Tidak tampak, tapi ada. Jadi ingat kata dosen Jurnalisme Kontemporer yang seorang wartawan koran Tempo, jika “para jurnalis yang berasal dari studi jurnalistik, lebih memiliki kesadaran sebagai seorang jurnalis. Kita-kita ini, tidak perlu ditatar lama untuk bisa bernafas di dunia jurnalisme. Dan saya berharap, kita yang berasal dari bidang ini benar-benar mengamalkan ilmu dan etika jurnalistik yang sebenarnya, lalu ditularkan”.

Tapi entah mengapa, secara personal, semakin ke arah sini, saya semakin berpikir jika dunia jurnalistik bukanlah perkara gampang bahkan bagi mahasiswanya sendiri. Banyaknya tuntutan untuk ‘merealisasikan’—apapun—membuat saya berpikir jika dunia jurnalistik bukan dunia yang adem ayem. Banyak teman saya yang sudah mulai aktif di ‘real journalism’. Bergabung dalam TV kampus, tabloid fakultas, jurnalis kampus, news anchor TV lokal, penyiar radio, membuat saya berpikir jika mereka melakukan langkah yang tepat. Bersiap untuk memasuki dunia yang tidak mudah.

Dalam tugas-tugas kuliah pun, sama sekali tidak terbayang saat saya mantap mengambil konsentrasi ini. Keliling kota mencari berita hangat untuk portal berita, diam-diam menyelinapkan kamera untuk merekam pembajak buku, jalan malam untuk dapat foto yang menarik, begadang membuat layout surat kabar yang banyak tuntutan, berfantasi-ria untuk membuat proposal program televisi masa depan, bergabung dalam komunitas supporter PSIS Hooligans untuk mendapat data, semua dilakukan demi mencari tahu seperti apa rasanya menjadi jurnalis sesungguhnya, nanti. Intermezzo, hal gila adalah saat mempersiapkan produksi studio—talent, properti, standard sequence guide, rundown, floor plan—pada h-3 produksi dan tahu-tahu ditunjuk sebagai program director

stm bagus esai foto - 2 koran ony1

Sulit saat memantapkan hati memilih konstentrasi jurnalistik. Karena bisikan-bisikan maut di sana-sini yang mengatakan jika konsentrasi jurnalistik akan sulit ke depannya—baca: menemukan pekerjaan. Banyak sahabat yang memilih konsentrasi lain, dan damn it’s true, hanya 10 orang saja dari kelas saya yang memilih konsentrasi jurnalistik. Tapi apa, saya suka hal seperti ini. Seperti Déjà vu, saat SMA saya memilih masuk ke kelas IPS yang hanya memiliki 2 kelas saja, sedangkan 13 kelas untuk jurusan IPA. Bagi saya, sesuatu yang berbeda itu pasti menarik. Masalah sulit menemukan pekerjaan atau apa, adalah tergantung manusianya. Kalau malas dan pastif, ya sudah, tidak dapat pekerjaan. It just simple I think. Dari jumlah mahasiswa yang sedikit—hingga kadang terasa agak ada diskriminasi dalam beberapa hal—malah menjadikan hal itu sebagai new community, new family. Dan ya itu tadi, tantangannya lebih.

Saat ini, saya malah belum terpikir untuk bekerja menjadi reporter atau wartawan. Dari pengalaman beberapa teman dan dosen yang bekerja di bidang media, dunia jurnalistik tidak seperti drama Korea ‘Pinocchio’ yang memperlihatkan jurnalis-jurnalis yang ganteng-ganteng—padahal ngefans sama Pak Koordinator Liputan YGN yang cool itu—dan pekerjaan yang sepertinya ringan. Sorry, lupakan kalimat yang dicetak miring di paragraf ini. Jadi, yang membuat saya belum yakin menjadi seorang reporter adalah: apakah saya mampu bekerja di bidang yang keras, penuh persaingan dan kepentingan seperti ini? Karena pekerja media (ini menurut cerita mereka yang berpengalaman) harus siap dengan tekanan, persaingan, amukan, makian, dan semua yang berakhiran ‘-an’ yang sulit bahkan untuk hanya dipikirkan. Bahkan saat ini, saat saya baru menempuh studi, saya merasa jika bekerja di bidang ini adalah hal yang berat. Salut dengan mereka semua…

Terutama, media saat ini yang sebagian besar dijejali kepentingan dari bos-bos mereka dan kepentingan lain, bekerja di media lebih sulit lagi. Saat terkadang harus membuat pembelaan yang ujung-ujungnya membuat berita bohong—di drama Pinocchio hal ini digambarkan—atau saat memplagiat berita sana-sini untuk mendapatkan data DEMI share and rating dan kepuasan audiens, membuat media sedikit kehilangan integritasnya di mata saya. Tidak semua, namun tetap saja hal ini menyedihkan.

Intinya, yang ingin saya lakukan saat ini adalah, menjadi bagian dari dunia media melalui apa yang saya dapatkan selama studi, dan berharap semoga dunia jurnalisme Indonesia semakin sehat. Inilah manis getirnya belajar di bidang jurnalistik.

Quotes: Jurnalistik adalah pengiriman informasi dari sini ke sana dengan benar, seksama, dan cepat, dalam rangka membela kebenaran dan keadilan.

– Erik Hodgins, Redaktur Majalah Time –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s