Apa yang Terjadi Jika Kau Adalah Beswan Djarum [1] : Tips dan Trik Lolos

Dalam mencari beasiswa, selain masalah sukses melewati berbagai seleksi, ada satu hal lagi yang menentukan: apakah beasiswa itu ‘cocok’ dengan si calon atau tidak. Hal ini terpikir setelah saya mendapat kabar baik dari Djarum Beasiswa Plus akhir Agustus tahun lalu. Banyak peluang beasiswa yang muncul sebenarnya, dari awal kuliah hingga semester empat. Dalam atau luar negeri. Tapi entah kenapa, semua peluang itu lewat, menguap begitu saja seperti bensin dalam jerigen yang dibuka tutupnya. Bahkan tidak saya coba. Jika tidak karena syarat beasiswa yang tidak sesuai untuk saya, feedback yang aneh-aneh untuk lembaga pemberi beasiswa, hingga syarat mendaftar yang panjang seperti struk belanjaan.

Tapi dengan tidak apply beasiswa apapun seperti itu, membuat saya sempat galau, terpuruk, merenung (nggak begitu amat sih). Kasihan melihat ortu terus menerus mengeluarkan dana buat dua anak kembarnya yang kuliah bareng ini. Selain itu, sudah banyak teman yang sukses mendapat beasiswa sana-sini, dengan berbagai kegiatan, dan nominal beasiswa yang menakjubkan bagi anak yang masih minta uang saku pada ortu.

Hingga saya merasa tua berada di semester empat, ada selebaran yang turun dari langit (jangan dibayangkan). Saya sudah kenal Djarum Beasiswa Plus sejak dulu. Ya, kenal dari TVC yang nyanyiannya gampang ditangkap. Sejak dulu pula, saya suka membayangkan apa yang terjadi jika saya adalah Beswan Djarum. Sure yang membuat saya tertarik bukan nyanyiannya, tetapi konten iklan tersebut. Ada yang namanya Nation Building, Character Building, Leadership Development, Community Empowerment. Pusing, sih, apa arti semua itu. Tapi melihat iklan yang menampilkan para pemuda yang sedang melakukan out bond, presentasi, menari, membuat saya mengerti apa makna kata ‘Plus’ di dalam nama Beasiswa dari Djarum Foundation tersebut.

Langsung apply pada akhirnya. Sekitar lima hari sebelum pendaftaran ditutup, saya sudah tenang karena berkas sudah dikirim Pak Pos. Yang saya pikir saat itu adalah: nothing to lose (bener nggak tulisannya?). Embuh saya akan mendapatkan beasiswa itu atau tidak pada akhirnya, saya jalan saja. Sebenarnya tips agar bisa lolos Djarum Beasiswa Plus sudah saya lakukan sejak awal:

Pertama, tidak menjadi deadliner saat pengumpulan berkas. Jangan kumpulkan berkas tepat waktu tapi kumpulkan berkas sebelum waktunya. Hahaha. Sebenarnya hal ini berlaku saat melamar apapun (sama halnya saat melamar pacarmu)—maaf karena tulisan ini menjadi biro konsultasi asmara.

Kedua, sebelum dikirim pastikan tidak ada syarat yang terlewat atau salah dilampirkan. Jangan salah tulis jurusan tempatmu kuliah, atau salah isi ukuran baju. Fatal nanti. Jangan menyesal saat berkas sudah dikirim, tahu-tahu teringat belum memasukkan KRS semester tiga.

Ketiga, nothing to lose. Jangan ngoyo—ngotot—untuk menjadi seorang Beswan. Ini berlaku untuk apapun sih, sebenarnya. Tapi saya sangat berpengalaman dalam hal ini (‘sangat’ adalah kata yang berlebihan). Ada banyak beasiswa yang saya apply sejak SMA, dan semua yang ngoyo tidak bisa saya tembus. Angan-angan dan impian boleh, sangat boleh, tapi jangan merasa mimpi itu gampang dan pasti jadi kenyataan. Butuh sikap ‘nothing to lose’ kalau ingin berhasil. Hm, itu ideologi saya sih.

Tiga langkah awal yang akan membawa sukses! Saya kira begitu. Lalu setelah semua beres, tinggal menunggu keputusan pemegang saham—yaelah. Tapi memang segala sesuatu tidak terlepas dari keberuntungan, Kawan. Terutama untuk masalah yang berhubungan dengan berkas-memberkas. Ada teman saya yang merasa sudah lengkap berkas yang dia kirimkan, tapi belum lolos dalam seleksi tahap ini. Tidak tahu, sih, sebenarnya apa kriteria kelulusan melalui berkas ini. Tapi ya, itu tadi, campur tangan Tuhan tetap ada. Saat tes lanjutan pun, masih saja saya melakukan ikhtiar, bahasa Jawanya nothing to lose tadi. Psikotes, diskusi kelompok, wawancara, lakukan dengan baik, jangan ‘dibaik-baikkan’. Karena segalanya akan ketahuan saat kita berhadap-hadapan dengan yuri—juri dalam bahasa sekarang. Hm, actually semuanya tidak bisa dilebih-lebihkan sih, karena sejak psikotes pun akan ketahuan seperti apa sifat-sifat kita. Kita tidak bisa lari dari kenyataan!—maaf kalau disturbing.

Tips untuk tes lanjutan:

Pertama, jangan coba-coba mencari bocoran soal psikotes karena bagaimanapun, sifat seseorang tidak bisa ditutupi dengan les-les atau buku kumpulan soal tes psikologi. Latihan saja buat berpikir lebih dari orang-orang lain. Hihihi.

Kedua, jangan sok mendominasi dalam diskusi. Apalagi jika kita tahu-tahu dilempari pertanyaan, dan tidak bisa menjawab. Malu!

Ketiga, ingat pasal awal: jadilah diri sendiri.

Tidak diduga, saya berhasil lolos menjadi satu dari 56 Beswan Semarang dari 1000-an pelamar. Yey. Akhirnya tidak minta-minta uang sama ortu setidaknya selama satu tahun. Yang membuat puas, karena kerja keras dan perjuangan yang panjang berbuah manis, setidaknya selama tiga tahun saya yang tanpa prestasi. Hiks. Menjadi Beswan sangat menyenangkan. Dan, AKAN ADA BANYAK KEJUTAN.

Awal yang canggung, saat pertama dikumpulkan di Kantor Dajrum Semarang, melihat wajah-wajah baru yang di antaranya terselip teman-teman SMA. Ganesha Muda Smaga Semarang yey. Ada orientasi dari Kakak-kakak Beswan sebelumnya yang cantik-cantik ganteng-ganteng. Setelah melalui orientasi dan dikatakan ‘resmi’ menjadi Beswan, perlahan rasa tidak nyaman dan canggung lenyap. Hingga gajian pertama—satu koma empat juta lho, pertamanya—lalu pembahasan kegiatan setahun, yang membuat mata kira-kira (itu bahasa Jepang, artinya berbinar-binar). Tahu-tahu lanjut ke Nation Building yang full of surprise dan Character Building yang menempa mental dan pisik kuat. Next post akan saya ceritakan. Hingga saya menulis tulisan ini, saya sudah lima bulan menjadi Beswan. Belum merasakan Leadership Development dengan Debate Competition-nya, Community Empowerment, Blog Competition, Writing Competition, dan InsyaAllah International Exposure. Ihiy. Yang pasti, menjadi Beswan itu satu: FULL OF SURPRISE AND EXCITEMENT.

PS: Cerita seru pengalaman Beswan akan diceritakan di post selanjutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s