Dee Lestari dan Kekuatan Tulisannya

“Identitas adalah syarat mutlak semua makhluk yang bernama MANUSIA, setiap individu manusia baru dapat dikatakan eksis apabila ia memiliki identitas.” Kalimat menarik tersebut—percaya tidak percaya—adalah tulisan pembuka dalam cerpen “Generasi Impian” yang ditulis Dee Lestari, jauh sebelum ia menjadi penulis populer Indonesia seperti sekarang. Seorang remaja yang baru mengenal dunia menulis, memiliki ide unik dan berbeda dalam menulis cerpen. Keluar dari “kebiasaan” tema tulisan remaja, ia sempat tidak percaya diri mempublikasikan karya-karyanya. Semua tulisan, cerpen, puisi, prosa, cerita bersambung miliknya hanya mendekam di laci meja belajarnya.

BFXqBpVCQAABsiL.jpg large
Draf asli Perahu Kertas
BFXtGdwCIAEIstw.jpg large
Draf “Generasi Impian”

Dee Lestari yang sempat merasa jika tulisan-tulisannya “melenceng dari pakem” dan “berbeda” dengan tulisan-tulisan kebanyakan, kini bisa membuktikan. Gaya menulisnya yang “mengalir, seenaknya, nyeleneh, keluar dari kebiasaan tulisan sastra” itu justru menjadi kekuatan dan daya tarik tulisannya di mata penggemar, termasuk saya. Akan sangat terasa jika tulisan Dee masuk ke kumpulan cerpen bersama penulis lain. Gaya tulisannya yang “tidak formal” itu unik, dan seperti memiliki jiwa yang berbeda.

Saat duduk di bangku SMA, draf berjudul “Kugy & Keenan” akhirnya berani ia keluarkan ke publik. Lalu dimuat dalam bentuk cerita bersambung oleh salah satu majalah remaja saat itu. Cerita ringan khas remaja itu sekarang kita kenal sebagai sebuah novel best selling dengan judul “Perahu Kertas”.

Memulai debut menulis melalui karya fenomenal “Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” (2001), banyak yang menyebut dirinya sebagai pelopor sastra modern Indonesia. Sejak duduk di bangku sekolah menengah, Dee sudah sering menulis banyak hal. Namun bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, Dee Lestari lebih dikenal sebagai penyanyi trio wanita Indonesia, bersama grup vokal RSD (Rida Sita Dewi). Masuk dalam dunia entertainment yang sibuk, tidak menghalangi Dee untuk berkarya.

Penulis berbakat yang lahir di Bandung, 20 Januari 1976 ini serius menggarap proyek novel larisnya, Supernova, dengan menelurkan episode kedua yaitu “Akar” (2002) dan ketiga, “Petir” (2004). Vakum delapan tahun, yang membuat penggemarnya dihantui rasa penasaran setiap hari, akhirnya episode lanjutan Supernova, yaitu Partikel, terbit pada tahun 2012. Tak lama berselang, mungkin juga karena desakan dari penggemar yang megap-megap setelah membaca edisi Partikel, akhirnya pada tahun 2014, diterbitkanlah Supernova edisi kelima yaitu “Gelombang”. Menyedot banyak perhatian pada peluncuran pertamanya, karya fenomenal Supernova kembali merajai novel fiksi laris Indonesia. Supernova sudah banyak mendapatkan pengahargaan baik nasional maupun internasional dan sudah diterjemahkan ke berbagai behasa di dunia. Bahkan novel Supernova sudah menjadi salah satu buku sastra populer yang digunakan dalam pembelajaran di sekolah-sekolah.

supernova-kpbj-01-front
Supernova KPBJ cetakan awal

Karya-karya Dee yang lain yang juga populer dan menjadi inspirasi banyak penulis lain adalah “Filosofi Kopi” (2006), “Rectoverso” (2008), “Perahu Kertas” (2009), dan “Madre” (2011).

Dee menjadi inspirasi bagi banyak orang melalui karya-karyanya yang cerdas dan penuh nilai selain dirinya sendiri yang jenius dan multi talenta. Terlebih, seperti yang saya katakan, keunikan dari cara bertuturnya melalui tulisan menjadi kekuatan yang sebelumnya ia anggap sebagai kelemahan. Tidak banyak penulis Indonesia yang memiliki cara bercerita khas Dee, sehingga ia mampu mempertahankan eksistensinya di dunia tulis menulis Indonesia.

Bagi saya, yang paling mempengaruhi saya adalah, bagaimana Dee menyampaikan suatu hal secara indah melalui tulisannya, dan membuat pembacanya menerka-nerka sendiri apa arti dari pesan yang tertuang secara tersirat—atau bahkan sangat gamblang—dalam tulisannya. Bagi yang mengerti apa yang hendak ia sampaikan, akan merasa terus menerus ingin membaca semua tulisannya. Tulisannya mengenai semesta, manusia, dan alam ia ramu secara santai dan menyatu—entah bagaimana—lalu merasuk ke hati dan pikiran pembacanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s