Bazaar Buku Murah = Cuma Ilusi

Seringnya saya heran saat mampir ke bazaar buku atau festival buku murah. Obral-obralan buku. Judulnya memang begitu, tapi bukan “cuma” buku saja yang digelar di lapak, tapi hal-hal lain pula. Lapak kerudung, dompet sintetis, parfum asli Turki (katanya), burger sapi (entah), pisang bolen, kismis Arab, paket alat tulis UAN, sampai pameran alat perang. Sadisnya, lebih banyak pengunjung yang mampir ke lapak-lapak tersebut daripada ke gelaran buku-buku diskon yang menjadi judul utama pameran.

Dari naga-naganya, pengunjung “lapak selain buku” ini cuma mengantar seseorang yang suka buku. Itu menurut saya, sih. Karena bagi seorang penyuka baca, kesempatan bazaar buku murah bagaikan olimpiade, empat tahun sekali datangnya!—nggak gitu amat sebenarnya. Maksudnya, jika ada event diskon buku murah, seorang book lover akan menggila, serta merta meninggalkan hal lain selain ngublek-ublek isi tumpukan buku. Sehingga dapat ditarik kesimpulan, pengunjung yang lebih suka icip-icip lapak lain ini tidak memiliki tekad dan niat bulat untuk beli buku sejak dari rumah.

Mungkin pengunjung itu juga tidak bisa disalahkan, terkadang apa yang disediakan di bazaar buku tidak seindah yang ditawarkan, tidak memenuhi ekspektasi penggemar buku. Banyak buku yang didiskon habis-habisan—beneran habis, kadang cuma dijual lima rebu rupiah per eksemplar!—namun yang dijual adalah buku yang memang nggak laku karena kurang peminat. Entah karena judul yang tidak menarik—saya pernah menemukan buku berjudul “Nak, Maafkan Ibu Tidak Bisa Menyekolahkanmu” (isinya mirip reality show yang direkayasa), “Mempelajari Microsoft Office dalam Satu Menit” (nggak mungkin, lah! Buka programnya aja udah habis semenit), “101 Resep Sambal Istimewa” (mules deh, mules makan sambel 101 hari berturut-turut), “Naruto VS Detektif Conan” (so? Kita harus terlibat?), “Jurus Sukses Lolos Tes CPNS Tahun 2002” (-___-). Atau mungkin karena buku-buku tersebut kelebihan muatan di gudang saking, atau buku-buku yang tidak bisa masuk toko buku karena tidak memenuhi standar, atau buku-buku bertahun sebelumnya yang lupa dijual si toko buku. Sekali lagi, sadis. SA-Dis. Giliran seseorang yang benar-benar penggemar buku ingin membeli apa yang ditawarkan, pilihan yang tersedia membuat sesak nafas, tidak ada yang bisa dibawa pulang.

Saya juga tidak bisa menyalahkan si pembuka stan selain buku tersebut. Mereka hanya mencari rezeki, dan memanfaatkan peluang yang disediakan panitia. Nah! Panitia adalah pangkalnya. Sebagai orang yang lumayan sering mengadakan event, saya mengerti bagaimana keberadaan penyewa stan itu sangat membantu dalam pendanaan suatu acara, dan juga menarik pengunjung untuk datang. But the actual problem is: terlalu banyak lapak selain lapak buku murah yang disediakan, bahkan terkadang seperti merebut paksa lahan tempat nongkrongnya buku-buku diskon tersebut. Terlebih lagi, seperti yang saya jelaskan di atas, buku yang disediakan kurang bermutu. Terkesan sebagai “tempat pembuangan akhir buku-buku tak layak jual dan tak laku oleh para penerbit dan toko buku”. Hiks.

Hingga saya menulis ini, belum pernah saya ketemu suatu bazaar, pesta buku yang benar-benar memuaskan hasrat membaca para penyuka buku—di kota saya dan kota tetangga. Seorang penggemar tidak memiliki alternatif mendapatkan asupan bacaan yang bergizi selain harus membeli buku baru dari toko buku yang harganya sekarang di atas 45 rebu (45 ribu itu yang buku tipis, lho)… Hiks. Bisnis memang begini, Kawan. So semoga perpustakaan universitas dan perpustakaan daerah terus berdiri dan menyediakan pemenuhan gizi bagi pecinta buku. Dan semoga teman-teman saya terus diberikan kesehatan dan rezeki sehingga saya sewaktu-waktu bisa meminjam buku dari mereka jika saya sakaw ingin membaca. Hohoho.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s