Ikut Keinginan Pasar atau Buat Hal Baru

Adik kembar saya punya kemampuan gambar yang keren. Terutama di bidang komik, gambar dia sudah bisa dikatagorikan ‘pro’. Inking—walau cuma pakai spidol sama drawing pen, toning—walau cuma pakai software editor gambar minta dari teman, semua sudah dilakukannya dengan baik. Gawatnya dia jarang menyebarkan karyanya di media manapun. SAYANG BANGET. Tapi dia lebih suka mengikuti kompetisi-kompetisi untuk membuktikan kemampuannya. Berkali-kali kalah, berkali-kali menang juga. Yang membuat saya gemas, dia sangat sulit untuk dibujuk memasukkan karyanya ke penerbit. Dia bilang: karyaku beda, susah disukai sama orang kebanyakan. Aku takut kalau tidak ada yang suka.

Well akar permasalahan di sini sebenarnya adalah: karya yang diterima publik itu yang sesuai dengan kesukaan pasar, atau karya yang unik dan berbeda? Bisa dikatakan jika ‘karya yang unik dan berbeda’ ini adalah salah satu cabang dari ‘karya yang bermutu’. Alasannya, karena karya yang bermutu selalu keluar dari pakem, membuat suatu jalan sendiri yang belum pernah dilalui orang lain sehingga memunculkan orisinalitas karya.

Gawatnya, hampir di seluruh bidang di dunia ini, seseorang lebih memilih membuat karya yang ‘laku di pasaran’ daripada karya yang bermutu. Atas nama asal penonton senang, maka suatu karya akan dibuat mengikuti selera penonton. Terkadang tanpa melihat kualitas dari suatu karya tersebut. Dari kasus kembaran saya, sebenarnya hal wajar bagi dia untuk merasa worry, cemas akan kelangsungan karya yang ia buat. Di saat cerita-cerita arus utama—mainstream—menjadi suatu topik yang disukai oleh penonton daripada karya yang ‘baru’. Contohnya, saat ini genre lagu yang disukai adalah lagu cinta dan lirik pasaran—itu-itu saja, sehingga hampir semua musisi beralih genre mengikuti yang diinginkan penonton. Begitu juga kasus kembaram saya, tipe gambar dan ceritanya yang ‘satir, gelap, penuh teka-teki’ menjadi momok bahkan untuk dirinya sendiri, apakah karyanya tersebut akan laku dijual. Komik komedi atau cinta sedang—dan mungkin akan terus—digemari pembaca yang membuat banyak komikus beralih genre untuk mendapat perhatian pasar.

Sangat sedih rasanya di saat kemampuan seseorang yang jauh lebih baik harus menyerah begitu saja dengan tuntutan dari pasar. Ada contoh lain, yaitu karya tulis. Dalam hal ini saya bicara Indonesia, karena saya lebih tahu keadaan negeri sendiri. Di saat karya tulis seorang publik figur atau orang terkemuka muncul di tengah masyarakat, maka karya tersebut refleks menjadi top selling product, re-stock di seluruh toko buku. Namun tidak cukup hanya dengan apakah dia seorang publik figur saja, yang pasti genre yang sesuai pasar juga menentukan. Karya tulisan bertema remaja, cinta, religi—cerita biasa saja yang kebanyakan—akan lebih mudah ditembus daripada tema fiksi ilmiah, semi-biografi, sejarah, atau sastra—cerita berbobot. Ini kenyataannya. Dan yang disayangkan, banyak penulis berubah haluan mengikuti pasar daripada berjuang mempertahankan keunikan dan kualitas tulisannya. Ini hanya oknum, namun benar-benar ada.

Dunia media juga terjangkit. Para kreatif televisi akan melihat ‘ratings and sharing’ program apa yang diinginkan masyarakat, bukan program apa yang dibutuhkan masyarakat. Orientasi pada pasar, kesuksesan dalam bidang bisnis. Sehingga hal ini menjadi wabah menular dari satu stasiun TV ke stasiun lain. Pasar menginginkan drama Bollywood, lalu TV berlomba. Pasar menginginkan reality show berlinangan air mata, maka stasiun TV akan memprogram jenis acara yang sama. Terkadang persaingan menyebabkan gesekan di sana-sini antarstasiun TV, dan juga menyebabkan berpindahnya kepentingan masyarakat menjadi ‘sesuatu yang seragam dan terkadang kurang penting’.

Ini masih menjadi pertanyaan bagi saya sendiri, apa yang harus dilakukan para produsen, seniman, kreator? Apakah mengikuti minat pasar—orientasi bisa beralih ke keuntungan semata—atau mengikuti hati nurani, untuk menghasilkan karya baru dan berkualitas? Saat ini, saya yang masih berstatus penikmat hanya bisa mengikuti yang benar-benar baik, bukan yang terlihat baik.

Quote: Ujung-ujungnya duit dan popularitas…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s