Saat Membaca Cuma Jadi Tren

Saat memenuhi nutrisi akan buku, teringat satu fenomena zaman sekarang. Ngaku suka baca, tenteng-tenteng buku ke mana-mana (padahal tas masih lowong). Giliran ditanya, cuma bisa jawab seadanya. Kadang saya merasa ‘hobi baca buku’ zaman sekarang itu cuma buat gaya-gayaan, biar eksis, ungkap beberapa oknum. Apa yang menjadi landasan seseorang (oknum) pergi ke toko buku, perpustakaan, cuma untuk memenuhi tuntutan zaman. Padahal bagi seorang penyuka buku, bacaan apapun—majalah bekas buat bungkus nasi rames, tabloid selembar dari masjid, cerpen ‘nyastra’ dari koran Sabtu—semua dirasa harus dibaca. Entah bagaimana, ada semacam energi tak kasat mata yang menyeret tangan ini untuk memungut kertas-kertas tersebut lalu membacanya. Ahahaha.

Saat muncul suatu judul buku—kebanyakan sih, novel atau biografi—yang populer di media, maka serta merta banyak orang memburu, rela antre untuk mendapat edisi khusus tanda tangan. Senang rasanya sebenarnya saat melihat banyak orang mendadak suka membaca. Tapi setelah fenomena selesai, semua balik kanan bubar jalan. ‘Hobi baca’ tahu-tahu lenyap dari daftar kegemaran. Pembaca musiman ini banyak saya temui sebenarnya. Tapi rasa-rasanya saya bukan apa-apa jika mau memberi ‘label’ ini. Huhuhu. Yang pasti sangat sayang jika seseorang menyukai suatu buku, lalu didiamkan di rak begitu saja tanpa dibaca sampai tuntas, saat tidak banyak lagi orang yang membicarakan karya tersebut. Bahkan lebih sayang lagi jika mengaku penggemar penulis tertentu, malahan tidak tahu isi buku yang ditulis penulis favorit tersebut secara mendalam.

Ya, bagaimanapun yang namanya ‘mengaku-aku’ itu nggak murni betulan. Pasti disisipi oleh kepentingan tertentu yang membuatnya merasa ingin ‘mengaku’—nggak jelas ya bahasanya? Maaf yaa… Sebut saja saat novel Hunger Games-nya Suzanne Collins atau Marmut Merah Jambu-nya Raditya Dika laris manis di pasaran. Saya merasa déjà vu di manapun saya berdiri. Setiap anak muda menenteng novel tersebut. Iya, betulan menenteng. Tidak dimasukkan tas yang padahal masih muat dimasuki sepatu olah raga. Entah mungkin agar terlihat ‘hobi baca’ atau ‘udah baca novel ini nih’. Saya sampai merasa kagok ingin pinjam ke teman…

Saya bisa berkata seperti ini karena kembaran saya penyuka baca sejati. Saya masih kurang sejati sih karena terkadang masih menjadi pemilih akut. Kembaran saya bisa menyelesaikan novel sejarah Musashi-nya Eiji Yoshikawa yang setebal batako itu dalam waktu tiga hari saja, atau Pulang-nya Leila S. Chudori dalam waktu dua hari, atau 1984-nya George Orwell dalam satu hari satu malam, malah lebih suka menjejalkan buku-buku tersebut ke dalam tasnya yang minta ampun beratnya. Dia merasa jika kegemaran membaca tidak perlu ditunjukkan, namun cukup dibuktikan saja. Saya terharu.

Namun anehnya teman saya yang mengaku golongan ‘pembaca musiman’ pun berkata jika menjadi pembaca musiman itu juga sulit. Ia musti menyelesaikan satu judul buku—yang menurutnya tebal banget—padahal dia sendiri tidak suka membaca. Ia seperti dikejar deadline saat terdesak harus bisa mengimbangi pembicaraan teman lain yang sudah duluan membaca. Sudah dikatakan dari awal, sih, jika hal yang dipaksakan itu bakal sulit banget.

Sampai saat ini, saya lupa sudah membaca berapa judul buku—ngapain juga ngehitung. Yang pasti, keinginan membaca itu muncul secara alami dari dalam hati. Tidak pernah dipaksakan, tidak pernah ada yang memaksakan. Tidak masalah jika memang tidak suka membaca, namun jangan membohongi diri sendiri dan orang lain jika memang hanya membaca untuk mengikuti tren. Karena penulis mungkin akan merasa sedih saat tulisannya dibeli hanya untuk pamer saja, bukan untuk dimengerti maknanya.

Quote: Buku elektronik bikin sakit mata, jadi lebih suka membaca buku sungguhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s