#Filosofi: Dunia Terkadang Fantasi

Bayangkan jika kita hidup di dunia Alice terdampar, Wonderland. Atau dunia di mana Peterpan tidak pernah menjadi tua, Neverland. Semua keinginan yang terucap serta merta muncul di depan batang hidung. Semua harapan yang dipendam tahu-tahu datang dari langit. Semua cerita yang dirasa tidak menguntungkan, terselesaikan dengan happily ever after. Jujur saja, pemikiran seperti itu malah terkadang lewat saja di benak anak-anak, namun merajai sebagian besar jalan pikiran manusia dewasa. Beratnya bertahan hidup di bumi membuat dunia fantasi seolah-olah penting dan bisa diraih. Banyak yang ingin lari-lari di ladang jamur raksasa atau rumah permen dan bersantai di ladang selai stroberi. Itu bukan impian anak-anak. Itu keinginan manusia dewasa yang penat dengan kehidupan realistis.

Tidak disangkal jika semua orang ingin hidup nyenyak. Damai tanpa diganggu aktivitasnya. Namun selama manusia masih hidup bukan di Neverland, manusia akan terus dihampiri masalah, dihampiri penuaan. Tidak hanya bayangan ladang jamur yang akan lewat begitu saja, namun bayangan akan hidup “mudah” mejadi pekerjaan rumah bab mengarang. Namun sekali lagi, tidak ada yang bisa menyalahkan mimpi. Tidak ada yang boleh menutupi angan-angan. Tidak ada yang diizinkan meruntuhkan fantasi. Karena setiap manusia lahir dari impian. Berasal dari keinginan untuk eksis, kesadaran untuk hadir. Maka sejak saat itu, manusia akan sulit dihapus keberadaannya hingga saat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s