#Filosofi: Mimpi Panjang Astronot dan Star Trek

Astronot mendobrak takdir manusia. Gagarin merealisasikan mimpi siang bolong. Star Trek memberikan imajinasi persahabatan antargalaksi. Di mana manusia selama beribu tahun hidup di dalam kubah tak kasat mata berdasar pijakan bernama bumi. Dengan terbangnya Gagarin tahun 1961 ke luar angkasa, harapan manusia meninggi. Semangat menggebu karena berhasil mengirim satu individu keluar kubah bumi. Yakin jika di masa depan, perjalanan antargalaksi dan eksplorasi jagad raya merupakan bagian tur liburan akhir semester. Angan-angan untuk bisa minum air yang melayang-layang rasanya sudah sangat mungkin untuk diraih. Manusia bisa bebas dari kungkungan kubah transparan yang melingkupi dunia.

Star Trek muncul sebagai pemikat lain angan-angan manusia untuk bisa jalan-jalan ke antariksa. Meski awalnya, tahun 1966, penduduk Amerika tidak peduli dengan impian NBC untuk menghidupkan persahabatan manusia dan ras-ras lain di seluruh alam semesta. Star Trek Original hanya dianggap bagian dari gempita Gagarin dan kesuksean NASA. Namun mata dunia terbuka saat tahun 1978, kembali USS Enterprise melambungkan impian manusia pergi ke galaksi tetangga. Persahabatan manusia (Capt. Kirk) dan bangsa Vulcan (Commander Spock) menjadi daya tarik tersendiri yang—lagi-lagi—menbuat manusia ingin pergi ke angkasa luar. Star Trek Phase II kembali merajai imajinasi manusia bumi.

Astronot banyak yang tidak kembali. Star Trek: Into Darkness dianggap film paling gagal abad ini. Impian manusia untuk sampai ke galaksi lain mentok. Impian untuk menginjak Mars masih terus dalam tahap rencana dan wacana. Hanya beberapa yang sukses melihat indahnya bumi dari luar atmosfer. Bumi yang—katanya—berwarna zambrud, biru kehijauan. Tapi manusia tidak menyerah. NASA terus menerus membuat terobosan dan merekrut banyak calon astronot dari seluruh dunia. Film-film fiksi mengenai angkasa luar mendapat Oscar, film-film kartun mengenai astronot semakin digemari. Masih ada harapan dan upaya manusia bumi untuk bisa mengadakan tur wisata—setidaknya—ke bulan.

Namun yang pasti, masih berada di dalam kubah membuat manusia seharusnya bersyukur. Diberi tempat tinggal yang indah dan berwarna biru kehijauan, lebih banyak air daripada daratan, dan spesies unggul yang—katanya—sempurna. Teknologi untuk mengirim manusia ke luar angkasa merupakan suatu upaya penjelajahan ruang dan waktu untuk mempersiapkan kemungkinan musnahnya dunia ini. Tidak ada yang tahu pasti, namun setidaknya astronot dan Star Trek sudah memberikan suatu pengharapan baru akan mimpi-mimpi manusia yang tertunda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s