Apa yang Terjadi Jika Kau adalah Beswan Djarum [5] : Community Empowerment

Masih terasa atmosfer pedesaan Mangkang Kulon saat saya tulis tulisan ini. Atmosfer keramahan dan keceriaan komunitas petambak bandeng Mina Barokah yang antusias dengan kedatangan kami. Tim Community Empowerment 1 Beswan Djarum Semarang akhirnya mendapat acc dari pembina sekitar bulan April 2015 setelah perjalanan yang panjang dalam menyusun proposal, survei, hingga presentasi. Kami membuat sebuah program yaitu pengolahan pakan organik bagi bandeng di sana. Punya jargon lucu nih: pakan sehat bandeng pun nikmat. Yey. Hahaha.

Intinya, di sana kami memberdayakan masyarakat petambak bandeng yang masih memakai pupuk urea untuk tambak mereka, di mana pupuk urea itu kurang baik untuk perkembangan bandeng. Kami memberi sosialisasi mengenai penggunaan dan pembuatan pakan organik bagi si bandeng itu. Menghadirkan dua pembicara pada hari kedua CE–sosialisasi dalam bentuk diskusi dengan warga–yang merupakan ahli bidang pupuk organik dan pertambakan bandeng. Setengah mati teman-teman berjuang mendapat pembicara ini tapi hasilnya memang bagus. Hehew. Para warga desa (petambak bandeng, petani rumput laut, peternak sapi, dan lain-lain) sangat antusias bahkan rebutan bertanya. Senangnyaaaa.

Hal yang menguntungkan dari pemilihan tempat project di sana adalah lengkapnya semua fasilitas. Maksudnya di sini adalah semya bahan, tools, equipments yang kita cari pasti ada di sana. Seperti homestay, tempat pesan makanan, sewa sound system, pembuatan buis beton (apa ini? Saya kasih tau nanti), hingga sumber sampah organik untuk bahan dasar pupuk, semua tersedia. How blessed we are.

Hari terakhir, kami melakukan kerja lapangan. Pergi ke tambak yang panas banget untuk menebar pupuk organik ke dasar tambak yang dibagi menjadi dua kelompok kecil (perasaan saat istirahat di tepi tambak di bawah bayangan rimbun pohon mangrove dan makan bersama itu amazing) karena ada dua tambak yang kami target untuk disebar pupuk organik. Kemudian menyebar bibit bandeng (nama beken di sana itu ‘teter’) yang bayinya mirip teri ternyata.

Dilanjutkan dengan pembuatan bak kompos dari buis beton tadi, dan penggilingan bahan baku kompos dengan alat pencacah rumput. Ini nih yang makan paling banyak biaya. Hahaha. Tapi tenang saja, Djarum Foundation membiayai semua tetek bengek project kami, berapapun jumlahnya. Yey. Balik lagi, pembuatan bak kompos dan penggilingan bahan kompos ini lebih mendekatkan kami dengan penduduk di sana. Bercanda tanpa melihat batas usia dan lainnya, dengan bersama bekerja membuat project kami berhasil.

Hal menarik dan membekas di pikiran itu saat kami disuruh beristirahat dan menikmati sajian yang ternyata sudah disiapkan bapak-bapak di sana. Bandeng asap dengan sambal kecap. Bandeng asap itu betulan bandeng segar yang dibakar begitu saja di atas arang. Enak :Q

Setelah penyerahan plakat dan pamit-pamit, berakhir program kami. Namun bukan sampai di situ saja. Kami harus melihat terus perkembangan tambak yang kami beri pupuk organik dan perkembangan komposer kami. Hasil apa yang nanti akan kami lihat, itulah seberapa sukses proyek yang kami lakukan.

Akhirnya, kembali ke aktivitas rutin di rumah dan kampus masih belum bisa menghilangkan keseruan Community Empowerment ini. Semoga kerja keras yang dilakukan Tim CE 1 Beswan Semarang bermanfaat bagi penduduk di sana.

PS: sengaja saya tulis pakai bahasa sederhana agar semua bisa merasakan atmosfer kesederhanaan dan keceriaan di sana. Ehehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s