Bersuara untuk Perdamaian

Agak miris saat melihat orang-orang setengah hati membela perdamaian. Dengan alasan-alasan tertentu, seruan perdamaian dianggap sebagai suatu kegiatan “memilih” mana sebenarnya yang harus dibela.

Menilik seruan #prayforparis yang kemudian dari beberapa kelompok mengaggap hal itu hanya berpihak pada suatu golongan, rasa-rasanya perdamaian dicederai. Menganggap keprihatinan pada tragedi harus dilihat dari golongan, ras, jumlah korban, membuat kemanusiaan disalaharti.

Bukan itu, bukan. Mereka yang secara langsung menghadapi tragedi, tidak menahu mengenai gerakan yang dilakukan dunia. Mereka hanya berjuang bagaimana hari esok masih terus ada untuk mereka dan keluarga, itu saja. Prancis terluka dan kita harus berempati. Palestina disiksa dan kita harus berempati. Beirut terteror dan kita harus berempati. Myanmar dikhianati dan kita harus berempati. Semua sama titik.

Menolak untuk dikatai berpihak pada satu pendapat, saya memilih untuk menjadi agen perdamaian yang sportif. Murni melihat perdamaian sebagai perdamaian yang mutlak, perpanjangan dari kebebasan dan hak asasi. Berusaha melupakan latar belakang, tempat di mana, suku yang mana, jumlah korban berapa. Yang pasti, anti terhadap manusia-manusia tak berakal yang mengatasnamakan agama atau kelompok. Yang seolah-olah merasa paling suci dan disayangi Ilahi. Yang tega makan bangkai saudara sendiri dan menari sampai pagi. Sungguh, apakah logika dan nurani lenyap begitu saja karena dibutakan ajaran-ajaran tidak bertuan yang kebenarannya saja diragukan? Bebal benar…

Inti dari semuanya, sebuah dukungan seharusnya tidak memandang apapun. Jika sesama manusia terjatuh, manusia lain saling membangunkan. Sudah, begitu saja, sangat sederhana. Tidak perlu kita tengok lain-lain untuk mengulurkan tangan, atau setidaknya mendoakan. Prancis, Suriah, Beirut, Myanmar, Palestina, Indonesia, semua sama-sama negara yang didiami manusia. Tidak lain, kita yang sesama harus mendukung semua, tanpa tengak-tengok ke mana-mana. Jika kemanusiaan dilukai, harus berama melawan. Bukannya cari-cari pro kontra.

Dunia tidak lagi butuh serangan-serangan ego. Dunia hanya butuh ikatan lengan, satu sama lain. Biarlah mereka yang ingin memisahkan, yang bisa manusia lakukan adalah terus saling percaya, mendukung. Karena kita manusia, maka berlaku seperti manusia. Yang tidak setuju, sudah tidak lagi termasuk manusia.

[Untuk saudara di negara-negara yang sedang sulit. Kita jalan sama-sama, semuanya.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s