#Filosofi: Biji Kopi dalam Seni

Dosen praktisi mata kuliah DKV datang ke kelas membawa tiga bungkusan kecil plastik bening. Sekelas bengong, bertanya-tanya apa yang beliau bawa.

“Ini tiga bungkus kopi,” katanya sambil mengangkat bungkusan itu setinggi mata.

“Yang pertama biji kopi mentah. Bungkusan kedua biji kopi yang sudah disangrai. Yang ketiga kopi sudah ditumbuk. Kalian pilih yang mana?”

Semua menjawab bebarengan seperti tawon keluar sarang. Berusaha menebak berdasar logika berpikir masing-masing. Lalu dosen tersebut menjelaskan maksud menanyakan hal itu pada kami. Singkatnya, biji kopi tersebut diumpamakan sebagai karya seni. Yang mentah melambangkan karya seni murni yang masih baru, orisinal, baru saja dituangkan dari pikiran. Biji kopi yang disangrai diumpamakan sebagai karya seni yang berasal dari seni lain yang sudah ada, namun masih memiliki kemungkinan untuk diolah lebih banyak lagi. Masih mungkin ditambah ini itu karena merupakan hal sudah ada yang belum sepenuhnya sempurna. Kopi yang telah ditumbuk berarti karya seni yang sudah jadi, tinggal sedikit saja ditambah suatu elemen, akan menjadi karya seni sempurna. Karya seni ini sudah ada dan populer, tinggal bagaimana kita mengulik sedikit hingga menjadi sesuatu yang spesial.

Dalam hal ini saya menyimpulkan, jika seorang artist harus mampu mengolah suatu karya, apapun bentuknya, untuk menjadi karya “orisinal” miliknya sendiri, dan memiliki nilai lebih dibanding yang lain. Entah karya itu masih benar-benar baru atau setengah jadi atau populer, seorang artist harus mampu membuat karya yang menarik, istimewa, masterpiece yang sesuai dengan dirinya. Sebuah karya seni akan bernilai lebih saat karya tersebut mampu memperlihatkan roh si pembuat, bagaimanapun bentuk asalnya.

Dan seorang seniman harus memilih “cara” ia berkarya. Apakah menggunakan ide yang sepenuhnya baru, atau ide yang telah ada namun dikembangkan banyak, atau menggunakan hal yang sudah ada dengan sedikit polesan.

Saya seorang hobi menggambar, memiliki banyak inspirator. Terkadang saya mengekor artist favorit, atau kadang berubah haluan karena terpikat artist lainnya lagi. Hal ini menjadi pelajaran baru jika seorang yang berkarya harus memiliki “cara”-nya sendiri. Bagaimana mencipta atau mengolah karya sesuai dengan dirinya. Tanpa terpancang dengan orang lain, seorang seniman harus mampu membuat karya orisinal yang menarik, apapun bentuk dasar seni yang diolahnya tersebut. Karena berkesenian adalah kegiatan fleksibel. Kegiatan penggambaran, ekspresi diri. Ya, setidaknya saya menyadari jika saya tidak boleh mengekor, namun harus mengolah kemampuan sendiri, dengan cara sendiri, metode sendiri, tanpa meninggalkan penghargaan terhadap milik orang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s