Kita, Waktu, dan Sampah Kosmik

Memandangi tumpukan komik Doraemon yang kertasnya sudah mencokelat, sebuah pikiran datang menyirat. Betapa menyeramkannya waktu. Betapa cepat seorang manusia bertumbuh, berkembang, hingga kemudian mati. Mencoba mematri kata “menikmati fase kehidupan” namun entah kenapa selalu gagal. Ujung-ujungnya kebingungan sendiri bagaimana cara menghentikan waktu. Tapi kita semua, manusia, hanya bisa pasrah ragawi digerogoti usia, dirampok waktu. Tidak bisa melawan, hanya akal saja yang nantinya abadi.

Saat terkadang ingat masa dibonceng motor bertiga dengan kembaran, dipakaikan jepit rambut bola-bola, bermain bulu tangkis dengan batu dan kayu, naik patung badak raksasa, rasanya sulit dipercaya sudah sampai tahap ini. Usia duapuluhan bukan remaja lagi, namun menapak kedewasaan. Mulai banyak pikiran bekejaran. Mulai banyak beban menyangkut di kerongkongan. “Bermain” menjadi kata predikat yang beda makna dengan dahulu kala. Kini, “bermain” lebih menjorok ke arah “bergaul”, lalu “menjalin hubungan”, lalu “mencari relasi”. Lama-lama berbau kepentingan, politik, bisnis. Saat keharusan bagi orang dewasa menyerang, rasanya ingin kembali usia satu digit. Kepolosan menjadi kewajaran dan kemakluman bagi semua pihak. Ah, sayangnya saya bukan pengendali waktu, begitu pikir orang mulai dewasa yang sedang “turning down”. Ya tapi dunia selalu dan selamanya begitu. Ia berotasi ke barat, 23 jam 56 menit per hari, 364 seperempat hari setiap tahun. Tidak ada satupun organisme yang mampu mengelak.

Pada akhirnya, semua jadi tua. Sebelum itu,semua harus melalui fase hidup yang banyak pahitnya. Entah menjadi orang terkenal atau orang pinggiran, kehidupan tetap berjalan. Ia tidak mau menengok ke belakang, tidak seperti film-film fiksi ilmiah yang memberi mimpi mesin waktu.

Ya, betapa mengerikannya waktu. Merenggut perlahan nafas dan aliran darah. Sangat pelan sampai suara tapak kakinya tidak terdengar. Memandang benda-benda masa lalu, membuat memori kembali terbuka. Namun waktu masih berjalan sama. Yang bisa dilakukan sekarang hanya menikmati fase–meski terkadang sulit pemerapannya–dan mengikuti apa yang diminta zaman. Jalani senormal mungkin. Walau terkadang “normal” kita berbeda dengan “normal” mereka. Tapi sekali lagi karena kita tidak bisa lari dari cengkeraman waktu.

Saat fase terpuruk dan bosan dengan kehidupan, coba untuk kembali mengingat jika hari ini adalah masa depan, walau emosi dan ego terkadang lebih mendominasi. Ya, bagaimanapun pada akhirnya kita ini hanyalah sampah kosmik yang ukurannya terlampau kecil untuk dipahami siapapun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s