Kontroversi Hari Pers Nasional: Independen yang Terpenting

Hari ini, 9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional. Banyak yang “percaya” tanggal tersebut merupakan “hari kelahiran pers” yang sesungguhnya, namun banyak juga kalangan yang tidak menyetujui tanggal 9 Februari sebagai HPN. Polemik ini terjadi lantaran perbendaan pendapat dari berbagai institusi maupun para ahli. Penetapan 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional (HPN) didasarkan pada hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Banyak opini jika tanggal 9 Februari bukanlah “Hari Pers Nasional” namun “Hari Jadi Pers” karena tanggal didasarkan pada hari jadi sebuah organisasi, bukan berdasar peristiwa nasional.

Menilik sejarah, banyak kalangan juga mengusulkan HPN dijatuhkan pada tanggal 1 Januari. Tanggal tersebut merupakan terbit pertama kalinya koran berbahasa Melayu bernafaskan nasionalisme, Medan Prijaji. Koran yang terbit pertama kali tahun1907 dan diprakarsai oleh R.M. Tirto Adhi Suryo tersebut dipercaya merupakan tonggak kelahiran pers berbahasa pribumi dan mengandung benih pergerakan nasional. Meski pendapat ini juga diperdebatkan karena Medan Prijaji dinilai bukan koran berbahasa Melayu pertama, karena ada berbagai koran yang sudah lebih dulu diterbitkan dengan bahasa Melayu. Di antaranya adalah Soerat Kabar Bahasa Melaijoe (Surabaya, 1856), Soerat Chabar Betawi (Betawi, 1858), Selompret Malajoe (Semarang, 1860), Pertela Soedagaran (Surabaya, 1863), Bintang Timor (Padang, 1865), Bintang Djohar (Betawi, 1873), Mata Hari (Makassar, 1883), Pelita Ketjil (Padang, 1886), Insulinde (Padang, 1901) (beritasatu.com)

Terlepas dari argumentasi penetapan HPN yang jatuh tanggal 9 Februari, menurut pendapat pribadi saya, saya berdiri pada posisi 1 Januari. Di mana koran Medan Prijaji memang bukan media massa cetak (koran) berbahasa Melayu pertama di Indonesia, namun Medan Prijaji adalah koran yang berani menentang dominasi kolonialisme pertama kali, melalui tulisan, opini, dan pemberitaan. Medan Prijaji merupakan salah satu tonggak lahirnya pergerakan nasional Indonesia yang saat itu masih berbayang Netherland, yang saat itu masih tidak punya kenangan “masa depan tanpa Belanda”. Hal ini bisa menjadi landasan mengapa 1 Januari yang merupakan edisi pertama Medan Prijaji (saat itu masih menjadi koran mingguan) merupakan kandidat kuat HPN (menurut saya). Tentu saja penetapan tanggal berdirinya suatu organisasi menjadi “hari nasional” bukanlah ide terbaik. Namun bagaimanapun juga, masyarakat dan pewarta berita merayakan hari ini sebagai HPN, dan 9 Februari membuat semangat baru bagi semua jurnalis untuk terus berkarya secara independen, jujur, akurat, dan terpercaya. Semoga semangat Hari Pers Nasional menjadikan suntikan energi, terlepas dari adanya kontroversi. Tidak ada yang salah atau benar, hanya perbedaan yang tentu tidak akan menyurutkan profesionalisme seseorang atau organisasi. Semoga pers Indonesia semakin murni dan jujur.
-No offense, tulisan ini adalah murni pendapat pribadi berdasar pengetahuan selama ini-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s