Lihat Sisi Lain #KemanaKomikIndonesia

Saya merasa tergelitik saat banyak muncul hastag yang mempertanyakan keeksistensian komik Indonesia zaman sekarang. Sebagai penggemar, penghobi, dan pendukung komik Indonesia, saya merasa juga harus memberi pendapat. Di sini, saya bicara sebagai pengamat, penggemar, bukan penggiat. Bicara melalui pengalaman dan perasaan seorang yang tahu apa yang terjadi di balik layar.

Saya sedih saat banyak artis komik saling lempar argumen, saling salah menyalahkan, benar membenarkan, mendukung komik yang ada di “zamannya” sebagai yang paling benar. Pertanyaan dari seseorang yaitu: ke mana komik Indonesia? memunculkan banyak opini baik dari artis maupun pengamat komik. Banyak persepsi mengenai apakah kalimat tersebut merupakan kalimat tanya, pikiran, kepolosan, cibiran, atau sekedar retoris. Kalimat kecil itu membuahkan perdebatan yang masih hangat hingga saya menulis tulisan ini. Tidak mengerti sebenarnya apa yang dimaksudkan si penanya, namun saya berusaha berada di tengah argumen.

Perdebatan yang muncul kemudian menyentuh masalah style atau gaya gambar (yang menurut beberapa artis, komik sekarang lebih mengarah ke gaya gambar bukan Indonesia), ide cerita (lebih ke ide cerita bukan Indonesia pula), hingga menyikut ke komik zaman sekarang yang disebar via online untuk tahu apakah diterima oleh pembaca atau tidak, baru dicetak setelah yakin laku. Memang saya akui, komikus sekarang memiliki gaya gambar yang jauh berbeda dengan gaya gambar komikus zaman dulu. Perbedaan media gambar, influence dari gaya gambar yang sudah universal, hingga gaya gambar yang diminati kebanyakan orang zaman sekarang mungkin menjadi faktor mengapa style gambar komikus sekarang ini jauh berbeda dengan gaya gambar zaman R. A. Kosasih dan kawan-kawan. Ya, utamanya adalah minat pembaca yang sangat mempengaruhi komikus membawa gaya gambarnya, juga ide cerita yang ia lemparkan. Namun di sisi lain, Indonesia sebenarnya memiliki banyak komikus yang punya gaya gambar yang–menurut beberapa pendapat–sangat Indonesia. Tapi sekali lagi, masalah bukan di sini. Masalahnya adalah apa yang pembaca sukai agar komik Indonesia terus hidup. Tidak dapat dipungkiri jika nyawa, keeksistensian komik kita, ada di tangan pembaca. Pembaca adalah komunitas netral, tidak terikat kepentingan, dan ingat, pembaca itu bukan mereka yang tahu balik layar dunia komik. Sehingga disadari atau tidak, pembaca komik membawa ke mana arah komikus membuat karyanya.

Bagi saya, pertanyaan “ke mana komik Indonesia” adalah suatu ungkapan retoris yang sebenarnya merupakan tamparan bagi semua pengamat komik Indonesia. Tamparan untuk melihat lagi, bagian mana yang salah dalam dunia perkomikan di negara kita ini. Pertanyaan itu juga bisa berarti sebuah pertanyaan polos, pertanyaan dari orang awam. Apakah komik Indonesia kita saat ini betulan “ada” di mata masyarakat atau tidak. Ya, di sini letak intinya. Komik Indonesia, bukan hanya dinikmati dan diketahui bagi insan perkomikan atau orang yang berada di lingkaran dunia komik. Komik Indonesia juga dinikmati seluruh masyarakat yang tidak tahu menahu masalah “teknik menggambar, style gambar, atau laku tidaknya komik”. Jika ada komikus yang berkata: “helo, kau saja yang tidak update tentang komik Indonesia! Kita udah punya banyak!” berarti ia hanya melihat dari sisi dunianya sendiri. Sekali lagi perlu diingat, para pembaca tidak tahu apapun soal di balik layar dunia komik Indonesia. Yang mereka tahu hanya “komik apa? yang mana sih? aku belum pernah lihat? kalau yang itu aku tahu”. Jadi bagi semua komikus dan artis, perdebatan akan terus berjalan dan tidak mungkin mencapai kata sepakat jika hal ini hanya dilihat dari satu sisi, sisi yang terlihat oleh komikus. Banyak ego, ide, kepercayaan, terkuburkan tidak akan berhenti.

Intinya menurut saya adalah dibutuhkan adanya suatu pengertian dalam diri penggiat komik Indonesia saat ini. Pengertian ini akan menuntun kepada kesadaran, dan evaluasi diri, apakah komik Indonesia saat ini “dilihat” oleh masyarakat kita sendiri atau tidak. Sehingga bagi saya, pertanyaan “ke mana komik Indonesia” adalah suatu gambaran mengenai sebenarnya komik Indonesia itu ada, dan terlihat, namun hanya bagi sebagian kalangan. Mau terima atau tidak, yang pasti kita semua harus lebih bekerja keras untuk “memasyarakatkan” dan “mendekatkan” komik Indonesia ke rakyatnya sendiri. Butuh evaluasi dan sikap “legawa” bagi para komikus agar pertanyaan ini menjadi cambuk, bukan bahan debat.

Yang terpenting, bagaimana cara agar semua masyarakat Indonesia sadar dan tahu jika komik Indonesia itu ada. Benar-benar ada.

Quote: Kalau sesuatu dilihat dari satu sisi saja, maknanya bisa beda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s