Manusia Bermedsos Maka Ia Ada

Saya tergeli-geli saat mendengar (sayangnya saya lupa kapan, siapa, dan di mana) seseorang berkata : seseorang bermedia sosial, maka dia ada. Membelokkan quotes populer Sokrates yang intinya adalah: manusia eksis, maka ia ada. Ya, kalimat sindiran satir seseorang di atas memang tepat. Saat dunia sudah penuh sesak dengan makhluk hidup: manusia, hewan, tumbuhan–plus semen dan teknologi, seseorang akan dikatan “tidak eksis”, “tidak ada”, “tidak hidup” jika tidak memiliki media sosial. Apapun jenisnya. Tidak dipungkiri sebenarnya karena pesatnya teknologi dan tuntutan untuk serbapraktis dan serbacepat, manusia menjadi butuh media berkomunikasi macam media sosial. Bukan hal salah pula karena media sosial merupakan bentuk dari perkembangan komunikasi massa yang lebih modern dan mampu meniadakan beberapa noise sebelum dua atau beberapa orang berkomunikasi–singkatnya “lebih praktis”.

Tapi sayang keberadaan media sosial menimbulkan masalah sosial. Kurangnya intensitas komunikasi langsung pada seseorang membuat istilah “pergaulan” menjadi sempit. Pertemuan menjadi jarang dilakukan sehingga menghapus unsur komunikasi yang sebenarnya penting. Yaitu simbol. Dalam berkomunikasi melalui media sosial tentu penggunaan simbol akan sangat berkurang. Gestur, mimik wajah, kedipan mata, dan unsur-unsur non-verbal lain akan hilang. Dampaknya, pemahaman komunikasi memiliki kemungkinan berbelok, dan hubungan antarpribadi juga akan menurun. Intinya, interaksi antar manusia akan memudar seiring perkembangan media sosial yang semakin pesat.

Selain itu, karena intensitas komunikasi langsung berkurang, maka alur interaksi sosial juga akan kacau. Menyendiri, tertutup, atau diam untuk memperlihatkan eksistensi diri yang maya menjadi hal gawat yang bakal terjadi. Contohnya, fenomena “I am at ….” atau “I am with …” yang sering digunakan merupakan bentuk pencarian eksistensi diri seseorang. Dengan menunjukkannya di publik melalui media sosial, seseorang akan merasa eksistensinya “sebagai manusia” naik.

Terlepas dari semua, banyak pula kebaikan dari media sosial. Semua tergantung dari oknum pemakainya, apakah ia bisa menjadi pemakai yang bijak dan cerdas atau tidak. Yang pasti, semoga kita bukan golongan orang yang merasa “ada” jika mengupdate semua-mua ke media sosial. Karena hakikatnya, manusia itu eksis just the way we are. Tuhan memberi kita anugerah bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi pada sesama, dalam bermacam cara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s