Mengerti Kartini

Di saat hari Kartini digunakan untuk lomba fashion show, bagus-bagusan baju “adat”, parade meneriakkan “emansipasi wanita”, justru makna “Hari Kartini” itu hilang. Pesan dari Kartini bukan untuk itu, Kawan. Bahkan lagi-lagi makna “emanispasi” dipinggirkan. Dipahami sebagai dangkal, dinyatakan dengan makeup tebal dan ke mana-mana menggunakan jarik. Persewaan baju tradisional ramai, lalu lintas pagi tersendat dengan iring-iringan “pesta kostum”. Bukan itu yang Kartini mau. Bukan itu.

Entah dari mana hingga para guru menyebarkan surat edaran “memakai baju adat dan upacara”, tidak tahu bagaimana para bos memerintahkan pegawai instasinya untuk “pakai jarik dan sanggul saat kerja”. Jika dipikir agak aneh, tapi itu terjadi, dan dianggap normal. Hal wajar yang “memang” seharusnya ada. Kartini tidak berjuang untuk itu, semua harusnya tahu.

Banyak perempuan membentangkan spanduk dan meneriakkan “emanispasi wanita” di balaikota-balaikota. Padahal karena tuntutan itu, perempuan memposisikan diri mereka sendiri sebagai “tidak sejajar dengan laki-laki”. Justru tuntutan itu, mempolakan perempuan sebagai suatu gender yang “beda” dengan laki-laki. Bukankah Kartini memperjuangkan kesetaraan dan keadilan? Bukan perlakuan istimewa yang Kartini maksud.

Merenung, dan melihat betapa anehnya perayaan hari Kartini modern ini. Aspek-aspek kewanitaan dieksplorasi, dibagi ke bidang-bidang, dipertontonkan, dicari perbedaannya. Mungkin Kartini akan menangis, perjuangannya tidak ditangkap sama. Visinya diubah, dibuat-buat oleh manusia sekarang.

Makna emansipasi seharusnya dipahami lagi, dicari pesan terdalamnya. Perayaan hari Kartini seharusnya dirasakan sebagai momentum perjuangan perempuan untuk berlaku, berperan, dan bertindak sebagai perempuan, yang memiliki hak, kewajiban, yang sama dengan gender lain. Kartini mengajarkan perempuan untuk hidup “seimbang”, bukan hidup menuntut dan mengatakan dirinya “berbeda”. Kartini berkata jika perempuan bukan kelas dua. Perempuan mampu bertindak sesuai keinginan dan kebutuhannya, tanpa mengesampingkan peran alamiahnya. Kartini tidak mengajarkan anak-anak untuk memperingati perjuangannya dengan pakaian adat dan lomba memasak, tapi Kartini mengajarkan perempuan untuk mengejar mimpi tanpa memikirkan batasan tidak kasat mata yang sebenarnya terjadi hingga saat ini.

Perjuangan Kartini belum selesai. Bahkan lebih berat bagi kita yang modern. Menghapus anggapan, stereotype yang terlanjur melekat pada perempuan. Pada hari lahir Kartini ini, dalam hati saya berharap, tidak ada lagi anggapan peringatan hari Kartini sebagai seremoni yang lewat begitu saja, dan perjuangannya hanya dimaknai “pakaian adat”. Kartini menyerukan “kekuatan”, bukan melulu “tuntutan”. Perempuan mampu berkarya, dalam arti terdalamnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s