Mengintip Poe

Selesai membaca cerita pendek populer “Tell-Tale Heart”, saya merasa ada yang beda dari tulisan-tulisan ini. Sejak dulu saya mengenal namanya, namun jujur baru ini mulai membaca karya yang Beliau tulis. Lanjut ke cerita pendek lainnya, saya semakin tertarik pada karakter tulisan Beliau. Abad 19 di mana karya tulisan masih cenderung “sangat sastra” atau bahasa metafora, Beliau menghadirkan karya yang fresh dengan genre unik pada zamannya. Gotik horor, thriller, psikologik, teror, dihadirkan dalam bahasa lantang, gamblang, jelas, dengan kalimat lugas tanpa ungkapan-ungkapan khas masa itu. Penggambaran naratif, sudut pandang “aku” menambah kesan psikologis yang kental, membawa si pembaca pada alur cerita, seolah pembaca itu yang mengalaminya sendiri.

Dengan alur cerita yang bertahap–saya menggambarkannya sebagai: pembukaan – melemparkan pertanyaan – hint/kode – twist – boom!–membuat pembaca seperti terlupa sesaat dengan dunia. Merasa seperti dituntun masuk ke dalam cerita, lalu tidak sabar untuk melihat hasil akhirnya.

Tidak diragukan memang kualitas tulisan master of gothic-horor-mystery-thriller dunia, Edgar Allan Poe. Sekali lagi–karena ini kekaguman terbesar saya–kita harus menyadari jika karya-karya Poe ditulis pada abad 19, namun memiliki pembawaan khas dan baru, dibanding karya tulis pada zamannya. Genre unik tersebut dikemas bagaikan naskah film–membawa pembaca berimajinasi seliar mungkin bahkan membawa alam bawah sadar pembaca ke dunia Poe.

Saya kagum dengan semua hasil tulisannya–sejauh yang saya baca sampai tulisan ini dipublish, dan ada beberapa yang menancap di otak hingga sekarang. Seperti “Kotak Persegi Panjang”–saya tidak tahu judul aslinya–yang membawa rasa penasaran sampai paragraf akhir dan disudahi dengan perasaan takjub dengan twist yang “sangat detektif”. Lalu “Obrolan dengan Mumi”–tidak tahu judul aslinya–yang sangat mengagetkan ditulis oleh orang yang hidup di tahun 1830-an, di mana dihadirkan fiksi imliah dengan sedikit singgungan politik dan satir. Ada juga cerita pendek Poe yang sangat populer, “Black Cat”, yang membawa pembaca memasuki jiwa seorang psikopat yang berusaha berperilaku normal. Sepanjang membaca, saya merasa menjadi diri si psikopat itu bahkan efeknya masih ada saat saya membaca karya berikutnya. Dan satu yang paling favorit, “The Pit and Pendulum”. Beberapa kali diangkat menjadi film, karya ini menurut saya sangat brilian. Menampilkan pergulatan batin dan psikologis terpidana mati, saya pribadi seperti merasakan rasa stres dan ketakutan yang dirasakan tokoh “aku”. Berbau karya modern, dengan tema “kau diawasi dan berada di tangan mereka yang mengawasi”, membuat saya teringat dengan novel 1984 karya George Orwell atau Hunger Games Trilogy karya Suzanne Collins. Tapi yang ini versi awesome-nya karena ditulis jauh sebelum novel-novel di atas ditulis.

Sebagai penggemar sastra, saya merasa malu belum membaca semua karya Beliau. Terlebih karena gagasannya yang sangat unik dan sesuai dengan pemikiran, saya merasa harus mulai mencari karya Beliau yang lain. Apresiasi mendalam bagi Edgar Allan Poe, yang sangat disayangkan meninggal dalam usia muda (40 tahun) dalam keadaan “tanpa mendapat apa-apa”. Bagaimanapun, Beliau adalah master menulis yang sangat besar, inspiratif, dan idenya yang mengilhami banyak tulisan dari penulis besar dengan genre yang sama. Pada akhirnya, Beliau tidak pernah mati, dan namanya akan terus ada bagi generasi beratus tahun kemudian dengan sumbangannya yang tidak ternilai bagi dunia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s