Menjadi Relawan

Menjadi relawan tidak mudah. Bahkan memilih untuk mengabdi pada organisasi yang mana juga sulit. Tapi pada dasarnya, melakukan kegiatan kerelawanan di suatu tempat merupakan panggilan jiwa. Dan raga. Terkadang di saat kita memilih suatu organisasi tertentu untuk kita abdi, waktu memutus kemauan itu begitu saja karena kita merasa berada di tempat yang salah. Balik lagi, semua karena panggilan jiwa.

 

Ada problem lain saat banyak organisasi yang membutuhkan tenaga relawan. Namun entah mengapa organisasi itu melakukan sistem seleksi untuk relawan. Karena menjadi relawan merupakan masalah keikhlasan mengabdi, apakah seleksi merupakan suatu bentuk keharusan, sistem, atau pengangkat gengsi saja? Entah..

 

Menjadi volunteer sedang populer saat ini. Di negara-negara maju, kegiatan kerelawanan tersebar di segala bidang dan kelompok. Semua kalangan berlomba-lomba mengabdikan diri di organisasi kerelawanan. Merawat penderita kanker, bekerja di penampungan homeless, memberi makan untuk street child, menjual pakaian setangah pakai untuk penggalangan dana pembangunan panti rehabilitasi. Di Indonesia sendiri, kegiatan volunteerism sangat jarang ditemui, tapi mulai banyak peminat. Terutama pada bidang pendidikan.

 

Sejak 2012, saya ikut menjadi bagian dari relawan aktif organisasi pertukaran pelajar luar negeri. Keterikatan tentu saja menjadi alasan saya berjanji untuk mengabdi dan memberikan sumbangsih semampu saya. Yang pasti di dalam kegiatan menjadi relawan, saya menemui banyak hal baru, tantangan, kesenangan, emosi, hingga kegelisahan. Hal-hal seperti itulah yang membuat kegiatan menjadi relawan semakin nyaman dalam hati saya.

 

Kerelawanan pada dasarnya bekerja secara ikhlas, tidak mengharapkan imbalan. Imbalan yang ada hanyalah rasa puas dan senang bisa memberi kebahagiaan pada orang lain. Bagi seseorang yang bertekad menjadi relawan yang baik, timbal balik semacam itu sudah lebih dari cukup. Ya, meskipun hanya mengabdi pada satu organisasi, bagi seorang relawan, menabdi penuh dan total menjadikan suatu keharusan dan keikhlasan yang dalam.

 

Nb: Rasanya senang di saat apa yang kita lakukan–meski sedikit–bisa membawa seorang anak menjemput mimpi bersekolah di AS selama sebelas bulan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s