Merayakan 70 Tahun Ikrar Perdamaian Dunia

Tujuh puluh tahun lalu, tepatnya Agustus 1945 terjadi peristiwa kemanusiaan yang menggetarkan dunia. Dua bom nuklir yang bentuknya saja tidak dikenal awam, dijatuhkan ke dua kota besar di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki. Sekejap, kedamaian diganti oleh ketakutan dan tangis menangis. Lupakan masalah latar belakang terjadinya peristiwa, atau penyebab pembunuh massal itu dijatuhkan. Lupakan dulu mengenai salah siapa. Coba kita lihat dari sisi kemanusiaan.

Memang saat itu apa yang dinamakan perdamaian merupakan hal antik yang sulit diterjemahkan makna artinya. Di mana-mana terjadi pemberontakan, pembelotan, penipuan, pengrusakan, penghancuran. Dalam bahasa singkatnya: perang. Dalam hal apapun. Masa Perang Dunia II merupakan paceklik bagi semua bangsa. Krisis ekonomi, politik, sosial, kesehatan, pendidikan, penjajahan, dan perdamaian.

Hiroshima yang damai luluh lantak dalam sekejap, Nagasaki yang sebenarnya bukan sasaran terbakar mengerikan. Ya, kali ini bicara masalah kemanusiaan. Dengan kacaunya negara dan pikiran orang-orangnya, Agustus 1945 menjadi tragedi tidak hanya bagi Hiroshima dan Nagasaki, atau Jepang, tapi juga bagi seluruh negara di dunia. Terpekur dunia sebentar, lalu menyadari penghancuran tidak ada gunanya. Yang ada hanya munculnya kebencian-kebencian lain yang menimbulkan kesulitan lainnya pula. Dasarnya cuma satu: penegakan perdamaian.

Namun dari tragedi Hiroshima dan Nagasaki, dunia mulai tersadar, mulai berbenah. Menyadari betapa damai itu mutlak dan penting. Dalam kisah Hiroshima dan Nagasaki, ada kisah Sadako, seorang anak yang terkena leukimia sebagai dampak dari radiasi nuklir. Gadis itu terus melipat bangau kertas setiap hari untuk memberinya semangat hidup. Semakin hari, bangau kertas yang ia lipat semakin kecil, entah kenapa. Ia bertekad melipat 1000 buah bangau kertas, sebelum ia meninggalkan dunia. Lalu, semangatnya itu dipahami dunia, ditafsirkan dunia, sebagai semangat perdamaian bagi dunia. Di mana seorang gadis cilik tidak bersalah yang terdampak perang terus berusaha hidup, memberi semangat siapapun yang mengetahui kisahnya.

Ya, dalam tragedi tersisip inspirasi. Lalu dunia mengobarkan perdamaian, dalam simbol dua jari tangan yang membentuk V, atau bangau kertas. Simbol-simbol itu berbicara, jika manusia harus memulai segalanya dengan perdamaian. Simbol dan pemahaman yang berasal dari peristiwa kemanusiaan terbesar sepanjang zaman.

Tujuh puluh tahun sudah peristiwa itu terjadi. Bagi manusia yang lahir jauh setelahnya, hanya bisa merasa melalui cerita. Hanya bisa terus mengestafetkan arti pentingnya damai. Hanya bisa menjaga apa yang disampaikan pendahulu mengenai dunia yang mereka impikan. Meski masih saja beberapa manusia memecah damai atas nama golongan, namun dalam diri yakin, jika “si pengobar damai” jauh lebih banyak dari mereka yang tidak. Semoga tertanam di setiap hati.

-2015, tujuh puluh tahun peristiwa pemboman kota Hiroshima dan Nagasaki. Harus sadar sulitnya membentuk perdamaian, sehingga tidak mudah melepasnya-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s