Perjuangan Lewat Tulisan

Pendahulu berjuang melalui tulisan. Dengan pena yang lebih konkrit disebut kegiatan pers, pendahulu ini melakukan gerakan. Menuntut suatu keadilan bernama kebebasan berpendapat dan beropini, lalu tuntutan keadilan-keadilan lain muncul. Seperti keadilan bagi perempuan–saya lebih suka menggunakan istilah “kesamaan hak dan kewajiban”–dan keadilan bagi golongan-golongan yang dianggap beda. Tidak mau ada pembatasan mengikat bagi perbedaan-perbedaan yang hadir, namun berusaha mencari kebebasan dalam kebebebasan yang tidak akan pernah mutlak.

Kebebasan yang dituntut memang dirasa hal sederhana kini, namun bagi mereka yang menjadi pendahulu, melakukan kegiatan berdiskusi, berkumpul, berorganisasi, berpendapat, adalah kegiatan gerilya yang kadang berada di tengah ancaman bui. Saat pendapat masih terbungkam karena latar belakang status dan golongan, kegiatan pers menjadi sesuatu yang eksklusif. Pers digunakan sebagai jalan menutut kesetaraan dan keadilan, sebagai ladang menyampaikan pendapat.

Beruntung bagi pendahulu yang memiliki kesempatan hingga kemudian menjadi pandai baca tulis. Karena sayangnya sebagian besar tidak punya karena masalah yang sama, pembatasan hak bagi golongan-golongan tertentu.

Setelah Orde Baru, pendahulu kita bisa bergembira. Saat kebebasan beropini diakui, pikiran yang terorganisasi dengan mulut tidak lagi dibungkam. Ya, melalui jalan menulis inilah para pendahulu membuka pintu pendirian suatu negara berdaulat bernama Indonesia. Dalam setiap tulisan yang mengandung konten perjuangan, terdapat benih kebebasan. Kebebasan dalam banyak hal, dalam hal apapun.

Sakit memang saat para pendahulu berusaha memperjuangkan hak tersebut. Mulai dari ancaman pemecatan, penurunan jabatan, pembuian, penculikan, hingga pembunuhan. Seperti Kartini yang dibungkam melalui kegiatan “luhur” zaman itu yang bernama perkawinan. Namun pejuang sejati tidak mati karena sandungan kecil. Tetaplah beliau menulis, memepertahankan visinya, mempertanyakan haknya, dan memperjuangkan keinginan seluruh bangsa.

Saat Indonesia masih terdiri dari bangsa-bangsa bernama Jawa, Celebes, Sunda, Borneo, dan lain-lain yang kini kita sebut “suku”, ada golongan kecil pendahulu kita yang terus menerus berjuang melalui tulisan. Hal sepele yang generasi modern kini anggap sebagai kegiatan kecil dan dilakukan sekadarnya melalui perangkat komunikasi bermesin.

Keadaan pers saat ini, semakin berbeda. Kadang juga bertujuan lain. Berorientasi tidak sama. Zaman sudah banyak berubah memang. Fungsi kegiatan pers sudah berevolusi. Evolusi atau revolusi, dalam hal ini sama saja. Yang terpenting adalah bagaimana kegiatan yang mulanya mengorbankan banyak person ini tetap dalam jalurnya. Memberi informasi pada publik mengenai “kebenaran”, memberikan “kebebasan” bagi manusia untuk berpendapat, memberi wadah bagi pemegang kendali untuk menunjukkan “kewajibannya”, memberikan kerja pegawai media untuk melakukan “haknya”. Ya, kata-kata di dalam kurung adalah kata berharga yang menurut saya adalah intisari hak asasi.

Sekali lagi, zaman sudah berganti. Tulisan bukan lagi mutlak medium perjuangan, namun merupakan medium berkespresi dengan “bebas” dalam batasan tak kasat mata yang harus dipahami pribadi.

Selamat menulis dan berpendapat. Karena sudah diperjuangkan dan kini menjadi hak sekaligus kewajiban kita sebagai manusia bebas.

[Terbersit di tengah melahap “Jejak Langkah”. Sadarlah aku karena sebuah tulisan. 12.11.15]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s