Pertanyaan Seumur Hidup

Pertanyaan mengenai batas semesta sama dengan pertanyaan kapan kiamat tiba. Yang ada, manusia cuma bisa menerka-nerka. Beberapa memaksakan pendapat, beberapa sok tau. Padahal, Yang Memegang Waktu hanya diam, selalu diam. Menyimpan rapat-rapat karya final Maha Agung milik-Nya. Manusia-manusia kerdil bertindak ceroboh, membagi spekulasi ke dalam kotak-kotak nasi warna warni bernama perbedaan. Menambahkan acar bernama “mungkin” ke dalamnya. Lalu menyelipkan sambal bernama “menurut anu” ke sampingnya. Mengaduk seluruh isinya, lalu membagi, terkadang mengesampingkan logika dan kata sakti yang disebut “keberagaman”.

Masih terus bertanya mengenai batas semesta. Beberapa percaya pada kotak-kotak nasi amburadul tanpa dasar, beberapa mulai merenung sendiri. Mencoba mencari jawaban, berenang mencari kebenaran. Manusia macam begini lah yang terkadang dicaci, dianggap gila, dicap sinting, atau cupu. Mereka yang enggan memakan nasi amburadul dari kotak suka melakukan perjalanan sembari terus bertanya, “ke manakah semesta berakhir?”.

Bukan naif, terkadang pertanyaan itu melintas juga di benak. Tapi masih memasukkan logika, jika pertanyaan itu mampu menimbulkan kehancuran. Jika kukuh percaya pada “kata anu” atau “menurut anu”, perang meletup di mana-mana. Karena dasarnya, manusia suka keributan. Suka membenar-benarkan yang dianggap benar. Ya, dianggap benar. Padahal Yang Maha Tahu tau, manusia kerdil tidak akan pernah paham konsep batas semesta.

Sama seperti kiamat, misteri tentang batas semesta seperti muskil dipecahkan. Akan terus menggantung di awang-awang, setidaknya awang-awang otak manusia yang serbaterbatas. Yang pasti, pendapat menimbulkan perbedaan pikiran. Manusia penuh ego tidak mau disalahkan. Benar membenarkan, salah menyalahkan. Begitu seterusnya hingga hari akhir tiba. Pada finalnya, kembali lagi. Pertanyaan mengenai batas semesta tidak akan pernah terjawab. Manusia terus berperang, saling menuduh. Pertanyaan tidak terjawab, yang ada saling membunuh.

Batas semesta sulit ditelusur, memang. Tapi batas pikiran, itu yang harus direview lagi. Apa? Apakah batas semesta ada di pikiran manusia itu sendiri? Entahlah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s