Kegelisahan untuk Bertanya

Kegelisahan di usia menjelang 23 yang terjadi pada setiap orang pasti berbeda. Yang saya alami, banyak pertanyaan yang sampai sekarang belum bisa saya temukan jawabannya, atau belum terjawab dengan sendirinya. Kadang pertanyaan simpel, seringnya pertanyaan njlimet. Kebanyakan soal apa yang terjadi di depan mata, lebih banyak lagi tentang apa yang belum terjadi (atau sebenarnya sudah tapi saya tidak menyadarinya).

Konon katanya, tidak banyak anak muda usia 23an ini yang mengalami krisis bertanya. Terlebih generasi saat ini, di mana tersedianya media penyaluran emosi yang berlimpah (let say medsos). Tapi saya mengalaminya. Krisis bertanya. Semua yang terasa ada yang salah, ada yang kurang, ada yang tidak tepat, ada yang mengganjal, selalu saya tanyakan. Lebih cenderung saya tanyakan pada diri sendiri daripada bertanya pada orang lain. Alasannya, karena dunia realitas itu relatif, serbatergantung, penuh probabilitas. Ada kalanya kecenderungan itu saya anggap sebagai berkah karena dengan adanya spirit terus bertanya membuat saya tidak mudah menerima pengaruh. Tapi sisi lain, banyak orang mengatakan saya skeptis garis keras. Sesungguhnya saya berusaha menerima atribut apapun dari sudut pandang manapun, beneran.

Hal yang sering menjadi pertanyaan, adalah mengenai hidup-mati, awal-akhir. Banyak yang mengusik pemikiran, seperti “bagaimana setelah kita berakhir?”, “apa yang akan terjadi jika akhir bukanlah ending mutlak?”, “saat sesuatu berawal, akan berakhir yang lainnya, tapi apakah sinkronitas itu terjadi secara nyata?”, “untuk apa manusia hidup?”, “apa fungsi saya di dunia?”, dsb.

Atau pertanyaan mengenai takdir-kesempatan. Seperti “apakah manusia lahir apa adanya, menerima, legowo?”, “bagaimana peran teori keturunan, garis keluarga, klan dalam takdir?”, “takdir itu apa?”, “kesempatan hadir atau kita cari?”, dsb. Sehingga kadang saya sulit menerima istilah “ini takdir dari Tuhan”. Karena manusia pada awalnya diciptakan sebagai utuh, lalu berkembang biak, beranak pinak menjadi individu. Seharusnya takdir bagi semua orang sama, kan, jika percaya dengan keabstrakan bernama takdir. Entahlah, masih terus saya tanya hingga sekarang.

Kembali lagi, banyak pertanyaan di otak saya yang hampir 23 ini. Tapi dalam menjawab, otak muda itu banyak distorsi. Emosi, gairah, keterlibatan, kepentingan, membuat banyak jawaban menjadi kacau, tercampur, atau bercabang. Terlebih di usia muda, tekanan dari sekitar adalah hal yang sulit dihindarkan. Tekanan dalam bentuk “sosialisasi”, atau “peran kita sebagai anak muda”. Dicap aneh, terlalu serius, strict, skeptik, adalah bagian dari kita yang terus bertanya. Meski dalam hati, saya yakin tidak sendirian. Mungkin suatu saat akan tiba waktu saya berkumpul, lalu menjawab semuanya bersama. Sekaligus saya sadar, tidak mungkin semua terjawab, meski sudah sampai ujungnya.

Di sini saya ingin mengatakan jika setiap orang punya kegelisahan masing-masing. Bagaimana bentuk kegelisahan itu, seperti apa medianya, bagaimana kita menyikapi, tergantung dari masing-masing individu. Yang jelas, sebelum saya temukan (sebelum hari itu datang), saya akan terus bertanya dan, tentunya bergerak.

-Menunggu para penjawab, atau… para pemberi petunjuk-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s