#Filosofi : When I Was A Man

Title: When I Was a Man

“When I was a man, I stood beside your hand. When I was a man, you taught me how to read your mind. When I was a man, earth asked me if they were my friend. When I was a man, they suggested me to be the part of mankind. When I was a man, she told me if she want to be the heart of mine.”

Kita dulu pernah bercanda. Bagaimana jika aku terlahir kembali bukan sebagai pria. Dalam tawa, kau berkata itu mungkin saja.

Saat aku menjadi pria, dunia beku sepenuhnya. Belum ada tanda datangnya hari bahagia. Tapi aku terus berjalan, saat itu. Setapak demi setapak menepis badai demi dirimu. Saat bertemu, kita lebur jadi satu. Kemudian bergurau lagi mengenai masa lalu.

Saat aku menjadi pria, tak kutemui keanehan macam begini. Terus aku menanti meski dalam sakit tak terperi. Mencoba percaya pada dunia, aku masih manusia.

Kita dulu pernah bercanda. Bagaimana jika saat itu tiba. Dan, kini aku mulai percaya. Saat semesta membentuk kita kembali, diriku seperti yang kau tanya. Awalnya aku tidak terima. Lalu kau hadir dalam suara. “Ini adalah bagian dari karma”. Detik itu pula, aku merasa ada. Gelisah sekaligus lega. Lelah sekaligus muncul harapan. Entah apa namanya. Mungkin sengaja dibuat lupa.

Saat aku menjadi pria, aku masih aku yang sama. Matahari masih matahari yang lama. Hingga kita saja pada akhirnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s