#Puisi: Parade

Parade memang mengundang. Mengundang siapapun untuk datang. Berkerumun di tanah lapang, berdiri depan agar tidak terhalang.

Parade itu sangat meriah. Membuat hati semua orang tergugah. Dihiasi berbagai atraksi dan atribut megah.

Aku ingin ikut. Bersama yang lain saling sikut. Demi parade yang seperti tidak surut.

Parade itu memberi makna. “Silakan datang bagi yang juara. Menduduki barisan depan yang paling berharga.” Siapa yang tidak tertarik ke sana?

Namun tiap parade akan selalu sama. Bersistem dan berhierarki serupa. Memanjakan mata, penuh canda tawa.

Dan tebak, parade selalu diatur. Pengisi acara dibariskan berjalur. Kapan maju, kapan mundur. Tidak mengizinkan penonton membaur.

Aku yang ingin mandiri. Membuat parade dengan tangan sendiri. Berusaha tetap memasukkan arti. Dan makna bagi yang mengerti.

Bergabung dengan parade, bukan aku tidak bisa. Namun aku tidak mencoba. Bukan aku tidak mampu. Namun aku tidak mau. Ingin kubebas dari belenggu. Parade yang datang malam lalu.

Aku sadar bukan berbeda. Hanya saja tidak sama. Mengikuti parade bukan tujuan utama. Membuat parade untuk bersama, adalah inti sebenarnya.

Semoga pengisi acara percaya. Semoga penonton curiga. Tidak ada yang nyata. Ikut bersamaku seperti dulu kala. Tanpa sistem tanpa pahala.

Parade itu seperti aku.

– Ditulis di balik hijau, February 8th 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s