0

#Puisi: Parade

Parade memang mengundang. Mengundang siapapun untuk datang. Berkerumun di tanah lapang, berdiri depan agar tidak terhalang.

Parade itu sangat meriah. Membuat hati semua orang tergugah. Dihiasi berbagai atraksi dan atribut megah.

Aku ingin ikut. Bersama yang lain saling sikut. Demi parade yang seperti tidak surut.

Parade itu memberi makna. “Silakan datang bagi yang juara. Menduduki barisan depan yang paling berharga.” Siapa yang tidak tertarik ke sana?

Namun tiap parade akan selalu sama. Bersistem dan berhierarki serupa. Memanjakan mata, penuh canda tawa.

Dan tebak, parade selalu diatur. Pengisi acara dibariskan berjalur. Kapan maju, kapan mundur. Tidak mengizinkan penonton membaur.

Aku yang ingin mandiri. Membuat parade dengan tangan sendiri. Berusaha tetap memasukkan arti. Dan makna bagi yang mengerti.

Bergabung dengan parade, bukan aku tidak bisa. Namun aku tidak mencoba. Bukan aku tidak mampu. Namun aku tidak mau. Ingin kubebas dari belenggu. Parade yang datang malam lalu.

Aku sadar bukan berbeda. Hanya saja tidak sama. Mengikuti parade bukan tujuan utama. Membuat parade untuk bersama, adalah inti sebenarnya.

Semoga pengisi acara percaya. Semoga penonton curiga. Tidak ada yang nyata. Ikut bersamaku seperti dulu kala. Tanpa sistem tanpa pahala.

Parade itu seperti aku.

– Ditulis di balik hijau, February 8th 2017

0

Seni Tuntut Menuntut

Dijejali banyak tuntutan hidup bukan hanya dirasakan orang dewasa yang sadar. Sejak kanak-kanak–bahkan orok–kita yang terlahir sebagai manusia tidak akan pernah lolos dari tuntutan hidup. Bayi misalnya, dituntut untuk beradaptasi dengan dunia baru, setelah dunia sebelumnya. Anak-anak, dituntut untuk berperilaku baik lewat pengajaran formal dan non-formal. Remaja, dituntut untuk bersosialisasi dengan kawan. Dewasa, dituntut untuk melebur dengan masyarakat. Lansia, dituntut untuk mempersiapkan kehidupan “selanjutnya”.

Siapa yang menuntut? Pertanyaan yang akan muncul di benak Anda saat pertama membaca paragraf di atas. Dan pertanyaan klasik itu bukan untuk dijawab, melainkan untuk dipahami dan terus ditanyakan oleh diri kita sendiri. Karena pada dasarnya, segala pertanyaan yang ada di muka bumi adalah sumber jawaban itu sendiri.

Kembali ke konteks “dituntut” dan “menuntut”. Pada masa yang terus berputar, pada siklus hidup yang tidak akan berhenti walau sejenak, tuntutan selalu mengiringi. Secara sadar seseorang akan dibawa dalam arus tuntut menuntut ini tanpa tahu apa dan mengapa melakukan.

Bagai terputus dari kesadaran, beberapa orang pada akhirnya mencapai tahapan cukup gila di mana ia memilih untuk menolak tuntutan dan mengalpakan menuntut. Mereka yang memilih untuk menjadi diri secara utuh tanpa intervensi dunia–yang di sini saya lebih suka menyebutnya dengan “kehidupan sosial”. Ya, setuju atau tidak, tuntut menuntut ini berporos pada lingkaran hidup bersosial, yang selama hayat dunia akan terus terjadi dan merupakan prasyarat (atau seolah-olah begitu) untuk hidup. Bekerja, di dalam angkot, supermarket, bioskop, kafe. Semua bekerjasama bersosialisasi untuk dapat membentuk aktivitas.

Namun para orang gila ini, berteguh pada keyakinan jika mereka merasakan hidup yang sungguh hidup dengan cara berjalan di atas kaki sendiri. Meminimalisir sosialisasi dengan hal lain, tanpa mengesampingkan hak dan kewajibannya sebagai “sang hidup”. Ada yang kemudia menemukan kesejatian, ada yang masih terus terbawa arus. Dalam tahap ini, nilai tuntut menuntut menjadi fluktuatif, juga relatif. Tergantung bagaimana ia memaknainya.

Atau konkritnya, saat seseorang memilih lepas dari deretan tawaran kerja yang akan membuat hidup “aman” sampai tua dengan beraneka sistem dan hierarkinya, dan memilih untuk menemukan potensi dan menemukan diri sendiri, dengan legawa. Tanpa tuntutan, tanpa menuntut.

Pada akhirnya, perangkap tubuh dan jiwa manusia adalah satu-satunya alasan mengapa ada pro dan kontra, bagus dan jelek, kaya dan miskin, gaul dan cupu, hidup dan mati. Yang paling diri ini idamkan adalah di mana mampu bekerja dalam kesadaran penuh sebagai manusia, bukan robot, dan mampu memberikan tanda pada orang-orang di masa depan jika diri ini pernah ada di masa lalu.

– 21 Januari 2017. Jangan tanya saya lagi ngapain sekarang.

 

[Inspired after red “Kokou No Hito” or “The Climber”, a manga about self, consciousness, and mountain by Sakamoto Sinichi]

0

#Filosofi : When I Was A Man

Title: When I Was a Man

“When I was a man, I stood beside your hand. When I was a man, you taught me how to read your mind. When I was a man, earth asked me if they were my friend. When I was a man, they suggested me to be the part of mankind. When I was a man, she told me if she want to be the heart of mine.”

Kita dulu pernah bercanda. Bagaimana jika aku terlahir kembali bukan sebagai pria. Dalam tawa, kau berkata itu mungkin saja.

Saat aku menjadi pria, dunia beku sepenuhnya. Belum ada tanda datangnya hari bahagia. Tapi aku terus berjalan, saat itu. Setapak demi setapak menepis badai demi dirimu. Saat bertemu, kita lebur jadi satu. Kemudian bergurau lagi mengenai masa lalu.

Saat aku menjadi pria, tak kutemui keanehan macam begini. Terus aku menanti meski dalam sakit tak terperi. Mencoba percaya pada dunia, aku masih manusia.

Kita dulu pernah bercanda. Bagaimana jika saat itu tiba. Dan, kini aku mulai percaya. Saat semesta membentuk kita kembali, diriku seperti yang kau tanya. Awalnya aku tidak terima. Lalu kau hadir dalam suara. “Ini adalah bagian dari karma”. Detik itu pula, aku merasa ada. Gelisah sekaligus lega. Lelah sekaligus muncul harapan. Entah apa namanya. Mungkin sengaja dibuat lupa.

Saat aku menjadi pria, aku masih aku yang sama. Matahari masih matahari yang lama. Hingga kita saja pada akhirnya.

 

0

#Filosofi : Duality

Title: Duality

“You and me, we are duality. You and me, unite with golden line called duality. You and me, both swimming in the world of duality. But don’t forget, duality consist of what we called before, hundred years ago, as “one””.

Dalam dunia bebas, terikat dengan tali transparan bernama dualitas. Membagi secara fiksi apa yang diyakini. Membelah esensi menjadi bentuk dua energi. Kau tahu malam, akan ada pagi. Kau tahu wanita, akan didampingi pria. Kau tahu besar, akan digenapi kecil. Kau tahu awal, akan disusul akhir.

Dualitas memberi semacam relief. Kontur kehidupan yang mulanya rata. Membagi bagian hidup ke dalam kotak-kotak kayu. Menghadirkan konsep bernama ruang dan waktu. Dualitas membuat daftar kata “berharga”. Kemudian melahirkan bentuk raga baru, baik dan buruk.

Berdiri di antara dualitas, membuat paham mengapa semesta membisikkannya pada kita. Mengajarkan cara menerka, mana yang apa. Sayang terkadang membuat manusia alpa. Di mana posisi sebenarnya?

Namun dualitas seperti mengerjai. Memberi informasi dengan banyak bukti, lalu lari meninggalkan pertanyaan serbaabadi. Dualitas akan selalu ada. Tidak akan pernah ke mana-mana. Dalam peradaban dan kehidupan apa saja.

Namun semoga kau tidak pernah lupa. Bahwa kita datang sendiri, dulu. Berteman dengan satu. Menjentikkan telapak tangan dalam dimensi tiga. Lalu dibuat lupa.

Semoga kau tidak pernah lupa, awal dan akhir adalah ciptaan kita. Kotak-kotak di bumi dibuat oleh manusia. Dan dualitas muncul sebagai perantara. Otak kita yang serbaterbatas, dilengkungkan oleh gravitasi. Dikembangkan oleh imajinasi. Disusutkan dengan ambisi.

Semoga kau tidak pernah lupa. Dulu kita selalu bersama. Tidak mengerti dualitas dan anak-anaknya. Berjalan beriring mencari satu suaka. Semoga kau masih ingat rupa dan namanya.

 

0

#Filosofi : Bebas

Title: Bebas

Masih sangat terasa, betapa memusingkannya dunia. Terkurung dalam penjara kasat mata. Bebaskan aku dari sini, begitu aku minta.

Lalu aku tak sengaja, menginjak batasmu. Menyibak jalan berdebu. Otak mulai menyeru. Bebaskan aku! Sadarkan aku!

Kegelisahan datang mengendap-endap. Berevolusi menjadi energi. Energi kegelisahan maksimum. Bergulat dengan penasaran dan rasa lelah tidak berkesudahan. Lalu muncul tanda: ke mana aku sebenarnya?

Rasa lelah terus mencari, tahu-tahu menyergap menembakkan duri. Ada sedikit kelegaan saat menemukan, namun seperti diputar balik. Tanda itu kembali datang: siapa kau sebenarnya?

Rasanya sudah sangat lama. Saat terakhir aku merasa. Hidup dalam nyata, tanpa palsu dan maya. Rasanya sudah sangat lama. Saat tua bukanlah seperti sekarang adanya. Sudah sangat lama, saat kau menyeru mengenai “kita”.

Bumi masih sama. Perputaran kita masih lingkaran yang sama. Katanya, tempat kita dulu bertemu juga masih sama. Ah, aku rindu…

Kesadaran muncul tertatih-tatih. Datang sekejap membawa benih. Setidaknya aku tahu harus mulai gigih. Bebaskan aku. Bebaskan dari ragaku. Bebaskan dari hukumanku. Biarkan aku kembali, dalam kita yang abadi.

 

0

#Filosofi : Human

Title: Human

“Realize if someday we will be a human. For some reason, we will act like human.” Saat tersadar kemudian, siapa manusia itu, akan terjawab. Bagi yang ingin menjadi manusia, sayang sekali. Bumi bukan untuk kita. Bagi yang butuh menjadi manusia, selamat. Bumi ada sedikit ruang bagi kita. Jangan tertawa. Bersiap menjadi manusia bukan perkara sepele. Banyak rencana yang harus disusun, banyak pernak-pernik yang harus dirancang. Persiapan menjadi manusia sama saja dengan persiapan terlahir kembali, seperti kita dulu.

Ingatkah jika saat ini kita sedang hidup mirip manusia. Belum jadi yang seutuhnya, tapi hampir. Siapa yang akan menggenapi duluan, mari berlomba. Syaratnya, cuma percaya masa depan, sekaligus masa lalu. Entah yang mana namun semua berhubungan, saling melengkapi. Tidak perlu percaya, semua punya hak sendiri.

Namun ingatkah saat itu? Saat semua masih berburu dan meramu. Berpindah hidup demi tetap eksis. Saat itu, siapa yang disebut manusia? Siapa yang dinamakan apa? Ingatkah, sampai saat ini bumi masih berotasi, belum berhenti. Kemungkinan masih ada, semua serbarelatif. Silakan, bagi yang percaya.

Tahukah jika Tuhan dari robot adalah manusia? Jadi, siapakah yang dinamakan manusia? Bisa menjawab adalah hadiah terbesar. Sekali lagi, jangan tetawa. Perhatikan lagi, tetap resapi. Jangan pernah lengah. Bumi mengajarkan kita untuk tetap sama.

 

0

#Filosofi : Pembukaan

Semakin jelas makna “we are with you”. Untuk sampai tahap segini, kurang paham kenapa ditemukan dalam bentuk cyber. Sulit dapat tik tok atau jawaban yang dipinginkan dari orang yang nampak malah. Tapi setidaknya bersyukur mulai dibukakan. Dibangunkan. Meski gak tau sampai seberapa nanti di akhirnya. Yang jelas pencarian itu akan masih dan terus berlanjut sampai batin ini full. Lebih tepatnya sampai batas diri yang sekarang full.

 

Mengatakan hal macam ini mungkin nerd, nggak nyambung. Tapi kalau paham, akan tersampaikan juga. Mulai sekarang lakukan yang harus dan mau dilakukan, keep wise. Karena yakin, suatu saat para penjawab itu datang satu demi satu. Lalu jadi galaw. Nggak apa-apa asal nggak merugikan, terutama ortu. Saat ini dipendam dulu, bicara kalau perlu. Nanti kalau sudah limit, akan dibuka. Tapi tetap mencoba seserhana, dengan batasan-batasan yang ada.

 

Mencoba menenangkan diri sendiri dulu, pura-pura tahu. Sampai pletikan-pletikan itu datang lagi, cuma bisa jalani senormal mungkin. Ini bukan melulu fiksi, atau distorsi pikiran anak muda. Cuma merasa tersentil, setelah sebenernya merasa ada pembenaran-pembenaran dari kegelisahan sejak remaja.

 

Semoga semakin paham. Dengan batasan tertentu, sebagai makhluk. Semesta-semesta yang seperti statis tahu-tahu goyang-goyang. Dilingkupi tanda tanya giga. Akhirnya, kembali pada satu kepercayaan. Satu.