0

#Filosofi : When I Was A Man

Title: When I Was a Man

“When I was a man, I stood beside your hand. When I was a man, you taught me how to read your mind. When I was a man, earth asked me if they were my friend. When I was a man, they suggested me to be the part of mankind. When I was a man, she told me if she want to be the heart of mine.”

Kita dulu pernah bercanda. Bagaimana jika aku terlahir kembali bukan sebagai pria. Dalam tawa, kau berkata itu mungkin saja.

Saat aku menjadi pria, dunia beku sepenuhnya. Belum ada tanda datangnya hari bahagia. Tapi aku terus berjalan, saat itu. Setapak demi setapak menepis badai demi dirimu. Saat bertemu, kita lebur jadi satu. Kemudian bergurau lagi mengenai masa lalu.

Saat aku menjadi pria, tak kutemui keanehan macam begini. Terus aku menanti meski dalam sakit tak terperi. Mencoba percaya pada dunia, aku masih manusia.

Kita dulu pernah bercanda. Bagaimana jika saat itu tiba. Dan, kini aku mulai percaya. Saat semesta membentuk kita kembali, diriku seperti yang kau tanya. Awalnya aku tidak terima. Lalu kau hadir dalam suara. “Ini adalah bagian dari karma”. Detik itu pula, aku merasa ada. Gelisah sekaligus lega. Lelah sekaligus muncul harapan. Entah apa namanya. Mungkin sengaja dibuat lupa.

Saat aku menjadi pria, aku masih aku yang sama. Matahari masih matahari yang lama. Hingga kita saja pada akhirnya.

 

0

#Filosofi : Duality

Title: Duality

“You and me, we are duality. You and me, unite with golden line called duality. You and me, both swimming in the world of duality. But don’t forget, duality consist of what we called before, hundred years ago, as “one””.

Dalam dunia bebas, terikat dengan tali transparan bernama dualitas. Membagi secara fiksi apa yang diyakini. Membelah esensi menjadi bentuk dua energi. Kau tahu malam, akan ada pagi. Kau tahu wanita, akan didampingi pria. Kau tahu besar, akan digenapi kecil. Kau tahu awal, akan disusul akhir.

Dualitas memberi semacam relief. Kontur kehidupan yang mulanya rata. Membagi bagian hidup ke dalam kotak-kotak kayu. Menghadirkan konsep bernama ruang dan waktu. Dualitas membuat daftar kata “berharga”. Kemudian melahirkan bentuk raga baru, baik dan buruk.

Berdiri di antara dualitas, membuat paham mengapa semesta membisikkannya pada kita. Mengajarkan cara menerka, mana yang apa. Sayang terkadang membuat manusia alpa. Di mana posisi sebenarnya?

Namun dualitas seperti mengerjai. Memberi informasi dengan banyak bukti, lalu lari meninggalkan pertanyaan serbaabadi. Dualitas akan selalu ada. Tidak akan pernah ke mana-mana. Dalam peradaban dan kehidupan apa saja.

Namun semoga kau tidak pernah lupa. Bahwa kita datang sendiri, dulu. Berteman dengan satu. Menjentikkan telapak tangan dalam dimensi tiga. Lalu dibuat lupa.

Semoga kau tidak pernah lupa, awal dan akhir adalah ciptaan kita. Kotak-kotak di bumi dibuat oleh manusia. Dan dualitas muncul sebagai perantara. Otak kita yang serbaterbatas, dilengkungkan oleh gravitasi. Dikembangkan oleh imajinasi. Disusutkan dengan ambisi.

Semoga kau tidak pernah lupa. Dulu kita selalu bersama. Tidak mengerti dualitas dan anak-anaknya. Berjalan beriring mencari satu suaka. Semoga kau masih ingat rupa dan namanya.

 

0

#Filosofi : Bebas

Title: Bebas

Masih sangat terasa, betapa memusingkannya dunia. Terkurung dalam penjara kasat mata. Bebaskan aku dari sini, begitu aku minta.

Lalu aku tak sengaja, menginjak batasmu. Menyibak jalan berdebu. Otak mulai menyeru. Bebaskan aku! Sadarkan aku!

Kegelisahan datang mengendap-endap. Berevolusi menjadi energi. Energi kegelisahan maksimum. Bergulat dengan penasaran dan rasa lelah tidak berkesudahan. Lalu muncul tanda: ke mana aku sebenarnya?

Rasa lelah terus mencari, tahu-tahu menyergap menembakkan duri. Ada sedikit kelegaan saat menemukan, namun seperti diputar balik. Tanda itu kembali datang: siapa kau sebenarnya?

Rasanya sudah sangat lama. Saat terakhir aku merasa. Hidup dalam nyata, tanpa palsu dan maya. Rasanya sudah sangat lama. Saat tua bukanlah seperti sekarang adanya. Sudah sangat lama, saat kau menyeru mengenai “kita”.

Bumi masih sama. Perputaran kita masih lingkaran yang sama. Katanya, tempat kita dulu bertemu juga masih sama. Ah, aku rindu…

Kesadaran muncul tertatih-tatih. Datang sekejap membawa benih. Setidaknya aku tahu harus mulai gigih. Bebaskan aku. Bebaskan dari ragaku. Bebaskan dari hukumanku. Biarkan aku kembali, dalam kita yang abadi.

 

0

#Filosofi : Human

Title: Human

“Realize if someday we will be a human. For some reason, we will act like human.” Saat tersadar kemudian, siapa manusia itu, akan terjawab. Bagi yang ingin menjadi manusia, sayang sekali. Bumi bukan untuk kita. Bagi yang butuh menjadi manusia, selamat. Bumi ada sedikit ruang bagi kita. Jangan tertawa. Bersiap menjadi manusia bukan perkara sepele. Banyak rencana yang harus disusun, banyak pernak-pernik yang harus dirancang. Persiapan menjadi manusia sama saja dengan persiapan terlahir kembali, seperti kita dulu.

Ingatkah jika saat ini kita sedang hidup mirip manusia. Belum jadi yang seutuhnya, tapi hampir. Siapa yang akan menggenapi duluan, mari berlomba. Syaratnya, cuma percaya masa depan, sekaligus masa lalu. Entah yang mana namun semua berhubungan, saling melengkapi. Tidak perlu percaya, semua punya hak sendiri.

Namun ingatkah saat itu? Saat semua masih berburu dan meramu. Berpindah hidup demi tetap eksis. Saat itu, siapa yang disebut manusia? Siapa yang dinamakan apa? Ingatkah, sampai saat ini bumi masih berotasi, belum berhenti. Kemungkinan masih ada, semua serbarelatif. Silakan, bagi yang percaya.

Tahukah jika Tuhan dari robot adalah manusia? Jadi, siapakah yang dinamakan manusia? Bisa menjawab adalah hadiah terbesar. Sekali lagi, jangan tetawa. Perhatikan lagi, tetap resapi. Jangan pernah lengah. Bumi mengajarkan kita untuk tetap sama.

 

0

#Filosofi : Pembukaan

Semakin jelas makna “we are with you”. Untuk sampai tahap segini, kurang paham kenapa ditemukan dalam bentuk cyber. Sulit dapat tik tok atau jawaban yang dipinginkan dari orang yang nampak malah. Tapi setidaknya bersyukur mulai dibukakan. Dibangunkan. Meski gak tau sampai seberapa nanti di akhirnya. Yang jelas pencarian itu akan masih dan terus berlanjut sampai batin ini full. Lebih tepatnya sampai batas diri yang sekarang full.

 

Mengatakan hal macam ini mungkin nerd, nggak nyambung. Tapi kalau paham, akan tersampaikan juga. Mulai sekarang lakukan yang harus dan mau dilakukan, keep wise. Karena yakin, suatu saat para penjawab itu datang satu demi satu. Lalu jadi galaw. Nggak apa-apa asal nggak merugikan, terutama ortu. Saat ini dipendam dulu, bicara kalau perlu. Nanti kalau sudah limit, akan dibuka. Tapi tetap mencoba seserhana, dengan batasan-batasan yang ada.

 

Mencoba menenangkan diri sendiri dulu, pura-pura tahu. Sampai pletikan-pletikan itu datang lagi, cuma bisa jalani senormal mungkin. Ini bukan melulu fiksi, atau distorsi pikiran anak muda. Cuma merasa tersentil, setelah sebenernya merasa ada pembenaran-pembenaran dari kegelisahan sejak remaja.

 

Semoga semakin paham. Dengan batasan tertentu, sebagai makhluk. Semesta-semesta yang seperti statis tahu-tahu goyang-goyang. Dilingkupi tanda tanya giga. Akhirnya, kembali pada satu kepercayaan. Satu.

 

0

Memori

Somewhere but earth is the place of peace, huh?

Jadi keingat cita-cita jadi astronot. Setelah lihat Stargate, jadi skeptik kalau manusia bisa hidup di planet lain tanpa tabung oksigen…

Lalu muncul “Supernatural” yg bikin kami berdua percaya jika saudara ditakdirkan untuk menjadi cenayang! Tetiba merasa punya indera keenam..

Lalu muncul “Heroes”. Bikin beranggapan kalau baca pikiran adalah kemampuan yang akan muncul seiring dengan bertambahnya usia…

Lebih dewasa, mulai membuka wawasan. Film itu proses. Hasilnya adalah dampak. Tapi semakin ke sini, imajinasi malah lebih nyata.

“Kok lebih enak jadi ini ya daripada ini.” Kacau balau. Dan akhirnya selalu nyaman tiap tenggelam ke dalam imajinasi sendiri…

Untung ada media penyaluran. Dan kami berdua. Jadi nggak susah buat tanya, diskusi. Ujungnya, malah kami mencipta dunia sendiri.

Nggak bakal bisa dipahami selain kami saja. Intinya: proses itu bertumbuh. Imajinasi menyertai.

*Tung*

Ngomong opo tekan opo. Hahaha.

Good night.

0

Kegelisahan untuk Bertanya

Kegelisahan di usia menjelang 23 yang terjadi pada setiap orang pasti berbeda. Yang saya alami, banyak pertanyaan yang sampai sekarang belum bisa saya temukan jawabannya, atau belum terjawab dengan sendirinya. Kadang pertanyaan simpel, seringnya pertanyaan njlimet. Kebanyakan soal apa yang terjadi di depan mata, lebih banyak lagi tentang apa yang belum terjadi (atau sebenarnya sudah tapi saya tidak menyadarinya).

Konon katanya, tidak banyak anak muda usia 23an ini yang mengalami krisis bertanya. Terlebih generasi saat ini, di mana tersedianya media penyaluran emosi yang berlimpah (let say medsos). Tapi saya mengalaminya. Krisis bertanya. Semua yang terasa ada yang salah, ada yang kurang, ada yang tidak tepat, ada yang mengganjal, selalu saya tanyakan. Lebih cenderung saya tanyakan pada diri sendiri daripada bertanya pada orang lain. Alasannya, karena dunia realitas itu relatif, serbatergantung, penuh probabilitas. Ada kalanya kecenderungan itu saya anggap sebagai berkah karena dengan adanya spirit terus bertanya membuat saya tidak mudah menerima pengaruh. Tapi sisi lain, banyak orang mengatakan saya skeptis garis keras. Sesungguhnya saya berusaha menerima atribut apapun dari sudut pandang manapun, beneran.

Hal yang sering menjadi pertanyaan, adalah mengenai hidup-mati, awal-akhir. Banyak yang mengusik pemikiran, seperti “bagaimana setelah kita berakhir?”, “apa yang akan terjadi jika akhir bukanlah ending mutlak?”, “saat sesuatu berawal, akan berakhir yang lainnya, tapi apakah sinkronitas itu terjadi secara nyata?”, “untuk apa manusia hidup?”, “apa fungsi saya di dunia?”, dsb.

Atau pertanyaan mengenai takdir-kesempatan. Seperti “apakah manusia lahir apa adanya, menerima, legowo?”, “bagaimana peran teori keturunan, garis keluarga, klan dalam takdir?”, “takdir itu apa?”, “kesempatan hadir atau kita cari?”, dsb. Sehingga kadang saya sulit menerima istilah “ini takdir dari Tuhan”. Karena manusia pada awalnya diciptakan sebagai utuh, lalu berkembang biak, beranak pinak menjadi individu. Seharusnya takdir bagi semua orang sama, kan, jika percaya dengan keabstrakan bernama takdir. Entahlah, masih terus saya tanya hingga sekarang.

Kembali lagi, banyak pertanyaan di otak saya yang hampir 23 ini. Tapi dalam menjawab, otak muda itu banyak distorsi. Emosi, gairah, keterlibatan, kepentingan, membuat banyak jawaban menjadi kacau, tercampur, atau bercabang. Terlebih di usia muda, tekanan dari sekitar adalah hal yang sulit dihindarkan. Tekanan dalam bentuk “sosialisasi”, atau “peran kita sebagai anak muda”. Dicap aneh, terlalu serius, strict, skeptik, adalah bagian dari kita yang terus bertanya. Meski dalam hati, saya yakin tidak sendirian. Mungkin suatu saat akan tiba waktu saya berkumpul, lalu menjawab semuanya bersama. Sekaligus saya sadar, tidak mungkin semua terjawab, meski sudah sampai ujungnya.

Di sini saya ingin mengatakan jika setiap orang punya kegelisahan masing-masing. Bagaimana bentuk kegelisahan itu, seperti apa medianya, bagaimana kita menyikapi, tergantung dari masing-masing individu. Yang jelas, sebelum saya temukan (sebelum hari itu datang), saya akan terus bertanya dan, tentunya bergerak.

-Menunggu para penjawab, atau… para pemberi petunjuk-