0

Jawaban Sendiri Setelah Diskusi

Dari diskusi dengan “Komunitas Percepatan Penyadaran”, saya menjawab dengan versi saya.

1. Arti 618 tato yang dibawa Kell sebagai misinya?

– 618 itu Fibonacci itu. Kalau dibagi 64 hasilnya nggak genap. Jadi mungkin cuma perlambang aja. The Golden Ratio. Bisa jadi juga, 618 itu “usia” Kell selama ini. Sejak dia diutus pertama kali jadi infiltran. Atau mungkin itu perlambang jika infiltran itu mewakili manusia dan semua aspek di bumi.

Golden ratio, Proporsi Agung Galileo Galilei: setiap benda di muka bumi rasionya 1: 1.618. Misal: rasio telapak tangan dengan lengan bawah itu panjangnya 1: 1.618. Buku tulis, panjang dan lebar perbandingannya sama. Proporsi anggota tubuh yg berdekatan itu 1: 1.618. Disebutnya Golden Ratio, Golden Mean, God Ratio.

Mungkin Maksur Dee Lestari memberi tanda jika manusia itu ya satu pada awalnya. Cuma berpindah tugas dan fungsi setiap siklus hidup. Pernah dengar juga pembuatan desain gedung putih, misalnya, pakai rasio itu juga. Rasio keseimbangan bisa dibilang.

 

2. Apa fungsi Kell melalui tatonya?

– Sepertinya “menitiskan”, “merajahkan”, nilai hidup dia (yang tertuang dalam tato) ke orang lain yg fungsinya sesuai tugas dia (siklus sekarang adalah Bodhi). Jauh sebelum ini juga. Maybe sejak 618 siklus sebelum ini. Fungsi merajah, seperti “menyentil” orang itu (peretas) agar kembali sadar. Dan orang itu juga harus memberi feedback yg sama, merajahkan tato juga. Intinya, fungsi Kell aktif saat tato dirajahkan dan dia merajahkan tato.

Mungkin lho mungkin. Hehe.

 

3. Kell bilang dia merajahkan tato ke 617 pada 25 tahun lalu?

– Kalo menurut saya, 25 tahun lalu itu konsep tahun Kell (infiltran). Bukan konsep waktunya manusia. Mungkin artinya siklus sebelum dia dapat tugas menyadarkan si Bodhi. Dan berdasar asumsi saya, dia merajahkan tato ke 617 itu di siklus sebelumnya. Bisa jadi maksud Mak Dee adalah: siklus ini adalah siklus terakhir menurut rencana. Dengan kenyataan bahwa tato yang dibawa Kell adalah tato ke 618. Dan memang sudah diprediksi si Permata akan hadir lagi (dan mungkin hari pembebasan akan betulan terjadi).

Mungkin sih… hoho.

 

4. Hari pembebasan itu apa?

Hari pembebasan, di mana semua manusia sadar dari amnesianya, kembali ke bentuk utuh sebagai entitas tunggal, seperti pasir pantai sebelum disebar. Adalah ….

End of the world. Kiamat.

Ini pikiran terekstrim saya sejak baca IEP terakhir.

Mungkin lho.

Sejalan sama konsep simbol terakhir yang dirajahkan Kell kan? Simbol ke 618.

Itu kenapa mamak dee berhenti berkisah. Karena sampai tahap kiamat, kita nggak pernah tau. Itu pikiran liar saya sih. Bukan judging. Dan saya sebagai pembaca, nggak bisa sampai ke level “menyimpulkan”. Mak dee membiarkan kita buat terus bertanya. Cukup disimpan dan ditanyakan sama diri sendiri aja.

Hm… jadi keingat. Mungkin fungsi Kell yang akan terlihat jika kepepet itu maksudnya adalah “sebagai penyadar tentang akhir”.

Ada juga pendapat dari kawan Dio, begini: “Anyway, terbebas dari samsara itu bukan kiamat. Itu Dee jelas ambil konsep terbebas dari samsara dari konsep Buddhis dan Hindu. Coba dibaca dulu apa itu Moksha dalam Hindi dan Nibbana dalam Buddhisme biar lebih jelas.” Pendapat yang cerdas. Diskusi itu dasarnya untuk belajar bersama. Akan semakin banyak tahu jika saling melengkapi.

 

5. Belum tau kalau kenapa harus 64 portal…?

No idea. Mungkin berhubungan dengan “garis mawar”. Saya lupa pastinya sih. Di mana ada titik-titik tempat di bumi itu yg memiliki lambang mawar, yg berarti “perawan suci”. Kalau nggak salah, 64 jumlahnya (saya lupa ;_;) Mungkin juga Supernova lari ke arah sini. Hubungannya dengan “lingga dan yoni”, konsep peretas gerbang dan peretas kunci.

Soalnya konsep lingga dan yoni itu mirip banget sama peretas gerang dan kunci. Mungkin lho ya.

Ada juga kawan Rian yang berpendapat tentang I Ching Hexagram. Intinya berarti mungkin juga 64 itu artinya “infinity”, tidak terbatas. Nggak mungkin pernah ada kesimpulan dalam final life. Dengan fakta bahwa para peretas pun nggak tau di mana dan siapa saja 64 tempat lainnya.

 

Okay that’s all. Siapapun, apapun latar belakangnya, kita pada dasarnya hidup. Hidup akan terus belajar dan bertanya. Dan yang paling penting adalah: semakin kita tahu, semakin kita merasa tidak tahu. Jangan kebalik! Hehe.

0

Memori

Somewhere but earth is the place of peace, huh?

Jadi keingat cita-cita jadi astronot. Setelah lihat Stargate, jadi skeptik kalau manusia bisa hidup di planet lain tanpa tabung oksigen…

Lalu muncul “Supernatural” yg bikin kami berdua percaya jika saudara ditakdirkan untuk menjadi cenayang! Tetiba merasa punya indera keenam..

Lalu muncul “Heroes”. Bikin beranggapan kalau baca pikiran adalah kemampuan yang akan muncul seiring dengan bertambahnya usia…

Lebih dewasa, mulai membuka wawasan. Film itu proses. Hasilnya adalah dampak. Tapi semakin ke sini, imajinasi malah lebih nyata.

“Kok lebih enak jadi ini ya daripada ini.” Kacau balau. Dan akhirnya selalu nyaman tiap tenggelam ke dalam imajinasi sendiri…

Untung ada media penyaluran. Dan kami berdua. Jadi nggak susah buat tanya, diskusi. Ujungnya, malah kami mencipta dunia sendiri.

Nggak bakal bisa dipahami selain kami saja. Intinya: proses itu bertumbuh. Imajinasi menyertai.

*Tung*

Ngomong opo tekan opo. Hahaha.

Good night.

0

Kegelisahan untuk Bertanya

Kegelisahan di usia menjelang 23 yang terjadi pada setiap orang pasti berbeda. Yang saya alami, banyak pertanyaan yang sampai sekarang belum bisa saya temukan jawabannya, atau belum terjawab dengan sendirinya. Kadang pertanyaan simpel, seringnya pertanyaan njlimet. Kebanyakan soal apa yang terjadi di depan mata, lebih banyak lagi tentang apa yang belum terjadi (atau sebenarnya sudah tapi saya tidak menyadarinya).

Konon katanya, tidak banyak anak muda usia 23an ini yang mengalami krisis bertanya. Terlebih generasi saat ini, di mana tersedianya media penyaluran emosi yang berlimpah (let say medsos). Tapi saya mengalaminya. Krisis bertanya. Semua yang terasa ada yang salah, ada yang kurang, ada yang tidak tepat, ada yang mengganjal, selalu saya tanyakan. Lebih cenderung saya tanyakan pada diri sendiri daripada bertanya pada orang lain. Alasannya, karena dunia realitas itu relatif, serbatergantung, penuh probabilitas. Ada kalanya kecenderungan itu saya anggap sebagai berkah karena dengan adanya spirit terus bertanya membuat saya tidak mudah menerima pengaruh. Tapi sisi lain, banyak orang mengatakan saya skeptis garis keras. Sesungguhnya saya berusaha menerima atribut apapun dari sudut pandang manapun, beneran.

Hal yang sering menjadi pertanyaan, adalah mengenai hidup-mati, awal-akhir. Banyak yang mengusik pemikiran, seperti “bagaimana setelah kita berakhir?”, “apa yang akan terjadi jika akhir bukanlah ending mutlak?”, “saat sesuatu berawal, akan berakhir yang lainnya, tapi apakah sinkronitas itu terjadi secara nyata?”, “untuk apa manusia hidup?”, “apa fungsi saya di dunia?”, dsb.

Atau pertanyaan mengenai takdir-kesempatan. Seperti “apakah manusia lahir apa adanya, menerima, legowo?”, “bagaimana peran teori keturunan, garis keluarga, klan dalam takdir?”, “takdir itu apa?”, “kesempatan hadir atau kita cari?”, dsb. Sehingga kadang saya sulit menerima istilah “ini takdir dari Tuhan”. Karena manusia pada awalnya diciptakan sebagai utuh, lalu berkembang biak, beranak pinak menjadi individu. Seharusnya takdir bagi semua orang sama, kan, jika percaya dengan keabstrakan bernama takdir. Entahlah, masih terus saya tanya hingga sekarang.

Kembali lagi, banyak pertanyaan di otak saya yang hampir 23 ini. Tapi dalam menjawab, otak muda itu banyak distorsi. Emosi, gairah, keterlibatan, kepentingan, membuat banyak jawaban menjadi kacau, tercampur, atau bercabang. Terlebih di usia muda, tekanan dari sekitar adalah hal yang sulit dihindarkan. Tekanan dalam bentuk “sosialisasi”, atau “peran kita sebagai anak muda”. Dicap aneh, terlalu serius, strict, skeptik, adalah bagian dari kita yang terus bertanya. Meski dalam hati, saya yakin tidak sendirian. Mungkin suatu saat akan tiba waktu saya berkumpul, lalu menjawab semuanya bersama. Sekaligus saya sadar, tidak mungkin semua terjawab, meski sudah sampai ujungnya.

Di sini saya ingin mengatakan jika setiap orang punya kegelisahan masing-masing. Bagaimana bentuk kegelisahan itu, seperti apa medianya, bagaimana kita menyikapi, tergantung dari masing-masing individu. Yang jelas, sebelum saya temukan (sebelum hari itu datang), saya akan terus bertanya dan, tentunya bergerak.

-Menunggu para penjawab, atau… para pemberi petunjuk-

0

#Filosofi: Seruan

Although it won’t be noticed, I promise to keep on struggling! Someday, the day, it will come. Always do that everyday, do my passion. Yea, only passion. And believe, it just really close with “the top”.

Bekerja dalam hal yang disuka, lebih cenderung sulit mewujudkan. Karena keharusan dan impresi adalah mutlak, bagi sebagian orang.

Tuntutan? Bisa dibilang begitu. Tapi hasrat tidak bisa memungkiri. Mengaduk yang nyata dan yang fiksi.

Sekali lagi, karena kita hidup di bumi. Dan selama kita masih manusia. Sosialisasi, menjadi cangkang batas berekspresi. Ya, tuntut sana sini.

Sebenarnya karena manusia harus berhadapan dengan masa depan. Konyol karena masa depan itu ya hari ini. Tapi waktu dan ruang itu sinkron.

Bisa apa, selain “jalani saja”. Berusaha tetap percaya akhir itu awal dari yang lain, kata Dee.

Apakah saatnya akan tiba, masih jadi rahasia. Setidaknya untuk saat ini. Abstrak, lalu perlahan bangun untuk… lupa?

Setidaknya masih bisa terus bertanya. Menandakan bahwa saya masih ada.

(Seruan itu datang lagi)

0

Peletikan Emosi

Setelah baca interview Mak Dee di Rolling Stone Indonesia, ada banyak pletikan-pletikan emosi yang muncul.

1. Kegelisahan Mamak di usia 23 tahun tentang spiritualitas yang membuat beliau terus menerus bertanya. Sama banget sama diriku yang hampir23 tahun saat ini. Ada concern yang membuat saya nggak pernah puas sama jawaban-jawaban yang ada. Apa memang hakikat manusia usia 20-an memang begitu, nggak tahu juga.

2. Gaya menulis Mamak yang katanya berubah sesuai zaman. Bagi saya itu sama saja, tulisannya Dee unik dan baru.

3. Membuat pembaca untuk bertanya, menemukan jawaban masing-masing. Dan selamat Mak, tujuannya tersampaikan.

4. Akar (rencananya) dibuat film sama Angga Dwimas Sasongko, harus sinkron sama IEP. HARUS. Dan riset mendalam ya. Biar tidak terjadi kekecewaan massal sekali lagi. Karena Supernova itu cerita sakral yang nggak dipunya novel sejenis lainnya, adaptasi ke manapun harus jadi sesuatu yang sakral pula. Saya yakin Angga D. Sasongko bisa meramu Akar menjadi obat bagi kecewanya kita-kita (you know).

5. Tokoh favorit Mamak: Toni dan Alfa. Alfa saya suka, Toni Anggi suka. Sama lagi. Ohoho.

6. Ada sedikit kecewa di film KPBJ (tersirat). Sama. Lagi. Ohoho. Karena kualitas film adaptasi itu bukan hanya pada sinematografi atau pemilihan karakter yang tampan dan catik. Tidak bisa dipungkiri jika “pemenuhan ekspektasi penulis dan pembaca” menjadi satu hal yang harus dipertimbangkan. Meskipun saya sadar banyak faktor yang membuat adaptasi novel ke film kadang tidak sesempurna kelihatannya. Namun setidaknya, suara penulis dan pembaca itu juga merupakan pertimbangan. Terutama karya kompleks yang sudah “melegenda”.

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/03/08/140506633/22/dee-lestari?src=intv

2

Review Supernova Inteligensi Embun Pagi [2]

Bagian II ini adalah pertanyaan–beberapa juga merupakan dugaan, atau beberapanya lagi adalah kesimpulan pemikiran pribadi saya–yang tercetus setelah menuntaskan Supernova IEP. Akan seru jika dibuat prekuelnya! Silakan dikoreksi dan ditambah untuk bahan diskusi karena saya juga menebak berdasar pemikiran dangkal saya sebagai anak-anak. Hoho. :3

1. Firas ngapain aja selama 12 tahun ini dan kenapa dia dipanggil “Bumi” setelah terlahir kembali?

– Ada rencana dalam gugus Kandara yang terlanjur rusak. Seperti yang dijelaskan dalam IEP, Bintang Jatuh memiliki rencana untuk mempercepat penyadaran yang kemudian malah menghancurkan Kandara. Menurut saya, Murai (Firas) memilih “mati dengan cara sendiri” daripada dikonversi menjadi Sarvara. Yang sayangnya di bagian akhir diperlihatkan bahwa ia terlahir kembali menjadi Bumi yang merupakan hasil konversi oleh para Sarvara (ditambah fakta bahwa seorang Sarvara menganggapnya sebagai ‘anak`). Dan I think it will be awesome if Dee makes new project based on this fact! ><

2. Hari Pembebasan itu apa?

– Hari di mana Permata-Permata turun ke bumi dan mengaktifkan 64 portal di seluruh dunia. Ya, itu secara konsep. Secara operasional, entah bagaimana bentuk dan caranya. Apakah hari itu adalah “hari di mana manusia kembali dari amnesianya dan tersadar bahwa mereka adalah entitas tunggal, satu kesatuan, bukan wujud manusia individual seperti yang saat ini terlihat, di saat kutub magnet bumi saling bergeser lalu bersinggungan yang menyebabkan kompleksitas kesadaran ingatan per individu” atau bahasa singkatnya “kiamat”. Entahlah. Hanya Dee dan Tuhan (yang manapun) yang tahu.

3. Bong (Candra) bertemu Ferre (Ksatria) setelah ia mendapat batu something dari Ishtar (Sarvara terkuat), kenapa?

– Menurut pendapat saya secara awam, para Peretas gugus Kandara ini sebetulnya sudah merencanakan kehancuran Kandara dan ingin berbuat sesuatu sebelum Permata turun ke bumi. Belum ketahuan dari otak muda saya ini apakah sesuatu itu akan membantu aktivasi portal atau justru sebaliknya. Yang pasti, Bulan berusaha menyadarkan kawan segugusnya dari amnesia. Mungkin setelah ini dia akan datang ke Puteri dan …. Bumi….?

4. Kenapa Bong tidak melakukan apa-apa padahal ia sadar?

Itu tadi. Ia sudah punya rencana dengan kawan segugusnya yang sudah ia susun sebelum siklus ini. Ia menunggu saat gugus Asko “cacat” dengan matinya Peretas Mimpi, Gelombang, yang juga pemimpin sekaligus pembangun Asko. Tapi… Foniks menggantikan Gelombang, sehingga Kandara kehilangan Foniks dan Murai. Tapi sekali lagi… ada Bumi…?

5. Dimas dan Reuben menyimpan sesuatu?

– Sangat menarik menyadari kenyataan di mana Dimas, Bong, dan Mpret (Toni) bersaudara. Menilik kemungkinan jika Mpret (si Foniks) adalah “Permata” dari gugus Kandara–karena ia yang termuda dan muncul paling akhir–yang mengindikasikan Foniks akan “lahir” dari sesuatu (yang berarti orang tua Toni si Foniks adalah seorang Peretas Gerbang dan Peretas Kunci seperti halnya di gugus Asko) sehingga kemungkinan besar keluarga Prayitno (notabene Dimas adalah salah satunya) merupakan bagian dari rencana terakhir dari sesuatu. Janggal rasanya jika Dimas–dan Reuben–hanya muncul sebagai penyampai pesan Supernova I ke Supernova II–Diva menyadarkan Kstaria melalui Supernova…? Atau Diva sebenarnya ingin menyadarkan Foniks…? Lewat Dimas dan Reuben…? Rasanya harus ada hal lain yang tahu-tahu membawa Dimas dan Reuben ke kenyataan jika mereka adalah bagian dari rencana gugus Kandara!! >< (spekulasi itu asyik dan bebas hoho). Intinya, apakah benar fungsi Supernova hanya sebagai jaring penghubung antar Peretas dari gugus Kandara? Atau sebenarnya Bintang Jatuh merekrut anggota lain untuk persiapan sesuatu?

6. Spekulasi saya dari ini semua, Gelombang akan terlahir lagi bersamaan dengan lahirnya Permata. Akan terjadi semacam pemberontakan di Hari Pembebasan. Dalam kenyataan jika Peretas Mimpi a.k.a Gelombang harus berpartisipasi secara sadar untuk mengaktifkan portal, kemungkinan Gelombang akan menjadi “rebutan” bagi si pembuat rencana. Tapi jangan lupa, Sarvara masih terus mengendus para Peretas dan mencoba menggagalkan meski sebenarnya semua berjalan sesuai rencana (ah saya suka bagian ini).

Bagaimanapun, semua berada di tangan pencipta, Mamak Dee. Secanggih apapun dugaan seseorang mengenai “misi” sebenarnya seri Supernova, tetap tidak bisa membaca pikiran si pengarang. Yang pasti Mamak Dee sudah menegaskan jika IEP adalah seri terakhir Supernova (tapi kata Mamak Dee, akhir adalah awal yang lain lhoooo haha). Tidak menutup kemungkianan akan ada serial lain yang serupa atau malah bagian di dalamnya. Mengingat ada kode keras dari Mamak Dee saat datangnya Bong ke Ferre atau lahirnya si Bumi.

Bagaimanapun Supernova adalah serial yang ikut mendewasakan saya. Cara berpikir yang di atas normal membuat saya ikut terus menerus bertanya. Terimakasih Mamak Suri Dee Lestari yang dengan apik merangkai serial cerdas selama 15 tahun.

-Saya yang sampai sekarang masih ngekek karena “Bulik Brewok”, “dkk”, dan “Di surga ketemu Tuhan yang mana”-

0

Review Supernova Inteligensi Embun Pagi [1]

Perkenalan pertama saya dengan Supernova adalah pada tahun 2007, saat saya masih SMP. Seri kedua, Akar, adalah buku pertama yang saya baca. Karena nggak ngerti, saya melepas seri itu. Mulai tahun 2012, saya berkenalan lagi dengan Supernova. Hal pertama yang saya katakan saat membaca ulang adalah: “ini yang saya cari!”. Dengan pemikiran Dee yang “sejalan” dengan saya, dan konsep-konsep yang ia berikan yang berdasar. Tidak omdo.

Hingga seperti kalap, saya tuntaskan seri Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh; Akar; Petir; dan Partikel yang saat itu baru rilis, sekaligus. Lalu Gelombang di tahun 2014. Hal yang membuat saya jatuh hati dengan seri Supernova adalah kelihaian Dee dalam memainkan emosi dan karakter yang banyak di dalamnya. Peleburan kepercayaan dan keilmuan menambah cerdas novel ini.

Lahirlah seri terkhir Supernova, Intelegensi Embun Pagi (IEP) pada 26 Februari 2016 lalu. Episode terakhir ini–yang katanya sudah direncanakan Dee sejak draft awal Supernova KPBJ–sangat ditunggu fans Supernova karena konon menguak semua misteri yang hadir di setiap serinya.

Di bawah ini adalah review sehingga mungkin tulisan setelah ini hanya akan dipahami pembaca Supernova. Dan spoiler warned!

Dalam IEP, semua karakter utama dipertemukan. Saling “terbangun” dengan identitas baru mereka sebagai “Peretas”, si penjaga portal menuju gugus Asko. Peretas yang terbangun ini tersadar akan misi mereka yaitu secara sadar membawa Peretas Gerbang (Partikel) dan Peretas Kunci (Kabut) untuk membawa turun Permata, pada Hari Terobosan. Permata inilah yang nantinya akan terlahir pada Hari Pembebasan. Entah apa Hari Pembebasan itu, saya berspekulasi di bawah.

Banyak hal yang mengejutkan bagi pembaca Supernova. Karena muncul banyak tokoh lama yang ternyata adalah bagian dari “rencana”. Kenyataan bahwa ada peretas lain seperti Kabut dan Peretas dari gugus lain seperti Ksatria, Puteri, Bintang Jatuh, Murai, Bulan, dan Foniks menambah rumit tujuan akhir para peretas ini. Intinya (akan terlalu panjang jika saya rangkum semua) adalah ada 64 portal di seluruh dunia yang sedang mempersiapkan lahirnya Permata melalui penyadaran diri mereka–baik lewat diri sendiri ataupun Infiltran. Dan para peretas ini menjalankan fungsi masing-masing untuk proses penyadaran itu. Hal yang betul-betul membuat saya tertarik adalah konsep hiperentitas dan kesadaran tunggal yang berdampak dari bergesernya kutub magnet bumi, yang dituangkan Dee dalam IEP ini, yang menjadi bagian dari jalan utama cerita besar.

Konsep Peretas sebagai agen “penyadar” agar semua manusia segera bangun dan lepas dari Samsara (konsep reinkarnasi dalam kepercayaan Budha), Infiltran sebagai agen “pembebas” para Peretas di mana mereka hanya menjalankan apa yang menjadi rencana Peretas di kehidupan sebelumnya, dan Sarvara yang diistilahkan sebagai “anjing penjaga” untuk menjaga bumi berputar apa adanya, menjadi inti besar perjalanan seri Supernova yang dijabarkan dalam IEP. Dan berikut ini adalah beberapa pertanyaan saya yang belum terjawab dan saya berusaha menajawab sendiri (pingin tanya langsung ke Mamak Suri tapi gimana caranya).

Bersambung ke Part II.